Konten dari Pengguna

Pulang Membawa Ilmu dan Ketenangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar diambil dari foto pribadi ketika pengajian
zoom-in-whitePerbesar
Gambar diambil dari foto pribadi ketika pengajian

Kajian Bukan Sekadar Duduk dan Mendengarkan

Di tengah kesibukan menjalani aktivitas sehari-hari, terkadang kita membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan kembali mengingat tujuan hidup. Bagi saya, salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengikuti kajian keislaman.

Mengaji bukan hanya tentang mendengarkan penjelasan agama atau mencatat materi yang disampaikan oleh seorang guru. Lebih dari itu, kajian dapat menjadi ruang untuk memperbaiki diri, memperluas pemahaman, dan merenungkan kembali bagaimana kita menjalani kehidupan.

Ketertarikan mengikuti kajian bersama Ustadzah Halimah Alaydrus menjadi bagian dari semangat untuk terus belajar dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sosok beliau dikenal melalui kegiatan dakwah dan kajian keislaman yang ditujukan kepada masyarakat, khususnya para muslimah.

Bagi saya, menghadiri sebuah kajian bukan semata-mata tentang siapa yang menyampaikan materi, melainkan juga tentang kesiapan diri untuk menerima ilmu, memahami pesan yang disampaikan, dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, ilmu yang baik bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga seharusnya mendorong kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam bersikap dan berinteraksi dengan orang lain.

Serunya Menuntut Ilmu Bersama

Ada hal yang menarik dari kegiatan mengaji bersama, yaitu kesempatan untuk belajar dalam suasana kebersamaan. Orang-orang datang dengan latar belakang, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh keinginan untuk memperoleh ilmu.

Menurut saya, inilah salah satu nilai yang membuat kajian terasa bermakna. Menuntut ilmu tidak harus selalu dilakukan sendirian. Kita juga dapat tumbuh melalui lingkungan yang mendorong kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Mengikuti kajian bersama Ustadzah Halimah Alaydrus menjadi pengingat bagi saya tentang pentingnya menyediakan waktu untuk memperdalam pemahaman agama di tengah berbagai kesibukan.

Sebagai mahasiswa, aktivitas sehari-hari sering kali dipenuhi dengan tugas perkuliahan, tanggung jawab organisasi, dan berbagai rencana masa depan. Kesibukan tersebut memang penting, tetapi menjaga keseimbangan antara kebutuhan akademik dan pengembangan spiritual juga tidak kalah berarti.

Melalui kegiatan kajian, kita dapat kembali mengingat bahwa keberhasilan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian duniawi. Ada pula nilai kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan akhlak yang perlu terus dibangun dalam diri.

Belajar Memperbaiki Diri, Bukan Menghakimi Orang Lain

Salah satu hal penting dalam menuntut ilmu agama adalah kesediaan untuk bercermin pada diri sendiri. Terkadang, kita begitu mudah melihat kekurangan orang lain, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk menyadari hal-hal yang masih perlu diperbaiki dalam diri.

Kajian keislaman dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi sikap, memperbaiki niat, dan memahami bagaimana nilai-nilai agama dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Bagi saya, belajar agama seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat materi atau menyampaikan kembali nasihat yang pernah didengar. Ilmu juga perlu terlihat melalui perilaku, cara berbicara, sikap terhadap keluarga, hubungan dengan teman, dan kepedulian kepada sesama.

Kita mungkin tidak dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik dalam satu malam. Namun, setiap proses belajar dapat menjadi langkah kecil untuk membangun kebiasaan yang lebih positif.

Karena itu, mengikuti kajian hendaknya tidak membuat seseorang merasa paling benar dibandingkan orang lain. Sebaliknya, semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin besar pula kesadaran bahwa diri sendiri masih memiliki banyak hal untuk diperbaiki.

Menjaga Semangat Mengaji di Tengah Kesibukan

Menuntut ilmu membutuhkan konsistensi. Semangat mengikuti kajian mungkin muncul dengan kuat pada suatu waktu, tetapi tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjaga semangat tersebut setelah kegiatan berakhir.

Bagi mahasiswa, salah satu tantangannya adalah membagi waktu antara kuliah, kegiatan kampus, keluarga, dan kebutuhan pribadi. Dalam keadaan seperti ini, belajar agama dapat menjadi bagian dari rutinitas yang membantu menjaga arah dan prioritas kehidupan.

Menurut saya, mengikuti kajian sebaiknya tidak hanya dijadikan kegiatan sesaat ketika ada pendakwah yang ingin didengarkan. Kita juga perlu berusaha melanjutkan proses belajar melalui membaca, mengulang materi, bertanya kepada guru yang kompeten, serta menerapkan nilai-nilai yang telah dipahami.

Dengan begitu, pengalaman mengikuti kajian tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan menjadi dorongan untuk terus bertumbuh.

Ilmu tidak selalu mengubah seluruh kehidupan kita sekaligus. Terkadang, perubahan dimulai dari hal sederhana: lebih berhati-hati ketika berbicara, lebih sabar menghadapi persoalan, lebih menghargai orang lain, dan lebih bersungguh-sungguh menjalankan tanggung jawab.

Pulang dari Kajian, Membawa Bekal untuk Kehidupan

Bagi saya, makna mengikuti kajian bukan hanya terletak pada pengalaman berada di sebuah majelis ilmu. Hal yang lebih penting adalah apa yang kita bawa pulang setelah kegiatan selesai.

Apakah ada pemahaman baru yang membuat kita lebih bijaksana? Apakah ada sikap yang ingin kita perbaiki? Ataukah ada kebiasaan yang perlu kita evaluasi agar kehidupan sehari-hari semakin dekat dengan nilai-nilai kebaikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan yang berlangsung terus-menerus. Kita tidak pernah benar-benar selesai belajar, sebab selalu ada ruang untuk memperdalam pemahaman dan memperbaiki diri.

Mengaji bersama Ustadzah Halimah Alaydrus dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Namun, nilai sebuah kajian pada akhirnya juga bergantung pada kesungguhan kita untuk memahami dan mengamalkan ilmu yang diperoleh.

Saya berharap semangat menghadiri majelis ilmu terus tumbuh, khususnya di kalangan generasi muda yang sedang membangun masa depan. Kesibukan mengejar pendidikan dan cita-cita tidak harus membuat kita melupakan kebutuhan untuk merawat hati dan memperkuat pemahaman agama.

Sebab, pulang dari kajian seharusnya bukan hanya tentang berakhirnya sebuah acara. Ada ilmu yang perlu dijaga, nasihat yang perlu direnungkan, dan kebaikan yang perlu diusahakan.

Pada akhirnya, perjalanan menuntut ilmu bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling mengetahui segalanya. Perjalanan ini adalah kesempatan untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik, lebih rendah hati, dan lebih mampu menghadirkan manfaat bagi sesama.