Konten dari Pengguna

Dianggap Candaan, Padahal Pelecehan: Realita di Lingkungan Sekolah

Jessica Vabiola Kilis

Jessica Vabiola Kilis

Siswa SMK Katolik St. Familia Tomohon Jurusan Manajemen Perkantoran

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jessica Vabiola Kilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lingkungan sekolah, interaksi antar siswa sering kali dipenuhi dengan canda dan tawa. Namun, tidak semua yang dianggap “bercanda” benar-benar aman dan bisa diterima. Ada batas yang sering kali dilanggar, terutama ketika candaan tersebut menyentuh aspek fisik atau seksual—yang tanpa disadari sudah masuk dalam kategori pelecehan.

Ilustrasi siswi yang mengalami tekanan dan perlakuan tidak pantas di lingkungan sekolah. (Dokumen Pribadi, 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswi yang mengalami tekanan dan perlakuan tidak pantas di lingkungan sekolah. (Dokumen Pribadi, 2026)

Fenomena ini cukup sering terjadi di kalangan remaja. Mulai dari komentar tentang tubuh, sentuhan yang tidak diinginkan, hingga “lelucon” bernuansa seksual yang dianggap biasa. Ironisnya, banyak pelaku maupun saksi yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar, bahkan bagian dari keakraban.

Dalam kajian psikologi sosial, perilaku seperti ini dapat dijelaskan melalui konsep normalisasi perilaku menyimpang, yaitu ketika tindakan yang sebenarnya tidak pantas menjadi terlihat “biasa” karena sering terjadi dan tidak mendapatkan teguran. Hal ini membuat batas antara candaan dan pelecehan menjadi semakin kabur.

Menurut World Health Organization, pelecehan seksual tidak selalu berbentuk tindakan ekstrem. Perkataan, isyarat, atau sentuhan yang bersifat seksual dan membuat seseorang merasa tidak nyaman juga termasuk dalam kategori pelecehan. Artinya, alasan “hanya bercanda” tidak bisa dijadikan pembenaran.

Selain itu, dalam perspektif perkembangan remaja, masa sekolah adalah fase di mana individu sedang mencari jati diri dan belajar memahami batasan sosial. Psikolog perkembangan Erik Erikson menyebut fase ini sebagai tahap pencarian identitas. Sayangnya, tanpa edukasi yang tepat, proses ini bisa diiringi dengan perilaku yang salah arah, termasuk dalam memahami batasan interaksi dengan orang lain.

Ilustrasi saat candaan jadi tekanan. (Dokumen Pribadi, 2026)

Menurut saya, masalah utama dari fenomena ini bukan hanya pada tindakan pelecehan itu sendiri, tetapi pada bagaimana lingkungan meresponsnya. Ketika korban memilih diam karena takut dianggap “berlebihan”, dan pelaku merasa tindakannya wajar karena tidak ditegur, maka siklus ini akan terus berulang.

Budaya “maklum karena bercanda” justru menjadi ruang aman bagi perilaku yang seharusnya dihentikan. Padahal, dampaknya tidak kecil. Korban bisa mengalami ketidaknyamanan, rasa malu, bahkan penurunan kepercayaan diri. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental mereka.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar dan berkembang, bukan tempat di mana seseorang harus merasa tidak nyaman hanya karena dianggap “tidak bisa diajak bercanda”. Penting bagi semua pihak—baik siswa, guru, maupun lingkungan sekolah—untuk mulai memahami bahwa setiap individu memiliki batas yang harus dihormati.

Karena pada akhirnya, tidak semua candaan itu lucu. Dan jika sebuah “candaan” membuat orang lain merasa tidak nyaman, mungkin itu bukan candaan lagi.