Konten dari Pengguna

Merawat Spirit Maulid Nabi di Lereng Gunung Ungaran

Ulfani Salsabila

Ulfani Salsabila

Mahasiswa Program Study Matematika Uin Walisongo Semarang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulfani Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi

Di balik sejuknya udara dan megahnya panorama Gunung Ungaran, tersembunyi kekayaan budaya dan spiritual yang lestari dari generasi ke generasi. Salah satu yang paling menonjol adalah tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang tetap dijaga masyarakat di kawasan Bandungan, lereng selatan Ungaran. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap kelahiran Nabi, tetapi juga cerminan jati diri masyarakat Muslim pegunungan yang memadukan nilai religius, budaya lokal, dan semangat kebersamaan.

Tradisi ini menjadi contoh bagaimana kearifan lokal tidak sekadar bertahan, tetapi juga beradaptasi dan tetap relevan dalam kehidupan modern. Lebih dari itu, tradisi Maulid juga menjadi ruang hidup bagi nilai-nilai Pancasila dalam praktik sehari-hari masyarakat.

Bandungan dikenal luas sebagai kawasan wisata berhawa sejuk yang penuh dengan penginapan, pasar bunga, dan agrowisata. Namun, di balik geliat pariwisata, masyarakatnya tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam tradisional yang diwariskan sejak zaman para ulama penyebar Islam di tanah Jawa. Mayoritas masyarakat menganut Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan pengaruh kuat dari tradisi Nahdlatul Ulama (NU) yang kental dalam bentuk tahlilan, yasinan, dan tentunya Maulidan.

Dokumen Pribadi

Dari sudut pandang sila pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa, masyarakat Bandungan menunjukkan bentuk keberagamaan yang damai, toleran, dan membumi. Nilai-nilai Islam dihayati bukan secara eksklusif, melainkan dengan nuansa kebudayaan yang menyatu dalam kehidupan sosial.

Perayaan Maulid di Bandungan dilangsungkan dalam bentuk “Muludan” di masjid, musala, maupun langgar (surau kecil) selama bulan Rabiul Awal. Di desa-desa seperti Jetis, Banyukuning, dan Sidomukti, warga bahu-membahu mempersiapkan acara. Hal Ini merupakan salah satu bentuk nyata dari sila ke-3 yaitu Persatuan Indonesia. Warga tanpa memandang usia, status sosial, atau latar belakang bekerja sama dalam semangat gotong royong.

Pembacaan Simtudduror atau Barzanji, sholawat, hadrah rebana, dan ceramah keagamaan dari kiai lokal mewarnai acara. Puncaknya adalah doa bersama dan pembagian nasi berkat, yang merupakan hasil swadaya masyarakat. Praktik ini merupakan wujud sila ke-5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, karena nilai berbagi dan kesetaraan dijunjung tinggi, tanpa eksklusivitas.

Lebih dari ritual ibadah, Maulidan menjadi ruang edukasi sosial dan spiritual. Generasi muda turut dilibatkan dalam seluruh proses, mulai dari menghias tempat ibadah hingga membantu konsumsi. Inilah praktik sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, karena masyarakat mengajarkan nilai kebaikan bukan melalui paksaan, melainkan dengan keteladanan.

Dalam pengambilan keputusan bersama, seperti penentuan waktu, pengisi acara, dan pembagian tugas, masyarakat mengedepankan musyawarah. Ini mencerminkan sila ke-4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, yang hidup bukan hanya dalam teori, tapi dalam praktik budaya lokal.

Sebagai generasi muda yang tumbuh di lingkungan religius dan multikultural seperti Bandungan, saya meyakini bahwa tradisi Maulid bukan hanya warisan, tetapi kompas moral. Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya instan, tradisi ini memberi ruang kontemplatif, mempererat sosialitas, dan memperkuat spiritualitas masyarakat.

Saya justru melihat bahwa merawat tradisi seperti Maulidan adalah cara konkret menjaga Pancasila tetap hidup di tingkat akar rumput. Ia bukan sekadar ideologi negara, tetapi dijalankan secara nyata melalui praktik-praktik sederhana namun penuh makna, seperti gotong royong, berbagi makanan, dan belajar sejarah Nabi melalui cerita dan sholawat. Oleh karena itu, pelestarian Maulid seharusnya didukung tidak hanya oleh tokoh agama, tetapi juga oleh lembaga pendidikan dan pemerintah desa sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.

Tradisi Maulid di Bandungan bukan hanya ekspresi spiritual, melainkan bentuk keberagamaan yang memanusiakan manusia, mempererat persatuan, dan mempraktikkan demokrasi musyawarah. Di balik syair-syair pujian kepada Nabi, terdapat nilai-nilai luhur Pancasila yang tidak diajarkan dalam bentuk doktrin, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Selama semangat kebersamaan dan nilai keikhlasan terus dijaga, Maulidan akan terus menyala sebagai cahaya spiritual dari kaki Gunung Ungaran, menjadi penanda bahwa kearifan lokal dapat berdampingan harmonis dengan tantangan zaman.

DAFTAR PUSTAKA

Setiadi, G., Manshur, A., & Ahnaf, F. H. (2025). Penerapan Komunikasi Transedental Dalam Konsep Keagamaan Islam Pada Masyarakat Jawa. Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 6(1), 125-143.

Setiyaningsih, S. I., & Asekhatul, L. H. (2022). Lebaran Maulid: Tinjauan bentuk dan nuansa pelaksanaan tradisi masyarakat Demak. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Ulfani Salsabila, Mahasiwa Matematika UIN Walisongo.