Jangan Tunggu ASN Terjerat Judi Online: Dari Kampanye Menuju Ketahanan

ASN Kota Depok. Mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarat Universitas Indonesia Maju (UIMA) Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Bu... istri adikku minta cerai.”
Saya terdiam sejenak.
“Kenapa?”
“Dia terjerat judi online. Semua barang di rumah sudah habis terjual. Uang juga habis. Sekarang istrinya sudah tidak tahan lagi.”
Percakapan tersebut merupakan ilustrasi sederhana tentang bagaimana judi online dapat membawa dampak serius bagi kehidupan seseorang dan keluarganya.
Judi online bisa dimulai dari satu klik. Namun, dampaknya dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan yang dibangun bertahun-tahun. Keuangan keluarga terganggu, hubungan rumah tangga mengalami tekanan, dan produktivitas kerja dapat terdampak.
Dalam konteks aparatur sipil negara (ASN), persoalan ini perlu menjadi perhatian karena perilaku individu yang melanggar aturan dapat berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap komitmen integritas aparatur pemerintah.
Karena itu, judi online bukan lagi persoalan yang dapat dianggap jauh dari lingkungan ASN.
Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengenai adanya sebagian ASN yang teridentifikasi dalam transaksi judi online menjadi pengingat bahwa fenomena ini dapat terjadi pada berbagai kelompok masyarakat, termasuk lingkungan birokrasi.
Data tersebut bukan untuk memberikan stigma kepada ASN. Sebaliknya, data itu menjadi alarm bahwa penguatan ketahanan ASN menghadapi godaan judi online perlu dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan.
Sebab di balik setiap angka terdapat manusia. Ada pegawai yang mungkin menghadapi tekanan ekonomi, persoalan pribadi, atau kondisi lain yang membuat seseorang rentan mengambil keputusan yang keliru.
Di balik peran profesionalnya sebagai pelayan publik, ASN tetap merupakan manusia yang menghadapi dinamika kehidupan, tekanan, dan tantangan pribadi.
KORPRI dan pemerintah telah menunjukkan perhatian terhadap persoalan ini melalui berbagai kegiatan edukasi dan pembinaan ASN. Artinya, fondasi kampanye sudah tersedia.
Namun, tantangan berikutnya bukan hanya tentang seberapa sering ASN diingatkan untuk menjauhi judi online. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana membangun daya tahan agar ASN memiliki kemampuan untuk menolak godaan tersebut sejak awal.
Di sinilah KORPRI memiliki ruang strategis.
Memperkuat Ketahanan Finansial ASN
Judi online menawarkan ilusi mendapatkan uang secara cepat. Banyak orang terjebak bukan semata karena ingin berjudi, tetapi karena tergoda oleh harapan memperoleh keuntungan instan.
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya melalui pesan moral “jangan berjudi”. ASN juga perlu diperkuat dengan kemampuan mengelola keuangan secara sehat.
Literasi finansial perlu menjadi bagian dari pembinaan ASN yang praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari mengelola penghasilan, menyusun prioritas kebutuhan, menghindari utang konsumtif, menyiapkan dana darurat, hingga memahami risiko keuntungan yang tidak realistis.
KORPRI dapat mengambil peran dengan menjadikan literasi finansial sebagai bagian dari penguatan kesejahteraan anggota, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Membangun Deteksi Dini Tanpa Stigma
Sering kali organisasi baru bergerak ketika masalah sudah menjadi kasus. Padahal, seseorang yang mulai terjerat judi online mungkin sebelumnya menunjukkan tanda-tanda tertentu, seperti tekanan keuangan, meningkatnya masalah utang, maupun perubahan perilaku.
Karena itu, lingkungan kerja perlu memiliki ruang konsultasi dan mekanisme pendampingan awal yang menjaga kerahasiaan secara proporsional.
Tujuannya bukan mencari siapa yang salah. Tujuannya menemukan siapa yang membutuhkan bantuan sebelum masalah berkembang menjadi lebih besar.
Organisasi yang sehat bukan hanya organisasi yang mampu memberikan hukuman sesuai aturan, tetapi juga organisasi yang mampu mencegah, mengenali risiko lebih awal, dan membantu anggotanya kembali berada pada jalur yang benar.
Ketegasan terhadap pelanggaran tetap diperlukan. Namun, kesempatan memperbaiki diri juga merupakan bagian dari tata kelola organisasi modern.
Menghadirkan Pendampingan Nyata
Sebagian ASN yang terdampak mungkin membutuhkan dukungan untuk memperbaiki kondisi keuangan, mendapatkan dukungan psikologis dan sosial, serta memahami konsekuensi aturan kepegawaian.
KORPRI dapat memperkuat jejaring pendampingan bersama unit kepegawaian, konselor, dan pihak profesional yang memiliki kompetensi dalam memberikan dukungan pencegahan dan pemulihan.
Pendampingan bukan berarti membenarkan pelanggaran. Aturan tetap harus ditegakkan. Namun, pencegahan dan pemulihan juga perlu menjadi bagian dari strategi menghadapi persoalan judi online.
Pemerintah sendiri telah memiliki landasan kebijakan melalui Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 5 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kegiatan Perjudian Daring di Lingkungan Instansi Pemerintah.
Namun, aturan hanyalah salah satu instrumen. Regulasi memberikan batas, tetapi ketahanan pribadi dan organisasi yang membuat seseorang mampu menjaga dirinya.
Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan judi online tidak cukup diukur dari jumlah poster, webinar, atau imbauan yang dibuat, tetapi dari perubahan perilaku dan meningkatnya kemampuan ASN menjaga dirinya.
Ukuran keberhasilannya harus lebih nyata:
Apakah ASN semakin mampu mengelola keuangan?
Apakah lingkungan kerja mampu mengenali risiko lebih awal?
Apakah tersedia ruang aman bagi ASN yang membutuhkan bantuan?
Dan apakah budaya organisasi semakin kuat menjaga integritas?
Melawan judi online bukan hanya tentang memutus akses terhadap situs perjudian. Lebih dari itu, kita perlu membangun kemampuan seseorang untuk berkata “tidak” sebelum mencoba.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.
Bukan hanya:
“Bagaimana menghukum ASN yang terjerat judi online?”
Tetapi:
“Bagaimana memastikan ASN tidak sampai terjerat?”
KORPRI telah memiliki modal berupa edukasi dan pembinaan. Langkah berikutnya adalah mengubah modal tersebut menjadi ketahanan.
Mencegah sebelum menjadi masalah.
Mengenali sebelum menjadi kasus.
Mendampingi tanpa mengabaikan aturan.
Sebab ASN yang mampu menjaga dirinya dari jerat judi online bukan hanya sedang menyelamatkan penghasilannya.
Ia sedang menjaga keluarganya, menjaga pekerjaannya, menjaga integritasnya, dan pada akhirnya menjaga kepercayaan masyarakat kepada negara.
