Validasi Digital dan Hilangnya Kepercayaan Diri

Siswa SMK Katolik St. Familia Tomohon Jurusan Manajemen Perkantoran
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Jessica Vabiola Kilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Sebagai siswa, saya melihat bahwa penggunaan media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai tempat untuk mengekspresikan diri dan memperoleh pengakuan dari orang lain. Hampir setiap hari, kita mengakses berbagai platform untuk melihat unggahan orang lain sekaligus membagikan aktivitas pribadi. Tanpa disadari, muncul kecenderungan untuk menantikan respons berupa “like”, komentar, maupun jumlah tayangan.
Fenomena ini dapat dikaitkan dengan konsep validasi digital, yaitu kebutuhan individu untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan sosial melalui media daring. Respons positif yang diterima sering kali menimbulkan perasaan dihargai dan meningkatkan kepercayaan diri. Namun, apabila respons yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, hal tersebut dapat memunculkan kekecewaan dan berdampak pada penurunan kepercayaan diri.
Selain itu, media sosial juga mendorong terjadinya perbandingan sosial. Remaja cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih menarik. Padahal, informasi yang ditampilkan di media sosial umumnya bersifat selektif dan tidak mencerminkan kondisi secara menyeluruh. Akibatnya, individu dapat mengembangkan persepsi diri yang negatif dan merasa kurang dibandingkan orang lain.
Permasalahan ini pada dasarnya tidak terletak pada keberadaan media sosial, melainkan pada pola penggunaannya. Ketergantungan terhadap validasi eksternal dapat menyebabkan individu lebih berfokus pada penilaian orang lain daripada proses pengenalan diri. Hal ini berpotensi menghambat perkembangan kepercayaan diri yang seharusnya dibangun secara internal.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dalam menggunakan media sosial. Individu, khususnya remaja, perlu menyadari bahwa nilai diri tidak seharusnya ditentukan oleh respons yang diterima di dunia digital. Upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri dapat dilakukan dengan mengurangi kebiasaan membandingkan diri serta lebih fokus pada pengembangan potensi pribadi.
Kepercayaan diri yang kuat pada dasarnya terbentuk melalui proses pengalaman, pembelajaran, dan penerimaan terhadap diri sendiri. Dengan demikian, individu dapat memiliki kestabilan emosional yang tidak mudah dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Sebagai kesimpulan, media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai alat pendukung, bukan sebagai penentu nilai diri. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menggunakan media sosial secara bijak agar tidak kehilangan jati diri dan tetap mampu mengembangkan kepercayaan diri secara sehat.
