Stunting Itu Penting, tetapi Jangan Lupakan Ibu yang Mengandung

ASN Kota Depok. Mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarat Universitas Indonesia Maju (UIMA) Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Bu, tempenya berapa?”
“Lima ribu dapat tiga, Nak.”
Perempuan muda itu terdiam. Tangannya masuk ke saku daster, menghitung uang yang tersisa.
“Kalau bayam?”
“Dua ribu satu ikat.”
Ia kembali menghitung.
“Tempenya satu saja, Bu. Bayamnya setengah ikat boleh?”
Pedagang itu mengangguk.
Ia pulang membawa kantong belanja yang sederhana.
Usianya belum genap 18 tahun. Ia memasuki fase menjadi ibu ketika dirinya sendiri masih sangat muda. Suaminya juga masih muda dan bekerja serabutan. Ada hari ketika penghasilan datang, tetapi ada pula hari ketika mereka harus bertahan tanpa kepastian.
Dalam situasi seperti itu, persoalannya bukan lagi memilih antara ikan, telur, daging, atau susu.
Pertanyaannya jauh lebih mendasar:
Hari ini bisa makan apa?
Kisah seperti ini mungkin tidak tercatat dalam laporan tahunan atau grafik statistik. Namun keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari bukanlah fenomena yang jauh dari kehidupan masyarakat.
Belakangan, berbagai cerita tentang pasangan muda yang menghadapi keterbatasan ekonomi rumah tangga juga banyak muncul di ruang publik. Sebagian cerita tersebut menggambarkan bagaimana ada keluarga muda yang harus mengatur penghasilan terbatas untuk memenuhi kebutuhan makanan, bayi, dan rumah tangga.
Tentu pengalaman tersebut tidak mewakili seluruh keluarga muda. Banyak pasangan yang mampu membangun rumah tangga dengan baik meskipun memulai dari keterbatasan. Namun fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pasangan memasuki kehidupan berkeluarga ketika kesiapan ekonomi, pengetahuan kesehatan reproduksi, dan dukungan sosial belum sepenuhnya kuat.
Karena itu, persoalan ini tidak dapat dilihat hanya dari sisi individu.
Bukan semata karena suami tidak bertanggung jawab atau ibu tidak mampu mengelola keluarga. Ada faktor yang lebih luas, seperti akses pendidikan, kesempatan kerja, kondisi ekonomi, lingkungan sosial, dan kesiapan menghadapi kehamilan.
Hal ini menjadi penting ketika kita membicarakan stunting.
Stunting bukan hanya persoalan anak setelah lahir. Stunting merupakan masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari status gizi ibu dan anak, penyakit infeksi, pola asuh, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga ketahanan pangan keluarga.
Karena itu, pencegahan stunting tidak boleh hanya berfokus pada anak, tetapi juga harus memperhatikan perempuan yang mengandungnya.
Pertanyaannya:
Bagaimana jika seorang ibu hamil memahami pentingnya makanan bergizi, tetapi kemampuan untuk mendapatkannya masih terbatas?
Pertanyaan ini penting karena diskusi tentang stunting sering kali baru muncul ketika anak sudah lahir. Kita mengukur tinggi badan balita, memantau pertumbuhan di posyandu, lalu melihat angka stunting.
Padahal pencegahan stunting dimulai jauh sebelum itu.
Upaya tersebut dimulai sejak remaja putri, masa persiapan kehamilan, periode kehamilan, hingga anak berusia dua tahun dalam fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Penurunan ini merupakan capaian positif. Namun angka tersebut juga mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Selain kondisi anak, kesehatan ibu hamil juga perlu menjadi perhatian. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 27,7 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian ibu hamil masih menghadapi risiko kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kondisi ibu maupun bayi.
Angka tersebut bukan sekadar data.
Di baliknya ada perempuan yang menjalani kehamilan sambil bekerja, mengurus keluarga, menghadapi tekanan ekonomi, atau harus membatasi pilihan makanan karena keterbatasan pendapatan.
Kita sering mengatakan:
“Ibu hamil harus makan makanan bergizi.”
Pesan tersebut benar. Namun kita juga perlu bertanya:
“Apakah makanan bergizi itu tersedia dan terjangkau bagi semua ibu hamil?”
Edukasi gizi sangat penting, tetapi edukasi tidak selalu cukup ketika seseorang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Seorang ibu yang hanya mampu membeli tempe bukan berarti tidak memahami gizi. Ia juga bukan berarti tidak peduli terhadap anaknya. Bisa jadi ia memiliki keinginan untuk memberikan makanan terbaik, tetapi harus membagi sumber daya yang terbatas untuk berbagai kebutuhan keluarga.
Mereka bukan hanya membutuhkan nasihat tentang makanan bergizi, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka memperoleh makanan sehat dan layanan kesehatan yang memadai.
Karena itu, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.
Keluarga memiliki peran penting dalam mendukung ibu hamil. Suami perlu terlibat dalam menjaga kesehatan ibu dan anak sesuai kemampuan. Masyarakat dan pemerintah juga perlu memastikan layanan kesehatan, pemeriksaan kehamilan, tablet tambah darah, edukasi gizi, serta dukungan sosial dapat diakses oleh kelompok yang membutuhkan.
Stunting memang harus terus diukur karena data membantu kita memahami masalah dan memperbaiki kebijakan.
Namun angka tidak selalu menggambarkan seluruh perjuangan di baliknya.
Ada ibu hamil yang setiap hari menghitung uang sebelum berbelanja. Ada yang mengurangi porsi makan agar anggota keluarga lain tetap bisa makan. Ada yang memahami kebutuhan gizi kehamilan, tetapi belum selalu mampu memenuhinya.
Karena itu, dalam upaya menurunkan stunting, kita tidak cukup hanya bertanya:
“Berapa angka stunting tahun ini?”
Kita juga perlu bertanya:
“Apakah ada ibu hamil di sekitar kita yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizinya?”
Sebab sebelum seorang anak datang ke posyandu untuk ditimbang dan diukur, ia terlebih dahulu tumbuh dalam rahim seorang ibu.
Stunting itu penting. Tetapi ibu yang mengandung juga tidak boleh dilupakan.
