Konten dari Pengguna

Pendidikan Kita Sibuk Mengejar Nilai, Lupa Menumbuhkan Nalar

Trendy Togatorop

Trendy Togatorop

Mahasiswa Fakultas ilmu komputer Universitas Katolik Santo Thomas

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Trendy Togatorop tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar dari AI

Sejak sekolah, kita tumbuh dengan keyakinan yang nyaris tak pernah dipertanyakan: nilai adalah ukuran utama kecerdasan. Rapor, peringkat, IPK, dan sertifikat menjadi bukti sah bahwa seseorang dianggap berhasil belajar. Perlahan, pendidikan berubah menjadi urusan angka.

Kita belajar untuk ujian, bukan untuk memahami. Kita menghafal jawaban, bukan memikirkan pertanyaan. Setelah ujian selesai, banyak pengetahuan ikut menguap, seolah tugas belajar sudah lunas dibayar dengan nilai.

Di ruang kelas, bertanya sering dianggap menghambat. Berbeda pendapat terasa berisiko. Diskusi kerap dipangkas demi mengejar materi. Akhirnya, kita terbiasa patuh pada kunci jawaban, bukan melatih cara berpikir. Nalar dipakai seperlunya, asal nilai aman.

Masalahnya, kebiasaan ini terbawa ke luar sekolah. Kita mudah menerima informasi tanpa menguji. Cepat percaya pada narasi yang terdengar meyakinkan. Tidak heran jika hoaks gampang menyebar, perdebatan publik dangkal, dan diskusi sering berubah jadi adu emosi, bukan adu argumen.

Pendidikan yang terlalu fokus pada nilai melahirkan generasi yang rapi secara administratif, tetapi rapuh secara nalar. Di dunia nyata, tidak ada soal pilihan ganda. Hidup menuntut kemampuan berpikir kritis, membaca konteks, dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian—hal-hal yang jarang benar-benar dilatih di sekolah.

Ironisnya, kegagalan ini sering dibebankan pada individu. Siswa dianggap kurang usaha, guru dianggap kurang kreatif. Padahal, masalahnya bersifat sistemik. Kurikulum padat, evaluasi berbasis angka, dan tekanan kelulusan membuat ruang berpikir semakin sempit. Kita semua terjebak dalam logika kejar target.

Orang tua pun tak luput dari tekanan itu. Nilai tinggi dianggap jaminan masa depan. Ketika anak lebih banyak bertanya atau memilih jalan berbeda, kekhawatiran muncul. Rasa ingin tahu yang seharusnya dipelihara justru sering dipangkas demi rasa aman.

Kita tidak sedang menolak nilai. Angka tetap penting sebagai alat ukur. Tapi ketika nilai menjadi tujuan utama, pendidikan kehilangan rohnya. Pendidikan seharusnya menumbuhkan nalar, bukan sekadar melatih kepatuhan. Membiasakan bertanya, bukan hanya menjawab. Memberi ruang salah, bukan hanya menuntut benar.

Jika pendidikan ingin benar-benar menyiapkan masa depan, orientasinya perlu diubah. Dari “berapa nilaimu” menjadi “apa yang kamu pahami”. Dari mengejar peringkat menjadi melatih cara berpikir.

Karena nilai mungkin membantu kita lulus ujian. Tapi nalar yang terlatihlah yang akan membantu kita bertahan dan berpikir jernih dalam kehidupan yang jauh lebih kompleks.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Katolik Santo Thomas Medan