Konten dari Pengguna

Malaysia, Rusia, dan Pelajaran tentang Ketahanan Energi

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Usman Hamid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Illustrasi Malaysia, Rusia, dan Pelajaran tentang Ketahanan Energi (Sumber: Gemini. google. id)
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi Malaysia, Rusia, dan Pelajaran tentang Ketahanan Energi (Sumber: Gemini. google. id)

Keputusan Malaysia mengamankan jaminan pasokan minyak dan gas dari Rusia selama 20 tahun bukan sekadar kabar tentang perdagangan energi. Langkah itu menunjukkan bagaimana sebuah negara berusaha memastikan kebutuhan dasar warganya tetap terpenuhi di tengah dunia yang semakin tidak pasti.

Dalam beberapa tahun terakhir, geopolitik global terus berubah. Konflik, sanksi ekonomi, hingga gejolak harga energi membuat banyak negara menyadari bahwa ketahanan energi tidak bisa hanya bergantung pada pasar jangka pendek. Ketika pasokan terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga bahan bakar, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut Rusia memberikan jaminan pasokan minyak, gas, dan bahan bakar untuk jangka panjang, sehingga negaranya tidak perlu bergantung pada perjanjian yang harus diperbarui setiap tahun. Kesepakatan tersebut dipandang sebagai bentuk kepastian bagi kebutuhan energi nasional.

Bagi Malaysia, ini dapat dibaca sebagai keputusan yang pragmatis. Dalam urusan energi, kepentingan nasional sering kali menjadi pertimbangan utama. Negara membutuhkan listrik untuk rumah tangga, bahan bakar untuk transportasi, serta energi bagi sektor industri. Tanpa pasokan yang stabil, pertumbuhan ekonomi bisa terganggu.

Namun, keputusan tersebut juga mengandung risiko. Rusia masih menghadapi berbagai sanksi dan dinamika politik internasional akibat konflik berkepanjangan. Ketergantungan yang terlalu besar kepada satu pemasok dapat menjadi titik lemah apabila situasi global berubah drastis. Diversifikasi sumber energi tetap menjadi strategi penting agar suatu negara tidak mudah terguncang oleh perubahan hubungan internasional.

Di sisi lain, langkah Malaysia bisa menjadi bahan refleksi bagi negara-negara lain di kawasan, termasuk Indonesia. Ketahanan energi bukan hanya soal memiliki sumber daya alam, tetapi juga tentang kemampuan membaca situasi global, membangun kerja sama strategis, serta menyiapkan cadangan untuk masa depan. Transisi menuju energi terbarukan memang perlu dipercepat, tetapi kebutuhan energi fosil masih akan menjadi kenyataan yang harus dikelola dalam beberapa dekade ke depan.

Menurut saya, yang patut diapresiasi dari langkah Malaysia bukan semata-mata karena menggandeng Rusia, melainkan keberanian menyusun strategi energi jangka panjang ketika banyak negara masih terjebak dalam kebijakan yang bersifat reaktif.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, negara yang mampu merencanakan kebutuhan energinya jauh ke depan akan memiliki posisi yang lebih kuat. Sebab energi bukan hanya urusan minyak dan gas, melainkan fondasi bagi stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan daya saing sebuah bangsa.

Usman Hamid S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.