Tradisi Maulid Nabi di Sumowono: Menjaga Warisan dari Langgar ke Lapangan

Mahasiswa Program Study Matematika Uin Walisongo Semarang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ulfani Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi sebagai Identitas Spiritual
Tradisi keagamaan adalah cermin dari identitas budaya spiritual masyarakat Indonesia. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, sebagian tradisi perlahan memudar. Namun, di Sumowono, Kabupaten Semarang, tradisi Maulid Nabi justru menunjukkan kebangkitan yang luar biasa dalam dua sampai tiga tahun terakhir. Dari pelaksanaan yang awalnya sederhana di langgar-langgar desa, kini Maulid Nabi tumbuh menjadi perayakan akbar yang menyatu warga dan menampilkan semangat religius yang kian kuat terutama melalui kehadiran para habib atau gus yang diundang untuk mengisi acara.
Transformasi Tradisi: Dari Langgar ke Lapangan
Maulid Nabi di Sumowono awalnya hanya berisi pembacaan Maulid Diba', tahlil, dan doa bersama, dengan peserta dari lingkungan sekitar. Namun sejak sekitar tahun 2023, masyarakat mulai mengundang habib-habib dari luar daerah seperti Pekalongan, Solo, hingga Bojonegoro. Para habib dengan karismanya mampu menarik masa dalam jumlah besar, sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral dan spiritual yang membumi dan menginspirasi. Sholawat bergema di lapangan-lapangan desa, dan semangat kebersamaan terlihat dalam antusiasme warga menyiapkan logistik acara secara swadaya. Dokumentasi livestream dan unggahan media sosial membuat tradisi ini semakin terkenal luas, sekaligus mengundang partisipasi lintas generasi tanpa kehilangan akar budaya.
Tradisi Maulid sebagai Dinamika Sosial Keagamaan
Pelaksanaan Maulid Nabi yang semakin meriah tidak hanya terjadi di Sumowono. Setiyaningsih dan Asekhatul (2022) menunjukkan bahwa di Demak, tradisi Maulid bahkan menjadi momentum religius yang juga dibingkai dengan nuansa sosial dan budaya yang kental. Hal ini menandakan bahwa Maulid Nabi tidak hanya sekadar ritual, tetapi menjadi bagian dari dinamika sosial masyarakat Islam Jawa.
Nilai-Nilai Pancasila dalam Tradisi Maulid
Tradisi ini tidak hanya penting secara keagamaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur Pancasila. Pada sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk nyata kecintaan kepada Rasulullah sehingga dapat menguatkan iman masyarakat kepada Allah SWT. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terlihat dari semangat gotong royong dan penghargaan terhadap sesama. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, tampak dalam keterlibatan warga lintas usia, ormas, dan latar belakang yang bersatu dalam kegiatan. Bahkan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tercermin dalam sifat inklusif acara terbuka bagi siapa saja.
Tradisi sebagai Sarana Civic Engagement
Dari sudut pandang kewarganegaraan, pelestarian Maulid Nabi di Sumowono mencerminkan civic engagement atau keterlibatan aktif warga negara dalam membangun komunitas. Sejalan dengan pendapat Sofyan (2020), tradisi keagamaan di tingkat desa menjadi sarana yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila dan memperkuat ikatan sosial masyarakat. Kegiatan seperti Maulid Nabi berperan dalam membangun civic engagement yang berakar pada budaya lokal (Kusuma & Fadillah, 2021).
Tantangan dan Adaptasi di Era Digital
Namun, di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, tantangan terhadap pelestarian tradisi menjadi nyata. Generasi muda yang lebih akrab dengan budaya populer global kadang menganggap tradisi semacam Maulid sebagai “kuno” atau tidak relevan. Oleh karena itu, perlu pendekatan kreatif agar tradisi ini tetap hidup dan diterima. Misalnya, dengan mendokumentasikan Maulid secara digital, mengunggahnya ke media sosial, atau mengemas tausiyah dengan gaya bahasa yang lebih kekinian.
Sejalan dengan pendapat Abuddin Nata (dalam Mukdar Boli, 2018) pelestarian tradisi Islam di era modern harus dilakukan melalui pendekatan yang kreatif dan edukatif, agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya. Dalam konteks Sumowono, pendekatan ini dapat menjadi jalan tengah antara pelestarian warisan lokal dan kebutuhan akan komunikasi yang relevan di era digital
Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan
Melihat nilai-nilai yang dikandung serta dampaknya yang positif, saya berpendapat bahwa tradisi Maulid Nabi di Sumowono perlu dilestarikan dengan adaptasi. Artinya, substansi spiritual dan sosial budaya tetap dijaga, namun bentuk penyampaiannya bisa menyesuaikan dengan konteks zaman. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kebangsaan yang dinamis dan inklusif.
Melalui tradisi Maulid Nabi, Sumowono menunjukkan bahwa spiritualitas Islam dan nilai-nilai Pancasila dapat berjalan beriringan. Dari langgar sederhana hingga perayaan besar yang melibatkan habib dan ribuan jamaah, Maulid Nabi menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat identitas keislaman sekaligus nasionalisme. Ini adalah bukti bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan di era modern, tetapi justru bisa menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Daftar Pustaka
Boli, M. (2018). Pendidikan Islam dan Tantangan Modernitas. Jurnal Al-Tadzkiyyah, 9(1), 45–60.
Kusuma, A. Z., & Fadillah, M. (2021). Revitalisasi Civic Engagement dalam Konteks Masyarakat Berbasis Tradisi. Jurnal Civic Hukum, 6(1), 45–55.
Setiyaningsih, S. I., & Asekhatul, L. H. (2022). Lebaran Maulid: Tinjauan bentuk dan nuansa pelaksanaan tradisi masyarakat Demak. Universitas Islam Negeri Walisongo.
Sofyan, H. (2020). Internalisasi Nilai-nilai Pancasila melalui Tradisi Keagamaan di Masyarakat Pedesaan. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 33(2), 120–130.
