Konten dari Pengguna

Kewirausahaan Sebagai Pilar Masa Depan Generasi Muda Indonesia

Rahmat Ilham Fajar

Rahmat Ilham Fajar

mahasiswa universitas pamulang fakultas ekonomi dan bisnis prodi akuntansi perpajakan d4

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Ilham Fajar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penjual Online. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penjual Online. Foto: Shutterstock

Indonesia sedang berada dalam fase bonus demografi, dengan mayoritas penduduknya berada pada usia produktif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2023, sebanyak 69,33% dari total penduduk Indonesia merupakan angkatan kerja, dengan kelompok usia 15–39 tahun mendominasi komposisi tersebut. Ini adalah peluang emas untuk membangun fondasi ekonomi nasional yang kuat. Namun ironisnya, tingkat pengangguran terbuka di kalangan pemuda (usia 15–24 tahun) masih relatif tinggi, yaitu mencapai 19,36% (BPS, 2023).

Salah satu solusi strategis yang perlu dikedepankan adalah mendorong semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda. Kewirausahaan bukan hanya tentang membuka usaha, tetapi juga tentang menciptakan inovasi, membuka lapangan kerja, dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Di era digital ini, generasi muda sebenarnya memiliki semua alat yang dibutuhkan untuk memulai usaha: akses informasi, teknologi, kreativitas, serta jejaring yang luas melalui media sosial. Yang dibutuhkan adalah dorongan, keberanian mengambil risiko, serta pendampingan yang memadai.

Namun realitanya, semangat kewirausahaan di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Data Global Entrepreneurship Monitor (GEM) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki rasio kewirausahaan awal (early-stage entrepreneurial activity) sekitar 11%, masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Ini menandakan bahwa meskipun peluang besar tersedia, belum banyak generasi muda yang terjun serius ke dunia wirausaha.

Foto : karya sendiri

Peran pemerintah dan dunia pendidikan menjadi sangat krusial. Kurikulum yang mendorong kreativitas, berpikir kritis, dan kemampuan berinovasi harus diintegrasikan dalam sistem pendidikan sejak dini. Selain itu, program pelatihan kewirausahaan, inkubasi bisnis, dan akses pembiayaan melalui lembaga keuangan atau startup funding harus diperluas dan difasilitasi. Pemerintah juga perlu mengembangkan ekosistem wirausaha yang sehat, termasuk regulasi yang ramah terhadap usaha rintisan anak muda.

Tidak kalah penting, keberhasilan wirausaha muda harus terus diangkat ke permukaan sebagai inspirasi dan bukti nyata bahwa wirausaha adalah pilihan karier yang menjanjikan. Contoh sukses seperti William Tanuwijaya (Tokopedia), Achmad Zaky (Bukalapak), atau Gibran Rakabuming (Chilli Pari dan Markobar), bisa menjadi role model yang memotivasi.

Mendorong generasi muda untuk menjadi wirausaha bukan hanya tentang mengurangi angka pengangguran, tetapi juga membentuk karakter bangsa yang mandiri, inovatif, dan solutif. Sudah saatnya narasi besar kita berubah dari “mencari kerja” menjadi “menciptakan kerja”.