Lokasi Trekking Tidak Jauh dari Ibu Kota

Masih mahasiswa jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta.
Tulisan dari Uthari Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kondisi pandemi yang mengharuskan semua masyarakat untuk mengalihkan kegiatan sehari-hari ke rumah, dengan tidak terasa membuat mereka jenuh dan stres. Akhirnya, pekerjaan yang seharusnya bisa selesai dalam sekali duduk malah selesai lebih lama.
Jika hal ini terjadi di situasi lingkungan yang normal, mungkin para penghuni Ibu Kota yang sudah merasa demikian akan melarikan diri ke Puncak, Bogor, Jawa Barat. Selain udaranya yang bisa membuat kita segar lagi, lokasinya pun dekat dengan Jakarta. Jadi cocok untuk mereka yang harus berkegiatan lagi di hari kerjanya.
Namun, berikut ini ada destinasi lain yang wajib dijajal, apalagi untuk para penggemar aktivitas luar ruangan seperti trekking.
Lokasinya berada di daerah Sentul, Bogor, Jawa Barat. Rute akan dimulai dari Bojong Koneng dan berakhir di Kampung Cisadon. Di Bojong Koneng, ada tempat parkir dan warung kopi kecil untuk para pengunjung menitipkan kendaraannya dan beristirahat. Sudah sampai sini saja, hawa sejuk pegunungan sudah terasa.
Harus diakui, jalur trekking ini bisa dibilang ekstrem. Jika saat pertama kali menginjakkan kaki di garis start merasa cuacanya akan cerah, jangan dulu berbahagia. Kita tidak bisa memprediksi cuaca di sini karena intensitas hujannya cukup tinggi. Kata warga sekitar, “Di sini itu walau kemarau, tapi ada saja hujan yang turun. Jadi, di malam hari akan terasa lebih dingin bahkan dibandingkan dengan musim hujannya sendiri”. Bisa saja beberapa menit kemudian gerimis. Jadi, sangat disarankan untuk berjaga-jaga membawa ponco.
Bayangkan saja, daerah dengan tanah yang begitu gembur, banyak bebatuan, dan aliran sungai di sana-sini dikombinasikan dengan hujan. Sudah bisa dipastikan jalanan akan licin maka dari itu gunakanlah alas kaki yang sesuai kegunaannya dengan aktvitas ini. Hal lainnya adalah becek, dan parahnya, kadang di air yang menggenang ternyata saat diinjak memiliki kedalaman yang lumayan.
Kondisi rutenya yang bisa menanjak dan menurun dengan curam, perlu diperhatikan lebih. Jangan sampai lupa untuk melihat ke bawah karena keasyikan melihat hamparan hijau indah di bukit sebelah. Hati-hatilah saat memilih pijakan. Bisa jadi tanah yang terlihat padat, ternyata lembek atau batu yang terlihat kuat, ternyata tidak stabil dan berlumut.
Di tengah perjalanan, pengunjung akan menemukan beberapa sungai yang menyebrangi jalan. Bahkan di antara rindang pepohonan, akan ditemui curug kecil tanpa nama. Airnya mengalir jernih dan dingin, diketahui juga aman untuk diminum. Pengunjung biasanya berhenti sejenak di sini untuk mengisi ulang botol minum atau sekadar menikmatinya.
Garis finish ditandai dengan gapura “Selamat Datang di Cisadon,” biasanya pengunjung mengabadikan momen dengan berfoto di bawahnya. Pengunjung juga bisa masuk ke kampung tersebut untuk beristirahat. Terdapat fasilitas umum seperti, warung, musala, dan danau untuk naik perahu kecil. Ada pula rumah warga yang jaraknya lumayan berjauhan dari satu ke lainnya.
Dengan segala rintangan diperjalanan dan pemanandangan indah pegunungan, kegiatan ini dapat dicoba untuk meredakan kejenuhan dan stres di kala pandemi ini dengan selalu memerhatikan protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Selain dekat, aktivitas ini bisa melupakan sejenak beban pikiran.
