Konten dari Pengguna

Dari Peta ke Aksi: KKNT IPB Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Longsor di Desa Wangun

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jauza Zaky Raihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama BPBD, Masyarakat Desa, dan Mahasiswa KKNT IPB University (Sumber : Dokumentasi Kelompok KKNT)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama BPBD, Masyarakat Desa, dan Mahasiswa KKNT IPB University (Sumber : Dokumentasi Kelompok KKNT)

Desa Wangunjaya, Kecamatan Campaka — Tingginya potensi bencana longsor di wilayah Desa Wangunjaya menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan KKNT IPB University. Kondisi wilayah yang memiliki karakteristik perbukitan mendorong mahasiswa KKNT untuk menghadirkan dua program yang saling berkaitan, yaitu SIGAP Longsor (Sistem Geospasial Analisis Potensi Longsor) dan SIAGA (Sosialisasi dan Edukasi Tanggap Bencana).

Kedua program tersebut menjadi upaya untuk tidak hanya mengenali wilayah yang berpotensi terdampak longsor, tetapi juga meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Foto Bersama Penyerahan Peta Rawan Longsor yang telah dibuat (Sumber : Dokumentasi Kelompok KKNT)

SIGAP Longsor: Memetakan Risiko untuk Mitigasi

Program SIGAP Longsor dilakukan melalui pemetaan area rawan longsor di Desa Wangunjaya. Pemetaan memanfaatkan data topografi, curah hujan, dan tutupan lahan untuk menghasilkan informasi mengenai tingkat potensi longsor di wilayah desa.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembuatan peta pada 15–19 Juli, dilanjutkan dengan ground checking pada 2–3 Agustus untuk menyesuaikan hasil pemetaan dengan kondisi lapangan. Tahap akhir dilakukan melalui pencetakan peta pada 4 Agustus.

Hasil pemetaan menunjukkan adanya area dengan tingkat kerawanan longsor yang berbeda di wilayah Desa Wangunjaya. Peta tersebut kemudian menjadi salah satu luaran utama program SIGAP Longsor dan diserahkan kepada pemerintah desa sebagai informasi pendukung dalam upaya mitigasi.

Melalui program ini, pemerintah desa dan masyarakat diharapkan lebih mudah mengenali wilayah yang memiliki potensi longsor. Informasi tersebut juga dapat mendukung penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan, serta upaya mitigasi bencana di tingkat desa.

Foto saat penjelasan materi oleh BPBD Kab.Cianjur (Sumber : Dokumentasi KelompoK KKNT)

SIAGA: Mengubah Informasi Menjadi Kesiapsiagaan

Informasi mengenai potensi longsor kemudian diperkuat melalui program SIAGA (Sosialisasi dan Edukasi Tanggap Bencana). Program ini dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Cianjur.

Kegiatan berlangsung pukul 13.00–16.30 WIB dan diikuti oleh 44 peserta, melebihi target awal sebanyak 20 orang. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh edukasi mengenai mitigasi bencana, kesiapsiagaan, serta prosedur evakuasi ketika menghadapi potensi bencana.

Rangkaian kegiatan meliputi registrasi peserta, pembukaan, penyampaian materi oleh BPBD Kabupaten Cianjur, diskusi dan tanya jawab, hingga penyerahan peta risiko longsor kepada pemerintah Desa Wangunjaya.

Antusiasme peserta menjadi salah satu capaian penting dalam pelaksanaan SIAGA. Jumlah peserta yang mencapai 44 orang menunjukkan tingginya ketertarikan masyarakat terhadap informasi mengenai kesiapsiagaan bencana.

Dari Pemetaan Menuju Kesiapsiagaan

SIGAP Longsor dan SIAGA dirancang sebagai dua program yang saling melengkapi. SIGAP Longsor menyediakan informasi mengenai potensi risiko melalui pemetaan, sedangkan SIAGA menerjemahkan informasi tersebut menjadi pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Melalui kedua program tersebut, KKNT IPB berupaya mendorong Desa Wangunjaya agar tidak hanya mengetahui wilayah yang berisiko, tetapi juga memiliki kesiapan dalam menghadapi kemungkinan bencana.

Peta risiko longsor yang dihasilkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh pemerintah desa sebagai informasi pendukung dalam perencanaan dan mitigasi. Sementara itu, pengetahuan yang diperoleh melalui SIAGA diharapkan dapat diterapkan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di lingkungan sekitarnya.

Dari sebuah peta, lahir langkah untuk bersiap. Dari sebuah edukasi, tumbuh masyarakat yang lebih tanggap. SIGAP dan SIAGA menjadi bagian dari langkah KKNT IPB dalam membangun Desa Wangunjaya yang lebih siap menghadapi risiko bencana.