Asap Hitam dari Pabrik Sendal: Alarm yang Tak Boleh Diabaikan

Mahasiswa s1 Akuntansi, Fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Usman Hamid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

kebakaran yang melanda pabrik sendal Sun Swallow di Tanah Tinggi, Kota Tangerang, bukan sekadar peristiwa yang akan lewat begitu saja dalam arus pemberitaan. Asap hitam yang membubung tinggi ke udara menjadi gambaran nyata bahwa risiko keselamatan kerja di lingkungan industri masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian lebih.
Peristiwa ini menunjukkan betapa cepat situasi dapat berubah menjadi krisis. Api yang sudah terlanjur membesar membuat proses pemadaman berlangsung sangat sulit. Petugas pemadam kebakaran harus berhadapan dengan bahan baku berupa karet, cairan kimia, hingga tangki penyimpanan berkapasitas besar yang berpotensi memicu ledakan jika tidak segera diamankan. Fokus utama pun bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencegah bencana yang lebih luas agar tidak merambat ke permukiman warga sekitar.
Kebakaran pabrik bukanlah kejadian baru di Indonesia. Namun, setiap kali peristiwa serupa terjadi, pertanyaan yang sama selalu muncul. Apakah sistem pencegahan kebakaran sudah berjalan optimal? Apakah prosedur keselamatan benar-benar diterapkan secara disiplin? Apakah para pekerja telah mendapatkan pelatihan menghadapi keadaan darurat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali baru diajukan setelah api membesar dan kerugian tak terhindarkan.
Di sisi lain, masyarakat sekitar kawasan industri juga menjadi pihak yang ikut merasakan dampaknya. Kepulan asap hitam dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas udara dan kesehatan warga, terutama anak-anak serta kelompok rentan. Tidak sedikit warga yang hidup berdampingan dengan kawasan industri tanpa mengetahui secara pasti potensi bahaya yang mungkin terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.
Pemerintah daerah dan perusahaan seharusnya menjadikan mitigasi bencana industri sebagai prioritas, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif. Pemeriksaan instalasi secara berkala, penyediaan alat pemadam yang memadai, simulasi evakuasi rutin, hingga keterbukaan informasi kepada masyarakat sekitar perlu dilakukan secara konsisten. Keselamatan tidak boleh dipandang sebagai beban biaya, melainkan investasi untuk melindungi nyawa manusia.
Menurut saya, peristiwa ini seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah industri tidak hanya diukur dari banyaknya produksi dan keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari seberapa besar komitmennya dalam menjaga keselamatan pekerja dan lingkungan di sekitarnya.
Syukurnya, hingga berita ini disampaikan belum ada laporan korban jiwa maupun korban luka akibat kebakaran tersebut. Namun, ketiadaan korban bukan berarti semua pihak boleh merasa lega dan melupakan evaluasi. Justru inilah waktu yang tepat untuk memperbaiki sistem sebelum tragedi yang lebih besar benar-benar terjadi.
Asap hitam yang terlihat dari kejauhan bukan hanya tanda adanya bangunan yang terbakar. Ia juga merupakan alarm yang mengingatkan bahwa budaya keselamatan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap aktivitas industri. Jika peringatan ini kembali diabaikan, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terus berulang dengan konsekuensi yang jauh lebih berat.
Usman Hamid S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
