Meneguk Kecemasan: Ketika Mahasiswa Menjadikan Kopi Sebagai Pelarian

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vadilla Nur Maulidah Farid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak pojok kampus, dari ruang kelas hingga kafe kecil di pinggir jalan, aroma kopi jadi teman akrab yang menemani mahasiswa. Bukan cuma soal rasa atau kenikmatan, kopi diam-diam menjelma jadi semacam penyelamat, atau bahkan pelarian, dari tekanan dunia akademik yang makin hari makin menyesakkan.
Kita mungkin berpikir bahwa kopi hanya sekadar minuman yang membantu melawan kantuk. Tapi nyatanya, untuk banyak mahasiswa, secangkir kopi adalah senjata melawan lelah, penunda ambruk, dan alat bantu menghadapi malam-malam panjang penuh deadline tugas atau bahkan revisi skripsi yang tak ada habisnya. Kalimat “Ngopi dulu biar melek” bukan cuma candaan—itu realitas sehari-hari.
Kopi punya tempat khusus di kehidupan mahasiswa. Ia jadi ritual, bahkan identitas tak tertulis. Rasanya belum ‘produktif’ kalau belum ngopi. Tak jarang kopi dianggap sebagai simbol daya juang—semakin sering ngopi, seolah semakin gigih perjuangannya.
Tapi, ada satu sisi yang jarang dibicarakan. Di balik aroma nikmat dan rasa pahit yang menenangkan, kopi pelan-pelan menjelma dari kebiasaan menjadi kebutuhan. Sebagian dari kita bahkan merasa tak bisa berpikir jernih atau menyelesaikan tugas tanpanya. Kopi jadi "penopang" agar tetap bisa berfungsi, meski tubuh sebenarnya sudah lelah dan pikiran mulai jenuh.
Tanpa kita sadari, banyak mahasiswa minum kopi bukan lagi karena suka—tapi karena terpaksa. Terpaksa agar bisa tetap terjaga, tetap fokus, tetap “waras”. Sistem pendidikan yang menghargai produktivitas tapi abai terhadap kesehatan mental, membuat mahasiswa mencari jalan keluar tercepat. Dan kopi, dengan segala kemudahan dan citranya yang ramah, jadi pilihan pelarian paling masuk akal.
Tekanan akademik itu nyata. Dari tuntutan IPK tinggi, tugas menumpuk, beban skripsi, kecemasan soal masa depan, sampai perbandingan dengan teman sebaya. Semua itu menumpuk, menekan, dan dalam diam menciptakan luka yang tak terlihat. Di titik inilah, kopi berperan sebagai penawar sementara. Memberi ilusi bahwa semuanya baik-baik saja—padahal tidak.
Kebiasaan atau Ketergantungan?
Batas antara menikmati dan bergantung makin tipis. Awalnya satu gelas, lalu dua, tiga, dan entah kapan berhentinya. Tubuh makin kebal, tapi pikiran makin menuntut. Akhirnya kopi bukan lagi soal rasa, tapi soal bertahan hidup dalam sistem yang tak pernah benar-benar memberi ruang bernapas.
Ironisnya, budaya ini justru sering dirayakan. Lembur dianggap keren. Kantung mata jadi lambang kerja keras. Ngopi semalaman untuk ngerjain tugas dianggap bentuk totalitas. Kita lupa bahwa di balik itu semua, ada tubuh yang menjerit, ada mental yang lelah, dan ada jiwa yang pelan-pelan terkikis.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan kopi. Kopi tetaplah kopi. Ia tidak bersalah. Tapi kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar menyukai kopi? Atau justru kita hanya menjadikannya tameng agar tetap bisa bertahan dalam tekanan yang tidak manusiawi?
Sudah saatnya kita memikirkan ulang. Mungkin bukan kopinya yang butuh berhenti diseduh, tapi kita yang butuh berhenti sejenak. Memberi tubuh waktu untuk istirahat. Memberi pikiran kesempatan untuk bernapas. Dan memberi diri sendiri ruang untuk tidak selalu kuat setiap saat.
Sebab di balik setiap tegukan, ada cerita yang lebih dalam dari sekadar rasa. Kadang, satu-satunya hal yang lebih penting dari menyelesaikan tugas adalah menyelamatkan dirimu sendiri dan mementingkan kesehatan.
