Konten dari Pengguna

Prestasi Penting, Tapi Kesehatan Mental Siswa Jauh Lebih Utama

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi saat lomba pada diesnatalis PGSD ke 3
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi saat lomba pada diesnatalis PGSD ke 3

Dalam dunia pendidikan, prestasi sering dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan seorang siswa. Nilai rapor yang tinggi, peringkat kelas, hingga kesempatan masuk sekolah atau perguruan tinggi favorit kerap dijadikan tujuan utama. Orang tua berharap anak mereka bisa meraih hasil terbaik, sementara guru pun mendorong siswa untuk terus meningkatkan capaian akademiknya. Namun, di balik semangat mengejar prestasi ini, ada sisi lain yang sering terlupakan, yaitu kesehatan mental siswa.

Tekanan akademik yang berlebihan justru bisa menjadi beban berat. Kondisi inilah yang dikenal sebagai stres akademik, yang dapat muncul dari berbagai faktor. Tugas sekolah yang menumpuk, ujian yang datang silih berganti, hingga persaingan dengan teman sebaya sering kali membuat siswa kewalahan. Belum lagi ekspektasi orang tua yang menginginkan nilai sempurna menambah lapisan tekanan baru. Akibatnya, banyak siswa merasa cemas, sulit tidur, kehilangan motivasi, bahkan ada yang menarik diri dari lingkungan sosial. Tidak jarang pula stres tersebut berdampak pada fisik, seperti sakit kepala, kelelahan, hingga turunnya daya tahan tubuh.

Jika dibiarkan, stres akademik dapat memberi dampak jangka panjang. Siswa bisa kehilangan rasa percaya diri, mengalami kecemasan berlebih, hingga rentan mengalami depresi. Padahal, siswa yang sehat secara emosional justru lebih mudah belajar, lebih fokus, dan lebih siap menghadapi tantangan akademik. Dengan kata lain, kesehatan mental bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama bagi keberhasilan belajar.

“Prestasi memang penting, tapi kesehatan mental adalah kunci utama untuk mencapainya.”

Untuk itu, penting bagi siswa, guru, maupun orang tua untuk menjaga keseimbangan. Siswa perlu belajar mengatur jadwal belajar agar tidak menumpuk di akhir, beristirahat cukup, menjaga pola makan sehat, dan tetap aktif berolahraga. Selain itu, meluangkan waktu untuk bersosialisasi serta berani berbagi cerita ketika merasa tertekan juga menjadi langkah sederhana yang sangat membantu. Dukungan emosional dari orang tua dan guru pun tidak kalah penting. Memberikan apresiasi pada usaha anak, bukan hanya hasil akhir, akan membuat mereka merasa dihargai dan lebih tenang.

Prestasi akademik memang berharga, tetapi kesehatan mental siswa jauh lebih utama. Nilai tinggi bisa dikejar kembali, namun kesehatan mental yang terganggu membutuhkan waktu lama untuk pulih. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar, bukan sumber tekanan yang berlebihan. Dengan kesehatan mental yang terjaga, siswa tidak hanya bisa meraih prestasi akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.

Foto: Koleksi pribadi - diambil oleh (Anwar Alharoki)