Mengapa Kita Lebih Rajin Berobat daripada Menjaga Sehat?

ASN Kota Depok. Mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarat Universitas Indonesia Maju (UIMA) Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Pasiennya membludak lagi setelah libur panjang.”
Begitu cerita seorang teman yang bekerja di puskesmas. Setelah libur tiga hari, ruang tunggu kembali penuh. Antrean mengular sejak pagi. Bahkan waktu makan siang yang seharusnya sekitar pukul 12.00 sering mundur karena pelayanan belum juga sepi.
Menurutnya, kondisi seperti itu bukan hal baru. Setelah libur panjang, terutama setelah Idul fitri dan hari besar lainnya, jumlah pasien sering meningkat. Keluhannya beragam: tekanan darah naik, gula darah tidak terkontrol, gangguan pencernaan, sampai badan yang terasa lebih lelah.
Tentu tidak semua keluhan itu disebabkan oleh kebiasaan selama liburan. Banyak faktor yang bisa berperan. Namun perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan waktu istirahat memang dapat ikut memengaruhi kondisi kesehatan, terutama pada mereka yang sebelumnya sudah memiliki penyakit atau faktor risiko tertentu.
Dari cerita sederhana itu muncul pertanyaan: mengapa kita begitu sigap berobat ketika sakit, tetapi sering kurang bersemangat menjaga kesehatan ketika tubuh masih terasa baik-baik saja?
Libur panjang dan hari raya memang sulit dipisahkan dari makanan. Meja makan penuh hidangan. Kunjungan ke rumah saudara datang silih berganti. Ada makanan yang mungkin hanya muncul setahun sekali.
Orang yang sudah tahu memiliki hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi pun belum tentu mudah menolak.
Bukan karena tidak tahu.
Kadang sungkan menolak suguhan. Kadang sayang melewatkan makanan favorit. Kadang muncul kalimat yang terdengar sederhana: “Mumpung setahun sekali.”
Masalahnya, tubuh tidak mengenal istilah “mumpung”.
Ketika kita sedang libur, tubuh tetap bekerja seperti biasa. Begitu pula ketika jam tidur berubah, aktivitas berkurang, atau pola makan menjadi lebih sulit dikendalikan. Sekali-dua kali tentu tidak serta-merta membuat seseorang sakit. Tetapi jika kebiasaan yang kurang sehat terus berulang, risikonya juga patut diperhatikan.
Ini penting karena penyakit tidak menular masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas sekitar 30,8 persen. Sementara prevalensi obesitas pada orang dewasa mencapai 23,4 persen.
Angka-angka itu setidaknya mengingatkan kita bahwa menjaga kesehatan bukan pekerjaan yang selesai hanya karena hari ini tubuh terasa baik.
Hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke juga tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Banyak di antaranya berkaitan dengan berbagai faktor risiko dan kebiasaan yang berlangsung dalam waktu panjang.
Ironisnya, perhatian kita terhadap kesehatan sering baru meningkat setelah tubuh memberikan peringatan.
Ketika kepala terasa pusing, kita memeriksa tekanan darah. Ketika badan mulai tidak enak, kita mencari obat. Ketika hasil pemeriksaan gula darah tinggi, barulah kita mulai berpikir untuk mengubah pola makan.
Tidak ada yang salah dengan berobat. Justru ketika sakit, mencari pertolongan medis adalah langkah yang penting.
Yang perlu dipikirkan adalah: mengapa perhatian terhadap kesehatan sering berhenti di sana?
Kita bisa sabar mengantre ketika sudah sakit. Tetapi ketika masih sehat, belum tentu kita mau menyediakan waktu untuk berjalan kaki atau berolahraga. Kita bersedia minum obat ketika tekanan darah naik, tetapi mungkin masih berat mengurangi makanan yang terlalu asin. Kita memeriksa gula darah ketika mulai khawatir, tetapi belum tentu konsisten memperbaiki kebiasaan sehari-hari.
Padahal puskesmas bukan hanya tempat untuk mengobati orang sakit. Ada juga upaya promotif dan preventif: edukasi, konseling, skrining faktor risiko, hingga pendampingan untuk membantu masyarakat menjaga kesehatannya.
Hanya saja, pencegahan memang kurang terasa mendesak.
Kalau tidak sakit, kita merasa tidak perlu datang. Kalau tidak ada keluhan, kesehatan terasa seperti urusan nanti.
Mungkin cara pandang seperti inilah yang perlu sedikit diubah.
Menjaga kesehatan bukan berarti harus hidup serba ketat atau tidak boleh menikmati makanan saat hari raya. Bukan pula berarti obat dan tenaga kesehatan tidak penting. Justru pengobatan tetap sangat dibutuhkan oleh orang yang memang memerlukannya.
Namun obat tidak menggantikan kebiasaan sehat.
Ada hal-hal sederhana yang tetap perlu kita lakukan sendiri: mengatur makanan, cukup bergerak, tidur dengan baik, menjaga berat badan, tidak merokok, dan mengikuti anjuran pengobatan bila memang sedang menjalani terapi.
Kedengarannya sederhana. Pelaksanaannya yang sering tidak sederhana.
Berhenti makan ketika sudah kenyang.
Tetap bergerak meskipun sedang libur.
Memilih makanan dengan lebih bijak.
Dan berani berkata kepada tuan rumah, “Terima kasih, saya sudah kenyang.”
Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak langsung terasa manfaatnya. Tetapi kesehatan memang lebih sering dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang daripada satu keputusan besar.
Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tanggung jawab dokter, perawat, atau puskesmas. Mereka membantu ketika kita membutuhkan. Namun sebagian besar waktu, kita sendirilah yang bersama tubuh kita.
Di meja makan. Di tempat kerja. Di rumah. Saat memilih makanan. Saat memutuskan untuk berjalan kaki atau tetap duduk. Saat memilih tidur cukup atau kembali begadang. Mungkin budaya menjaga kesehatan memang dimulai dari sana.
Bukan dari rasa takut akan penyakit, tetapi dari kesadaran bahwa tubuh yang hari ini terasa sehat tetap perlu dirawat.
Dan jika suatu hari ruang tunggu puskesmas setelah libur panjang tidak lagi seramai biasanya, mudah-mudahan itu bukan karena orang berhenti peduli pada kesehatan.
Melainkan karena semakin banyak orang mulai peduli sebelum tubuh mereka terpaksa meminta perhatian.
