Krisis Keberanian Bertanya di Kalangan Generasi Muda

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya masih ingat satu pengalaman di kelas yang menurut saya sederhana, tetapi cukup membuka cara pandang saya tentang budaya belajar di lingkungan akademik.
Saat itu, ada teman yang sedang melakukan presentasi di depan kelas. Materinya sebenarnya cukup menarik, dan awalnya suasana berjalan normal seperti biasa: ada yang memperhatikan, ada yang hanya mendengarkan sambil menunggu waktu selesai, dan ada juga yang terlihat sekadar “menggugurkan kewajiban hadir”.
Namun yang paling saya perhatikan justru terjadi saat sesi tanya jawab dibuka. Dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi sangat hening. Tidak ada yang langsung bertanya. Beberapa detik terasa lama, seolah-olah semua orang menunggu orang lain yang memulai.
Karena ada beberapa bagian materi yang belum saya pahami, saya akhirnya mengangkat tangan dan bertanya. Pertanyaan saya sebenarnya masih dalam konteks materi yang disampaikan, bukan di luar topik.
Namun respons yang saya dapatkan cukup mengganggu. Bukan dari dosen atau pemateri, tetapi dari lingkungan sekitar. Ada yang melirik, ada yang berbisik, dan saya bahkan mendengar komentar seperti, “kebanyakan nanya, nanti nggak selesai-selesai,” atau “udah lah, jangan dipanjangin.”
Dari situ saya mulai berpikir: sejak kapan bertanya dianggap mengganggu?
Bertanya yang Mulai Kehilangan Tempat
Dalam teori pendidikan, kelas seharusnya menjadi ruang diskusi. Presentasi bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga menguji pemahaman melalui pertanyaan dan tanggapan.
Namun dalam praktik yang saya alami, ada pergeseran nilai yang cukup jelas. Banyak mahasiswa atau pelajar yang lebih mengutamakan “cepat selesai” dibandingkan “benar-benar paham”.
Sesi tanya jawab yang seharusnya menjadi inti proses belajar justru sering dianggap sebagai gangguan. Bahkan, pertanyaan kadang dipersepsikan sebagai sesuatu yang memperlama waktu atau menghambat kegiatan berikutnya.
Menurut saya, ini menunjukkan adanya masalah dalam cara kita memaknai proses belajar itu sendiri. Kita terlalu fokus pada hasil akhir—nilai, kehadiran, atau formalitas—tanpa benar-benar memperhatikan kualitas pemahaman.
Budaya Diam dan Tekanan Sosial di Kelas
Hal lain yang menurut saya tidak kalah penting adalah adanya tekanan sosial di dalam kelas.
Tidak semua orang berani bertanya. Bukan karena tidak ingin tahu, tetapi karena takut dinilai. Takut dianggap “terlalu aktif”, takut dicap “sok pintar”, atau takut mengganggu teman lain yang ingin cepat selesai.
Pengalaman yang saya alami sendiri membuat saya menyadari bahwa tekanan ini nyata. Bahkan ketika pertanyaan saya masih relevan, respons lingkungan membuat suasana terasa tidak nyaman.
Akibatnya, banyak orang akhirnya memilih diam. Bukan karena sudah paham, tetapi karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Lama-kelamaan, ini membentuk budaya baru: yang aktif bertanya dianggap berbeda, sementara yang diam dianggap “normal”.
Masalah yang Lebih Besar dari Sekadar Kelas
Jika dilihat lebih dalam, masalah ini bukan hanya soal kelas atau presentasi. Ini soal pola pikir.
Generasi muda yang terbiasa diam di ruang belajar berpotensi membawa kebiasaan itu ke ruang yang lebih besar: dunia kerja, organisasi, bahkan kehidupan sosial.
Padahal, di dunia nyata, kemampuan bertanya adalah bagian penting dari berpikir kritis. Orang yang berani bertanya biasanya lebih cepat memahami masalah, lebih terbuka terhadap sudut pandang lain, dan lebih mampu mencari solusi.
Sebaliknya, jika kita terbiasa menahan pertanyaan hanya karena takut dinilai, maka kita juga sedang membatasi kemampuan berpikir kita sendiri.
Mengapa Budaya Ini Terjadi?
Menurut saya, ada beberapa faktor yang membuat budaya ini muncul.
Pertama, orientasi belajar yang terlalu berfokus pada formalitas. Banyak dari kita yang masih melihat kelas sebagai kewajiban, bukan ruang eksplorasi.
Kedua, kurangnya apresiasi terhadap proses diskusi. Pertanyaan sering tidak dianggap sebagai bagian penting dari pembelajaran, padahal justru di situlah pemahaman diuji.
Ketiga, faktor lingkungan sosial. Tekanan teman sebaya sering kali lebih kuat daripada rasa ingin tahu itu sendiri.
Ketiga hal ini saling berkaitan dan akhirnya menciptakan lingkungan belajar yang pasif.
Perubahan Harus Dimulai dari Cara Pandang
Menurut saya pribadi, perubahan paling penting bukan dimulai dari sistem terlebih dahulu, tetapi dari cara kita memandang bertanya.
Bertanya bukan tanda kurang pintar. Justru sebaliknya, bertanya adalah tanda bahwa seseorang sedang berpikir.
Kita perlu mulai membiasakan diri untuk tidak mengaitkan pertanyaan dengan penilaian sosial. Tidak semua hal harus dipikirkan “bagaimana orang lain melihat saya”, tetapi lebih ke “apakah saya benar-benar memahami ini atau tidak”.
Selain itu, lingkungan kelas juga harus mulai berubah. Teman-teman seharusnya bisa lebih menghargai proses diskusi, bukan hanya hasil akhir berupa cepat selesai.
Peran dosen atau pengajar juga penting. Ruang diskusi harus dibuat lebih terbuka, dan pertanyaan harus dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan gangguan.
Dari pengalaman yang saya alami sendiri, saya belajar bahwa diam tidak selalu berarti paham. Dan cepat selesai tidak selalu berarti efektif.
Justru dalam proses bertanya, kita sedang melatih cara berpikir, bukan hanya menerima informasi.
Kalau budaya “cepat selesai yang penting” terus dibiarkan, maka kita berisiko melahirkan generasi yang pintar secara teori, tetapi ragu untuk berpikir kritis.
Menurut saya, sudah saatnya kita mengubah cara pandang ini. Bertanya harus kembali menjadi hal yang wajar, bukan sesuatu yang membuat seseorang merasa salah tempat.
Karena pada akhirnya, kualitas belajar tidak ditentukan oleh seberapa cepat kelas selesai, tetapi oleh seberapa dalam kita memahami apa yang kita pelajari.
