Konten dari Pengguna

Guru Perlu Memahami Kebutuhan Emosional Siswa di Kelas

Aida Nur Himayati

Aida Nur Himayati

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto: Diambil ketika observasi di SDN SUDIMARA 6
zoom-in-whitePerbesar
foto: Diambil ketika observasi di SDN SUDIMARA 6

Sekolah sering dianggap cuma tempat belajar, ngejar nilai, dan dapetin ranking. Padahal, dunia pendidikan nggak sesempit itu. Banyak siswa yang sebenarnya pintar, tapi gagal berkembang karena kondisi emosinya nggak diperhatikan.

Bayangin aja, anak yang lagi stres atau bawa masalah dari rumah pasti susah buat fokus di kelas. Bukannya nggak bisa belajar, tapi pikirannya sudah penuh duluan. Kalau guru langsung menilai “malas” atau “nakal”, jelas itu nggak adil.

Di sinilah peran guru jadi penting. Guru nggak hanya tugasnya ngajar materi, tapi juga jadi sosok yang bisa bikin anak nyaman. Hal kecil seperti senyum, sapaan, atau sekadar nanya “kamu baik-baik aja?” bisa bikin siswa merasa diperhatikan. Dari perhatian sederhana ini, semangat belajar bisa muncul.

Faktanya, banyak anak yang tampak ogah-ogahan di kelas, ternyata bukan karena bodoh. Bisa jadi mereka lagi tertekan sama tugas, takut sama nilai jelek, atau malah lagi ada masalah pribadi. Kalau guru peka, mereka bisa langsung paham dan bantu siswa lebih tenang. Anak pun jadi merasa nggak sendirian.

Selain itu, suasana kelas juga punya pengaruh besar. Kelas yang tegang, penuh aturan kaku, dan bikin anak takut salah biasanya bikin siswa makin nggak betah. Tapi kalau guru bikin kelas lebih ramah, santai tapi tetap terarah, anak-anak jadi lebih berani ngomong, bertanya, bahkan salah pun mereka nggak takut. Dari situ proses belajar bisa lebih hidup.

Jangan lupa, apresiasi kecil bisa jadi hal besar buat siswa. Pujian sederhana kayak “bagus banget”, “pintar kamu”, atau “hebat, teruskan ya” kadang bikin anak lebih semangat daripada hadiah besar. Itu karena mereka merasa dihargai. Perasaan positif ini bikin mereka lebih percaya diri menghadapi pelajaran.

Pendidikan sejatinya bukan cuma soal otak, tapi juga hati. Anak-anak yang merasa tenang, dihargai, dan didukung emosinya akan lebih siap menerima pelajaran. Mereka bukan cuma jadi pintar, tapi juga tumbuh jadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan punya karakter baik.

Kalau guru bisa melihat sisi ini, pendidikan di sekolah bukan cuma melahirkan anak berprestasi di atas kertas, tapi juga melahirkan generasi yang kuat menghadapi tantangan hidup. Dan itu jauh lebih penting daripada sekadar angka di rapor.

Sekian,Terimakasih semoga berita yang kelompok kami tulis bisa menginspirasi kita semua.

(Aida Nur Himayati,Syafira Aurel Azalia,Zaskia Pebriyanti)