AI Bikin Pekerjaan Siswa Indonesia Lebih Cepat, Paham? Nanti Dulu

Syarif sudah bekerja di Yayasan KEHATI sejak tahun 2017, sebagai Public Relations and Education Outreach Manager
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syarif Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Laporan terbaru HP Futures melibatkan lebih dari 6.000 siswa dan 58 pakar dari berbagai negara untuk mengkaji bagaimana sistem pendidikan dapat mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan dunia kerja.
Sorotan utama
• Lebih dari sembilan dari 10 (91%) pelajar khawatir bahwa meski AI membantu mereka bekerja lebih cepat, pemahaman mereka terhadap materi menjadi kurang mendalam.
• 67% siswa meyakini AI akan membuka lebih banyak peluang karier daripada menghilangkannya.
• 84% siswa yakin dapat menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak, sementara 88% menilai pendidikan yang mereka terima telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.
Jakarta – Lebih dari sembilan dari 10 (91%) pelajar Indonesia khawatir bahwa meski AI membantu mereka menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, mereka justru tidak memahami materi secara mendalam. Temuan ini terungkap dalam survei global HP Futures 2026 terhadap lebih dari 6.000 pelajar, termasuk 2.097 pelajar Indonesia. Angka di Indonesia tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan seluruh negara yang disurvei. Laporan HP Futures yang disusun oleh HP bersama Global Learning Council dan Education Leaders Forum ini juga menghimpun masukan dari 58 pemimpin di bidang pendidikan, kebijakan publik, dan masa depan dunia kerja untuk membahas bagaimana sistem pendidikan dapat membekali generasi muda menghadapi dunia kerja di masa depan.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI, ketika ingin mengingat materi pelajaran, para pelajar masih mengandalkan cara-cara lama, seperti mencetak atau menulis tangan. Lebih dari separuh responden (52%) memilih metode yang melibatkan cetak atau tulisan tangan, sedangkan hanya kurang dari satu dari lima pelajar (17%) yang memilih ringkasan berbasis AI sebagai metode utama.
Meskipun mengkhawatirkan dampak AI terhadap kedalaman pemahaman mereka, siswa Indonesia tetap optimistis terhadap prospek karier di dunia yang semakin didukung teknologi AI. Lebih dari dua pertiga siswa (67%) meyakini AI akan menciptakan lebih banyak peluang karier daripada menghilangkannya. Selain itu, 84% yakin dapat menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak, sementara 88% menilai pendidikan yang mereka terima telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.
David McQuarrie, Chief Commercial Officer HP sekaligus Ketua HP Futures mengatakan, “Pendidik, pembuat kebijakan, dan pelaku dunia usaha memikul tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi peluang dan tantangan sepanjang hidup dan karier mereka. Di tengah pesatnya transformasi cara belajar dan bekerja akibat kecerdasan artifisial (AI), tanggung jawab itu menjadi semakin penting.
“Sistem pendidikan perlu berbuat lebih banyak untuk membantu pelajar mengembangkan, menunjukkan, dan terus mengasah kemampuan yang tetap bernilai, apa pun arah perkembangan teknologi,” ujar David.
Survei tersebut juga mengungkap bahwa pelajar Indonesia menilai kreativitas dan berpikir kritis sebagai keterampilan terpenting dalam pasar kerja masa depan. Para pelajar menempatkan keterampilan esensial yang tahan zaman (durable skills) ini di atas keterampilan teknis. Kreativitas berada di posisi teratas (67%), diikuti berpikir kritis (63%), serta komunikasi dan kolaborasi (58%). Adapun literasi AI dan digital berada di peringkat kelima (40%).
Laporan ini menyerukan kepada para pembuat kebijakan di Indonesia dan berbagai negara untuk menyusun arah kebijakan yang jelas dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan yang akan terus relevan di masa depan. Keterampilan tersebut perlu menjadi bagian inti pendidikan, bukan sekadar pelengkap atau kegiatan ekstrakurikuler.
Laporan ini juga merekomendasikan agar literasi, numerasi, dan pembelajaran yang membantu membentuk identitas siswa tetap menjadi fondasi pendidikan. Pada saat yang sama, pendekatan kreatif dan praktik langsung perlu diterapkan agar siswa dapat menguasai kemampuan dasar sekaligus mengembangkan keterampilan yang akan terus dibutuhkan di masa depan.
Mayank Dhingra, Director & Global Head – Education Business and Strategy di HP, menambahkan, “HP Futures 2026 memberikan gambaran unik mengenai perspektif siswa secara global tentang keterampilan yang perlu mereka kuasai, serta dampak AI terhadap cara berpikir, kehidupan, dan prospek pekerjaan mereka.
“Yang paling mencolok, pelajar Indonesia menyampaikan bahwa meski merasa percaya diri menggunakan AI dan terbantu bekerja lebih cepat, mereka khawatir tidak memahami materi secara mendalam. Suara pelajar harus mendapat tempat yang kuat dalam diskusi, seiring sistem pendidikan menentukan arah kurikulum dan model penilaian ke depan,” tambah Mayank.
Laporan ini menegaskan bahwa keterampilan yang tetap relevan dalam jangka panjang harus menjadi bagian inti sistem pendidikan, bukan tambahan yang bersifat opsional. Selain pendekatan baru dalam penilaian, laporan ini juga menyerukan dukungan yang lebih besar bagi para pendidik, yang tetap berperan sentral dalam membantu pelajar mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi, yakni keterampilan yang kian dicari oleh dunia kerja.
Berdasarkan masukan lebih dari 6.000 pelajar dan 58 pemimpin pendidikan serta dunia kerja dari berbagai negara, laporan ini memaparkan rekomendasi praktis bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan pemberi kerja untuk membantu mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan yang didukung AI.
Laporan lengkap HP Futures 2026 dapat diakses di: https://hpfutures.com/
Metodologi
HP Futures menyelenggarakan survei daring pada Mei hingga Juni 2026 dengan 6.206 responden pelajar dari 37 negara. Survei tersedia dalam bahasa Inggris, Spanyol, Portugis, Indonesia, Italia, dan Arab. Usia responden berkisar dari di bawah 12 tahun hingga di atas 25 tahun, dengan 88% di antaranya berusia 12 hingga 17 tahun.
Laporan ini juga menghimpun 58 pakar terkemuka melalui serangkaian focus group discussion (FGD) dan wawancara tatap muka, serta menyusun sejumlah studi kasus praktis dari sekolah, universitas, perusahaan, LSM, dan sistem layanan publik di berbagai negara.
