Konten dari Pengguna

Ketika Dunia Mendadak Sunyi: Perjalanan Seorang ASN untuk Tetap Mengabdi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi : Dok. Pribadi Penulis (digunakan dengan izin pemilik foto)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : Dok. Pribadi Penulis (digunakan dengan izin pemilik foto)

Agustus selalu memiliki cerita tersendiri bagi saya. Namun sejak satu tahun terakhir, bulan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Agustus menjadi penanda perjalanan menerima kenyataan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya: hidup dengan kondisi Sensorineural Hearing Loss (SNHL) atau gangguan pendengaran sensorineural (tuli saraf).

Setahun lalu, kehidupan saya berubah. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ibu, istri, anak, sekaligus mahasiswa, saya terbiasa menjalani berbagai peran dengan penuh tanggung jawab. Saya mengikuti rapat, berkomunikasi dengan rekan kerja, dan menyelesaikan tugas tanpa hambatan berarti.

Namun, berdasarkan pemeriksaan dokter, saya mengalami SNHL atau tuli saraf, sebuah kondisi yang membuat saya harus menggunakan alat bantu dengar dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Tidak ada seorang pun yang siap kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Suara percakapan, sapaan keluarga, panggilan dari kejauhan, bahkan suara-suara kecil yang sebelumnya sering terabaikan, tiba-tiba menjadi sangat berharga.

Ketika sebagian suara dalam hidup berubah, dunia saya pun ikut berubah.

Tiga bulan pertama menjadi masa yang berat. Ada rasa takut, kecewa, dan penolakan terhadap keadaan yang datang secara tiba-tiba. Pertanyaan yang sering muncul adalah, “Mengapa harus saya?”

Saya melihat orang lain menjalani kehidupan tanpa alat bantu dengar, sementara saya harus belajar menerima kenyataan yang tidak pernah masuk dalam rencana hidup.

Namun saya menyadari bahwa terus mempertanyakan keadaan hanya membuat diri semakin lemah. Perjuangan terbesar bukan hanya menghadapi kehilangan pendengaran, tetapi menemukan kekuatan untuk tetap melangkah.

Dalam proses itu, Allah menghadirkan banyak orang baik. Keluarga menjadi sumber kekuatan terbesar. Mereka bersabar ketika saya harus meminta perkataan diulang dan mendampingi saya dalam proses beradaptasi.

Ada satu nasihat dokter spesialis yang selalu saya ingat: Allah tidak memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Kalimat sederhana itu mengubah cara pandang saya.

Saya berhenti bertanya, “Mengapa ini terjadi kepada saya?”

Saya mulai belajar bertanya, “Apa yang harus saya lakukan setelah Allah mengizinkan ini terjadi?”

Sejak saat itu, saya melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Gangguan pendengaran tidak menghapus identitas saya sebagai ASN. Saya tetap memiliki tanggung jawab untuk bekerja dan memberikan pelayanan terbaik. Namun saya harus belajar menjalankan tugas dengan cara yang baru.

Dalam pekerjaan sehari-hari, hal-hal yang dahulu sederhana kini membutuhkan usaha lebih besar. Saat mengikuti rapat, saya harus lebih berkonsentrasi memahami pembicaraan, membaca mimik wajah, dan memperhatikan gerakan bibir untuk membantu menangkap informasi.

Dalam rapat daring melalui Zoom, saya menggunakan aplikasi transkripsi agar pembicaraan lebih mudah dipahami. Ada kalanya saya harus meminta rekan kerja mengulang kalimat atau berbicara sedikit lebih perlahan agar informasi dapat saya terima dengan tepat.

Pernah suatu hari saya tertinggal alat bantu dengar ketika sudah berada di tempat kerja. Saat itu saya menyadari bahwa tanpa alat tersebut, saya mengalami kesulitan besar untuk berkomunikasi. Saya harus kembali pulang mengambilnya atau meminta bantuan keluarga untuk mengantarkannya.

Bagi sebagian orang, alat bantu dengar mungkin hanya perangkat kecil. Namun bagi saya, alat itu menjadi bagian penting untuk tetap terhubung dengan orang lain, menjalankan pekerjaan, dan melaksanakan amanah sebagai ASN.

Tantangan lain muncul ketika mengikuti rapat dengan banyak peserta. Saat beberapa orang berbicara bersamaan, saya harus bekerja lebih keras memilah suara dan memahami informasi. Tidak jarang setelah rapat saya merasa lelah bahkan pusing karena pikiran terus berusaha menangkap setiap percakapan.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang tidak selalu terlihat. Saya belajar tidak malu menjelaskan kondisi saya, meminta pengulangan, dan tetap memberikan yang terbaik.

Menjadi ASN mengajarkan saya bahwa pengabdian tidak bergantung pada kesempurnaan fisik, tetapi pada integritas, tanggung jawab, kemauan belajar, dan komitmen memberikan manfaat.

Kondisi SNHL memang mengubah cara saya bekerja, tetapi tidak menghilangkan semangat untuk tetap melayani.

Perjalanan ini juga membawa saya pada kebiasaan baru: menulis. Awalnya menulis menjadi cara menjaga pikiran tetap aktif, namun perlahan berubah menjadi ruang penyembuhan. Ketika dunia terasa lebih sunyi, tulisan membuat hati saya kembali bersuara.

Hari ini alat bantu dengar masih menemani perjalanan saya. Saya tetap menjalankan amanah sebagai ASN, peran sebagai ibu, istri, dan anak, serta terus belajar menerima setiap proses kehidupan.

Jika Allah berkehendak mengembalikan pendengaran saya seperti semula, tidak ada yang sulit bagi-Nya. Namun jika kondisi ini menjadi bagian dari jalan hidup saya, saya memohon kekuatan agar menjadikannya sebagai jalan kebaikan.

Kini saya tidak lagi merasa kehilangan pendengaran, karena saya sedang belajar mendengar dengan cara yang berbeda: melalui kasih sayang keluarga, empati kepada sesama, dan kedekatan kepada Allah melalui kesabaran, rasa syukur, serta penerimaan.

Setahun lalu saya bertanya, “Ya Allah, mengapa harus saya?”

Hari ini saya belajar berdoa:

Ya Allah, jika ini jalan yang Engkau pilihkan untuk saya, tuntunlah saya agar mampu menjalaninya dengan ikhlas dan jadikanlah keterbatasan ini sebagai jalan untuk semakin bermanfaat bagi sesama.

Saya mungkin memiliki keterbatasan, tetapi saya tidak kehilangan kesempatan untuk berkarya. Saya memilih tetap melayani, terus belajar, dan menghadirkan manfaat.

Saya percaya, setiap ujian yang Allah izinkan hadir bukan untuk menghentikan langkah, melainkan membentuk manusia menjadi lebih kuat dan menemukan makna pengabdian.