Konten dari Pengguna

Kuliah, Tugas, Organisasi, Kerja: Sibuk Terus, Tapi Sudah Produktif Belum?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabila Hanifatun Nisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi berangkat kuliah, siang mengerjakan tugas, sore mengikuti kegiatan organisasi, lalu malam masih harus bekerja. Bagi sebagian mahasiswa, rutinitas seperti ini mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik jadwal yang padat, apakah semua tanggung jawab itu benar-benar bisa dijalankan dengan maksimal?

Menjalani kuliah saja membutuhkan waktu dan tenaga. Belum lagi jika harus membagi perhatian dengan organisasi dan pekerjaan. Ada tugas yang harus diselesaikan, tanggung jawab yang perlu dijalankan, dan keinginan untuk tetap memiliki waktu bagi diri sendiri.

Di tengah kesibukan tersebut, pernahkah kita bertanya: apakah kita benar-benar produktif, atau hanya sibuk menjalani banyak hal?

Sibuk Belum Tentu Produktif

Banyaknya aktivitas terkadang membuat kita merasa sudah melakukan banyak hal. Padahal, kesibukan tidak selalu sejalan dengan hasil yang didapatkan.

Menurut saya, produktif bukan berarti harus mengerjakan semuanya sekaligus. Produktif adalah ketika kita mampu menentukan prioritas dan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik. Mengikuti organisasi dan bekerja sambil kuliah memang bisa memberikan pengalaman berharga, tetapi kita juga perlu memahami kemampuan diri sendiri.

Foto Oleh Getty Images di Unsplash

Terkadang, kita terlalu sibuk mengambil banyak kesempatan sampai lupa mengevaluasi apa yang sebenarnya ingin dicapai. Kita merasa harus mengikuti berbagai kegiatan agar tidak tertinggal dari teman-teman, padahal setiap mahasiswa memiliki kebutuhan dan proses yang berbeda.

Apa Kata Ahli tentang Produktivitas?

American Psychological Association (APA), dalam artikelnya yang berjudul Multitasking: Switching Costs, menjelaskan bahwa berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas lain dapat mengurangi efisiensi, terutama ketika pekerjaan yang dilakukan cukup rumit.

Hal ini relevan dengan kehidupan mahasiswa yang harus membagi perhatian antara kuliah, tugas, organisasi, dan pekerjaan. Ketika perhatian terus berpindah, pekerjaan yang seharusnya bisa selesai lebih cepat justru membutuhkan waktu lebih lama.

Karena itu, mengerjakan banyak hal secara bersamaan bukan selalu pilihan terbaik. Ada kalanya menyelesaikan satu pekerjaan dengan fokus jauh lebih efektif daripada terus berpindah di antara berbagai tanggung jawab.

Belajar Menentukan Prioritas

Lalu, bagaimana agar kita tidak hanya sibuk, tetapi juga produktif?

Foto Oleh Getty Images di Unsplash

Kita bisa memulainya dengan menentukan pekerjaan yang paling penting, mencatat tenggat waktu, dan membagi tugas sesuai kemampuan. Kita juga perlu belajar mengatakan tidak ketika tanggung jawab sudah terlalu banyak.

Selain itu, istirahat tetap penting. Mahasiswa yang kuliah sambil bekerja atau aktif berorganisasi tidak harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan semuanya. Menjaga waktu istirahat juga merupakan bagian dari upaya menjalani tanggung jawab dengan baik.

Menurut saya, tidak semua kesempatan harus diambil dalam satu waktu. Memilih kegiatan sesuai prioritas bukan berarti kita berhenti berkembang, melainkan belajar mengatur waktu dan mengenali batas diri sendiri.

Jadi, Sudah Produktif atau Baru Sekadar Sibuk?

Menjadi mahasiswa bukan perlombaan untuk memiliki jadwal paling padat. Ada yang fokus pada perkuliahan, ada yang aktif berorganisasi, dan ada pula yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda sehingga tidak adil jika produktivitas hanya diukur dari banyaknya kegiatan.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa banyak hal yang kita lakukan, melainkan apa yang bisa kita pelajari dan capai dari semua kesibukan tersebut.

Mungkin, sesekali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: dari semua waktu dan tenaga yang sudah kita keluarkan, apakah kita benar-benar sedang berkembang, atau hanya berusaha agar tidak terlihat tertinggal?