Gaji Tetap, Hidup Tak Selalu Tenang: Tekanan Finansial Keluarga ASN

ASN Kota Depok. Mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarat Universitas Indonesia Maju (UIMA) Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Baru juga gajian, uangnya sudah punya kantong masing-masing.”
Kalimat itu terdengar seperti gurauan biasa. Ada kantong untuk cicilan rumah, kendaraan, sekolah anak, listrik, belanja bulanan, arisan, kartu kredit, paylater, sampai kebutuhan lain yang kadang baru diingat setelah gaji masuk. Belum selesai menghitung, muncul lagi candaan, “Jangan punya anak banyak-banyak. Nanti sekolahnya bagaimana? Gaji saja belum sampai akhir bulan sudah minta puasa.”
Lucu, tetapi ada bagian yang terasa dekat dengan kenyataan. Pekerjaan tetap memberi kepastian penghasilan, tetapi tidak selalu membuat urusan keuangan menjadi ringan. ASN juga punya kebutuhan keluarga, biaya pendidikan, orang tua yang perlu dibantu, kesehatan, cicilan, dan tentu saja keinginan menikmati hasil kerja.
Masalahnya bukan semata-mata besar kecil gaji. Kadang yang lebih menentukan justru berapa banyak kebutuhan dan keinginan yang sudah menunggu sebelum uang itu sempat benar-benar “diam” di rekening.
Ketika Gaji Punya Banyak Tujuan
Gaya hidup tidak selalu berarti barang mewah. Nongkrong, mengganti gawai, ikut olahraga yang sedang ramai, mengambil kredit kendaraan, liburan, arisan, atau memberi fasilitas terbaik untuk anak adalah bagian dari pilihan hidup sehari-hari. Tidak ada yang otomatis salah.
Yang perlu dijaga adalah ketika standar hidup mulai berjalan lebih cepat daripada kemampuan keuangan.
Media sosial membuat bahan pembanding semakin banyak. Orang melihat rumah baru, kendaraan baru, tempat makan, perjalanan wisata, sampai pesta ulang tahun anak. Tidak semua orang lalu menjadi konsumtif. Namun rasa tertinggal bisa muncul, terutama ketika hidup orang lain terlihat lebih rapi di layar daripada hidup sendiri.
Karena itu, pertanyaannya bukan apakah ASN boleh minum kopi di kafe, bermain padel, membeli gawai, atau mengambil cicilan. Pertanyaannya lebih sederhana: masih sesuai kemampuan atau tidak?
KORPRI pada April 2026 pernah mengingatkan ASN muda tentang gaya hidup konsumtif, belanja impulsif, perencanaan keuangan, hingga risiko pinjaman digital. Isu terakhir ini tidak berhenti pada kerugian finansial karena praktik pinjaman ilegal juga dapat membawa tekanan psikologis, ancaman, dan persoalan keluarga.
Cicilan Bisa Ikut Pulang
Utang tidak selalu buruk. Rumah dapat dibeli melalui kredit, kendaraan bisa mendukung mobilitas, dan pendidikan kadang membutuhkan pembiayaan. Persoalan mulai terasa ketika cicilan mengambil porsi terlalu besar, pinjaman lama ditutup dengan pinjaman baru, atau paylater berubah dari fasilitas menjadi kebiasaan.
Pada titik tertentu, tagihan tidak lagi hanya berupa angka. Ada tanggal jatuh tempo yang diingat, pesan penagihan, bahkan telepon yang bisa masuk saat sedang bekerja atau bersama keluarga.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk usia 15 tahun ke atas sekitar 1,4 persen. Angka ini menggambarkan masyarakat Indonesia secara umum, bukan ASN. Jadi, tidak tepat menyimpulkan bahwa ASN yang punya banyak cicilan otomatis mengalami masalah kesehatan mental.
Yang lebih masuk akal adalah melihat tekanan finansial sebagai salah satu beban hidup. Ada orang yang tetap tenang meski punya cicilan. Ada pula yang mulai sulit tidur, mudah tersinggung, atau terus memikirkan bagaimana melewati bulan berikutnya. Situasinya berbeda-beda.
Ketika soal uang masuk ke rumah, persoalannya menjadi lebih rumit. Ada pasangan, sekolah anak, kebutuhan orang tua, dan rencana keluarga yang harus dibicarakan. Pertanyaan seperti “Kenapa cicilannya bertambah?” atau “Pinjaman ini sejak kapan?” bisa muncul.
Namun persoalan keuangan tidak otomatis berakhir pada pertengkaran atau perceraian. Data BPS yang bersumber dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung, mencatat 438.168 perkara perceraian pada 2025, dengan 105.727 perkara berada dalam kategori faktor ekonomi. Angka ini bukan data khusus ASN dan tidak menunjukkan bahwa gaya hidup atau utang menjadi penyebab seluruh perkara tersebut. Data itu cukup mengingatkan bahwa persoalan ekonomi juga dapat hadir dalam dinamika rumah tangga.
Cukup, Sebelum Terlalu Jauh
Pekerjaan tetap kadang datang bersama harapan sosial yang tidak tertulis: kapan punya rumah, kapan ganti kendaraan, anak sekolah di mana, kok belum pernah liburan ke luar negeri?
Bagi sebagian orang itu hanya basa-basi. Bagi yang lain, bisa menjadi dorongan untuk mengejar standar yang sebenarnya tidak pernah direncanakan.
Mungkin bagian tersulit dari mengelola keuangan bukan menghitung angka, tetapi tahu kapan harus berkata cukup.
ASN pun punya kondisi keluarga yang berbeda. Ada yang baru menikah, membesarkan beberapa anak, membantu orang tua, membiayai pengobatan keluarga, atau menghadapi kebutuhan mendadak. Dua ASN dengan pangkat dan pendapatan hampir sama belum tentu memiliki ruang finansial yang sama.
Literasi keuangan karena itu tidak cukup hanya berbicara tentang investasi. Ada hal yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengetahui kemampuan berutang, menyiapkan dana darurat, dan berani terbuka dengan pasangan ketika keadaan keuangan mulai tidak baik-baik saja.
Gaji tetap memang memberi kepastian. Namun persoalan hidup tidak selesai ketika slip gaji diterbitkan.
Setiap tanggal gajian mungkin akan selalu ada banyak “kantong” yang menunggu. Sebagian memang bentuk tanggung jawab. Tetapi setelah semuanya dihitung, semoga masih ada satu ruang yang tidak ikut habis: ruang untuk hidup tanpa terus merasa harus membuktikan kepada orang lain bahwa kita sudah cukup berhasil.
