Apa yang Perlu Kita Sombongkan?

ASN Kota Depok. Mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarat Universitas Indonesia Maju (UIMA) Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap Selasa pagi, suasana di Dinas Kesehatan Kota Depok terasa berbeda. Di tengah kesibukan kerja dan rutinitas melayani masyarakat, ada momen yang selalu dinanti: kegiatan khataman Qur’an yang dilanjutkan dengan kultum. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi kami, kegiatan ini adalah ruang untuk menenangkan hati, memperkuat kebersamaan, dan menambah bekal rohani sebelum kembali bergelut dengan tugas sehari-hari.
Pada kultum kali ini, ada sebuah kalimat penuh hikmah yang begitu menancap di hati:
“Apa yang perlu kita sombongkan? Harta punya Allah, anak punya Allah, jabatan punya Allah… semua adalah milik Allah.”
Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Kalimat yang mengingatkan kita bahwa sering kali manusia terjebak dalam rasa bangga berlebihan atas apa yang dimiliki. Kita merasa hebat karena punya harta, merasa istimewa karena punya jabatan, atau merasa lebih baik karena memiliki keluarga yang lengkap. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah titipan. Harta bisa hilang dalam sekejap, jabatan bisa berganti kapan saja, bahkan anak dan keluarga adalah amanah yang suatu saat akan kembali kepada Sang Pemilik.
Makna yang Bisa Kita Renungkan
Kesombongan, dalam bentuk apa pun, sejatinya tidak punya tempat dalam kehidupan seorang hamba. Apa pun yang kita miliki bukanlah hasil mutlak usaha kita, melainkan anugerah Allah. Kita boleh bekerja keras, berusaha sekuat tenaga, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kehendak-Nya.
Kerendahan hati justru adalah kekuatan. Semakin tinggi jabatan atau semakin banyak harta, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga amanah. Orang yang rendah hati tidak berarti lemah, justru ia menunjukkan kedewasaan spiritual dan sosial. Ia sadar bahwa semua yang dimiliki hanyalah sarana untuk berbuat baik, bukan alasan untuk merasa lebih dari orang lain.
Dan jika ada sesuatu yang pantas dibanggakan, itu bukanlah harta atau jabatan, melainkan amal baik. Sejauh mana kita memberi manfaat bagi orang lain, sejauh mana kita menggunakan titipan Allah untuk menolong sesama, itulah ukuran sejati yang layak dibawa pulang kelak.
Pelajaran untuk Kehidupan Sehari-hari
Kultum pagi itu mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang menumpuk kebanggaan pribadi, melainkan tentang bagaimana kita menggunakan setiap titipan Allah untuk kebaikan. Harta bisa menjadi sarana berbagi, jabatan bisa menjadi jalan untuk melayani, dan keluarga bisa menjadi ladang pahala jika dijaga dengan penuh kasih.
Bayangkan, betapa indahnya jika setiap orang di lingkungan kerja, di rumah, dan di masyarakat, menjadikan harta sebagai alat berbagi, jabatan sebagai sarana pelayanan, dan keluarga sebagai sumber inspirasi untuk berbuat baik. Hidup akan terasa lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih berkah.
Kesombongan sejati bukanlah merasa lebih dari orang lain, melainkan rasa syukur yang mendalam atas kesempatan menjadi hamba Allah yang bermanfaat. Syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata: membantu rekan kerja, melayani masyarakat dengan sepenuh hati, dan menjaga amanah yang telah diberikan.
Refleksi untuk Kita Semua
Kalimat hikmah pagi ini seakan mengajak kita untuk bercermin pada diri sendiri: apakah selama ini kita terlalu bangga dengan apa yang kita punya? Apakah kita merasa lebih tinggi karena jabatan, atau lebih istimewa karena harta? Jika iya, maka saatnya kita menata ulang cara pandang.
Kesombongan hanya akan menjauhkan kita dari orang lain, bahkan dari Allah. Sebaliknya, kerendahan hati akan mendekatkan kita pada sesama, membuat kita lebih dicintai, dan menjadikan hidup lebih bermakna.
Hidup ini singkat. Tidak ada yang bisa kita bawa selain amal. Harta, jabatan, bahkan keluarga, semuanya akan kembali kepada Allah. Yang tersisa hanyalah jejak kebaikan yang kita tinggalkan.
Untaian Berhikmah
Mari kita jadikan pesan ini sebagai pengingat dalam setiap langkah: tidak ada yang perlu disombongkan selain amal baik dan kerendahan hati. Karena pada akhirnya, semua yang kita miliki hanyalah titipan, dan yang akan kita bawa pulang hanyalah amal.
Kesombongan bukanlah tanda kekuatan, melainkan kelemahan. Kerendahan hati adalah kekuatan sejati. Dan syukur adalah bentuk kesombongan yang paling indah—bukan kepada diri sendiri, melainkan kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
Apa yang perlu kita sombongkan? Semua milik Allah. Yang layak kita banggakan hanyalah amal baik dan rasa syukur.”
