Konten dari Pengguna

Perjalanan Saya Merintis Les Privat di Tengah Kesibukan Kuliah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar diambil dari foto pribadi ketika penelitian di  sekolah dasar
zoom-in-whitePerbesar
Gambar diambil dari foto pribadi ketika penelitian di sekolah dasar

Berawal dari Cita-Cita Kecil di Semester Satu

Sejak semester satu, saya memiliki keinginan untuk menjadi pengajar les privat. Bagi saya, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran kepada anak-anak, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membantu mereka memahami sesuatu, membangun kepercayaan diri, dan berkembang melalui proses belajar.

Saat itu, saya belum mengetahui kapan keinginan tersebut akan terwujud. Saya hanya menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti saya bisa memiliki kesempatan untuk mengajar secara mandiri, meskipun masih berstatus sebagai mahasiswa.

Ternyata, perjalanan menuju keinginan tersebut tidak berlangsung secepat yang saya bayangkan. Saya baru mendapatkan kesempatan mengajar les privat ketika memasuki semester lima. Namun, dari pengalaman ini saya belajar bahwa sesuatu yang kita harapkan tidak selalu datang sesuai waktu yang kita tentukan.

Kesempatan pertama saya berawal dari satu murid, yaitu anak dari Wakil Rektor III Universitas Pamulang. Dari satu kesempatan tersebut, perjalanan saya sebagai pengajar mulai berkembang.

Saya tidak pernah menyangka bahwa sesuatu yang awalnya hanya menjadi cita-cita sederhana sejak semester satu perlahan-lahan dapat menjadi kegiatan yang memberikan banyak pengalaman, pelajaran, dan rezeki bagi saya.

Bagi saya, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa terkadang kita hanya perlu terus mempersiapkan diri, menjalani proses, dan berusaha sebaik mungkin. Kita tidak selalu mengetahui kapan kesempatan akan datang, tetapi kita bisa berusaha agar siap ketika kesempatan tersebut hadir.

Dari Satu Murid, Tumbuh Kepercayaan dan Tanggung Jawab

Pada awalnya, saya hanya mengajar satu murid. Saya menjalani proses tersebut dengan berusaha memberikan pendampingan belajar yang baik dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak.

Seiring berjalannya waktu, kesempatan mengajar semakin berkembang. Jumlah murid yang saya dampingi bertambah hingga saya harus mengatur jadwal dengan lebih terstruktur. Dari perjalanan tersebut, saya juga mendapatkan kesempatan untuk memiliki rekan atau anggota tim yang membantu proses mengajar.

Perkembangan ini menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Saya menyadari bahwa mengajar bukan hanya tentang kemampuan memahami materi pelajaran, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola waktu.

Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, seorang pengajar perlu terus belajar menyesuaikan pendekatan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

Ketika jumlah murid bertambah, tanggung jawab yang saya miliki pun ikut berkembang. Saya tidak lagi hanya memikirkan bagaimana menjalankan jadwal mengajar sendiri, tetapi juga bagaimana mengatur kegiatan agar tetap berjalan dengan baik bersama rekan yang membantu.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kesempatan yang berkembang perlu diiringi dengan kesiapan untuk bertanggung jawab. Bersyukur atas bertambahnya murid juga berarti berusaha menjaga kualitas pembelajaran dan kepercayaan yang telah diberikan.

Semester Lima, Waktu Ketika Harapan Mulai Terwujud

Ada hal yang membuat perjalanan ini terasa istimewa bagi saya. Sejak semester satu, saya sudah memiliki keinginan untuk mengajar les privat, tetapi kesempatan tersebut baru datang pada semester lima.

Jika dipikirkan kembali, saya merasa sangat bersyukur. Kesempatan yang dahulu hanya saya bayangkan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, perkembangannya melampaui apa yang awalnya saya perkirakan.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih awal, sementara ada pula yang harus menunggu dan melewati berbagai proses sebelum akhirnya memperoleh kesempatan yang diharapkan.

Pengalaman saya mengajarkan bahwa menunggu bukan berarti berhenti berusaha. Selama menunggu, kita tetap bisa belajar, memperbaiki kemampuan, dan menjalankan tanggung jawab yang ada di hadapan kita.

Ketika kesempatan itu akhirnya datang, saya berusaha menjalaninya dengan rasa syukur sekaligus kesadaran bahwa setiap rezeki membawa tanggung jawab.

Bagi saya, semester lima bukan hanya tentang bertambahnya kesibukan perkuliahan. Semester ini juga menjadi salah satu fase ketika keinginan lama mulai terwujud melalui kesempatan mengajar yang semakin berkembang.

Di Tengah Kesibukan, Kuliah Tetap Menjadi Prioritas

Menjadi mahasiswa sekaligus pengajar les privat tentu membutuhkan pengelolaan waktu yang baik. Ada jadwal perkuliahan yang harus diikuti, tugas yang harus diselesaikan, murid yang harus didampingi, dan berbagai tanggung jawab lain yang tidak bisa diabaikan.

Saya menyadari bahwa bertambahnya aktivitas tidak boleh membuat saya melupakan tujuan utama sebagai mahasiswa. Karena itu, saya berusaha mengatur waktu agar kegiatan mengajar tidak mengganggu perkuliahan dan penyelesaian tugas akademik.

Bagi saya, mengelola waktu bukan berarti setiap hari harus berjalan sempurna tanpa kendala. Ada kalanya rasa lelah muncul, ada pekerjaan yang perlu diselesaikan lebih awal, dan ada jadwal yang harus diatur kembali.

Namun, saya berusaha membiasakan diri untuk mengetahui apa yang perlu dikerjakan, menentukan prioritas, serta menggunakan waktu dengan sebaik mungkin.

Saya juga belajar bahwa produktif bukan berarti harus mengisi seluruh waktu dengan pekerjaan. Produktivitas justru membutuhkan kemampuan untuk memahami batas diri, menyusun jadwal secara realistis, dan menjaga agar setiap tanggung jawab mendapatkan perhatian yang sesuai.

Perkuliahan tetap menjadi prioritas saya. Kesempatan mengajar adalah sesuatu yang saya syukuri, tetapi pendidikan juga merupakan amanah yang harus saya jalani dengan sungguh-sungguh.

Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa kesibukan tidak harus menjadi alasan untuk mengabaikan pendidikan. Dengan perencanaan yang baik, saya berusaha agar keduanya dapat berjalan berdampingan.

Beasiswa, Amanah, dan Kesempatan untuk Terus Bertumbuh

Selain menjalani perkuliahan dan mengajar les privat, saya juga memiliki perjalanan tersendiri dalam bidang pendidikan melalui beasiswa.

Pada semester tiga, saya pernah mendapatkan beasiswa yang hanya diberikan satu kali. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang saya syukuri karena memberikan dukungan dalam perjalanan pendidikan saya.

Kemudian, ketika memasuki semester lima, saya kembali mendapatkan kesempatan beasiswa penuh sampai lulus. Bagi saya, hal ini menjadi kabar yang sangat membahagiakan dan memberikan semangat baru untuk terus menjalani pendidikan dengan sungguh-sungguh.

Namun, beasiswa bukan hanya tentang bantuan yang diterima. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk memenuhi ketentuan, menjalankan kegiatan wajib, dan menjaga komitmen terhadap pendidikan.

Di tengah aktivitas mengajar, saya tetap berusaha memenuhi tanggung jawab tersebut. Saya juga menjalani kegiatan lain, termasuk menjadi asisten penelitian dosen.

Berbagai kesempatan ini membuat jadwal saya semakin padat. Meski demikian, saya berusaha melihat setiap kesempatan sebagai ruang untuk belajar dan mengembangkan diri.

Saya bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk belajar di ruang akademik sekaligus memperoleh pengalaman di luar perkuliahan. Menjadi pengajar membantu saya belajar tentang pendidikan secara langsung, sedangkan menjadi asisten penelitian memberikan kesempatan untuk mengenal proses akademik dari sisi yang berbeda.

Bagi saya, semua pengalaman tersebut memiliki nilai masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana saya menjalankannya dengan tanggung jawab tanpa melupakan tujuan pendidikan yang sedang saya tempuh.

Lelah Itu Ada, tetapi Saya Menjalani Pilihan Sendiri

Tidak dapat dimungkiri bahwa menjalani beberapa tanggung jawab sekaligus terkadang terasa melelahkan. Ada waktu ketika saya harus membagi perhatian antara tugas kuliah, jadwal mengajar, kegiatan beasiswa, dan tanggung jawab sebagai asisten penelitian dosen.

Namun, ketika rasa lelah datang, saya berusaha mengingat kembali alasan saya memulai semua ini.

Saya sendiri yang dahulu memiliki keinginan untuk mengajar les privat. Saya juga yang ingin terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan memanfaatkan kesempatan yang datang dengan sebaik mungkin.

Karena itu, saya tidak ingin memandang kesibukan ini hanya sebagai beban. Saya berusaha melihatnya sebagai bagian dari proses yang saya pilih dan jalani dengan kesadaran.

Tentu saja, hal tersebut bukan berarti saya harus selalu memaksakan diri atau mengabaikan waktu istirahat. Saya justru belajar bahwa tanggung jawab perlu disertai pengelolaan waktu yang sehat agar setiap kegiatan dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Saya tidak ingin hanya terlihat sibuk. Saya ingin setiap kegiatan yang saya jalani benar-benar memberikan manfaat, baik bagi pendidikan saya sendiri maupun bagi orang lain.

Mengajar anak-anak, menyelesaikan tugas perkuliahan, menjalankan kewajiban beasiswa, dan membantu penelitian dosen merupakan tanggung jawab yang berbeda. Semuanya membutuhkan perhatian, sehingga saya berusaha mengaturnya satu per satu sesuai prioritas.

Bagi saya, proses ini mengajarkan kedewasaan. Saya belajar bahwa mewujudkan keinginan tidak hanya membutuhkan semangat pada awal perjalanan, tetapi juga konsistensi ketika prosesnya mulai terasa berat.

Belajar Menghargai Setiap Rezeki yang Datang

Ketika melihat perjalanan dari semester satu hingga semester lima, saya merasa banyak hal yang patut disyukuri.

Keinginan untuk mengajar les privat yang dahulu hanya saya simpan dalam pikiran kini telah menjadi bagian dari keseharian saya. Dari satu murid, kesempatan mengajar berkembang hingga saya dapat mendampingi lebih banyak anak dan memiliki rekan yang membantu proses pembelajaran.

Pada saat yang sama, saya juga mendapatkan kesempatan beasiswa penuh sampai lulus, menjalani kegiatan beasiswa, dan menjadi asisten penelitian dosen.

Saya tidak menganggap semua pencapaian ini semata-mata sebagai hasil usaha pribadi. Saya percaya bahwa usaha perlu disertai doa, dan setiap kesempatan yang datang patut disambut dengan rasa syukur.

Bagi saya, rezeki tidak selalu hadir dalam bentuk materi. Kesempatan belajar, kepercayaan orang lain, pengalaman baru, pertemuan dengan orang-orang baik, serta kemampuan untuk terus bertumbuh juga merupakan hal yang sangat berharga.

Saya belajar untuk tidak hanya berfokus pada apa yang belum saya miliki, tetapi juga menghargai kesempatan yang sudah hadir dalam kehidupan saya.

Rasa syukur tersebut bukan berarti saya berhenti berusaha. Justru saya ingin menjadikannya sebagai alasan untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas mengajar, menyelesaikan pendidikan dengan baik, dan menjalankan setiap tanggung jawab secara sungguh-sungguh.

Setiap Orang Memiliki Waktu dan Jalannya Sendiri

Dari pengalaman ini, saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda dalam mencapai cita-citanya.

Ada keinginan yang dapat terwujud dengan cepat, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Kita mungkin sudah menyusun rencana sejak awal, tetapi kenyataan terkadang membawa kita melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Saya merencanakan keinginan untuk mengajar sejak semester satu, tetapi kesempatan itu baru datang pada semester lima. Ketika kesempatan tersebut hadir, ternyata tanggung jawab yang menyertainya juga berkembang lebih besar daripada yang saya perkirakan.

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk tetap berusaha tanpa harus memaksakan semua hal terjadi sesuai waktu yang saya inginkan.

Saya juga belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat kita mencapai tujuan, melainkan bagaimana kita menjalani proses, menjaga tanggung jawab, dan menghargai kesempatan yang datang.

Setiap orang memiliki keadaan, tantangan, dan waktu yang berbeda. Karena itu, membandingkan perjalanan diri dengan orang lain sering kali membuat kita lupa melihat perkembangan yang sudah kita capai sendiri.

Saya ingin terus belajar menikmati proses, memperbaiki kekurangan, dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik mungkin. Saya tidak mengetahui bagaimana perjalanan selanjutnya akan berlangsung, tetapi saya ingin menjalaninya dengan usaha, doa, dan rasa syukur.

Terima Kasia sekh, Ya Allah, atas Setiap KesempatanPada akhirnya, perjalanan saya sebagai mahasiswaligus pengajar les privat menjadi pengalaman yang sangat berarti. Dari satu murid, saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar lebih banyak anak. Dari keinginan yang tumbuh sejak semester satu, saya mulai merasakan hasilnya ketika memasuki semester lima.

Di tengah perjalanan tersebut, saya juga mendapatkan beasiswa penuh sampai lulus, kesempatan menjadi asisten penelitian dosen, dan berbagai tanggung jawab lain yang membantu saya terus belajar.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini belum selesai. Masih ada pendidikan yang harus dituntaskan, tanggung jawab yang harus dijalankan, dan kemampuan yang perlu terus dikembangkan.

Namun, untuk setiap kesempatan yang telah diberikan, saya ingin belajar untuk tidak melupakan rasa syukur.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas rezeki, kesempatan, kepercayaan, dan jalan yang telah Engkau bukakan. Terima kasih karena keinginan yang dahulu saya panjatkan sejak semester satu perlahan menemukan jalannya pada waktu yang tidak saya sangka.

Semoga saya dapat menjaga setiap amanah dengan baik, tetap rendah hati ketika memperoleh kesempatan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar cerita tentang menjadi mahasiswa yang sibuk atau memiliki banyak kegiatan. Ini adalah cerita tentang sebuah keinginan yang diperjuangkan, kesempatan yang disyukuri, dan proses belajar untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.

Saya percaya, ketika usaha terus dilakukan, doa tetap dipanjatkan, dan setiap kesempatan dijalani dengan penuh tanggung jawab, selalu ada pelajaran berharga yang dapat kita bawa dalam perjalanan hidup.