Perempuan Tidak Dilahirkan untuk Melahirkan

Mahasiswi Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Vadilla Nur Maulidah Farid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kecil, banyak perempuan secara tidak langsung diajarkan bahwa hidup mereka memiliki satu tujuan yang seolah tidak dapat ditawar: tumbuh dewasa, menikah, hamil, lalu menjadi ibu. Ketika memasuki usia tertentu, pertanyaan tentang pasangan dan anak mulai berdatangan. “Kapan menikah?” “Kapan punya anak?” “Jangan terlalu lama, nanti susah hamil.” Bahkan setelah menikah, pertanyaan mengenai anak seolah menjadi bagian yang dianggap wajar untuk terus ditanyakan.
Seolah-olah tubuh dan masa depan perempuan adalah sesuatu yang boleh direncanakan, dipertanyakan, bahkan diputuskan oleh orang lain.
Padahal, perempuan tidak dilahirkan untuk melahirkan. Perempuan dilahirkan untuk menjalani hidupnya sendiri dan memiliki hak untuk menentukan apa yang ingin ia lakukan dengan tubuh dan kehidupannya.
Kemampuan biologis untuk hamil dan melahirkan memang merupakan bagian dari fungsi reproduksi perempuan. Namun, kemampuan bukan berarti kewajiban. Memiliki rahim tidak berarti seorang perempuan wajib menggunakannya untuk memiliki anak. Begitu pula menikah tidak otomatis berarti seseorang harus memiliki anak.
Di sinilah pentingnya membedakan antara kemampuan biologis, pilihan pribadi, dan tekanan sosial.
Kehamilan dan persalinan dapat menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan bagi sebagian perempuan. Ada perempuan yang sejak awal memang menginginkan anak, menantikan kehamilan, menikmati proses menjadi ibu, dan menemukan kebahagiaan melalui keluarganya. Pilihan tersebut sepenuhnya layak dihormati.
Namun, pengalaman yang membahagiakan bagi satu perempuan tidak seharusnya dijadikan standar kehidupan bagi seluruh perempuan.
Masalahnya bukan pada perempuan yang memilih menjadi ibu. Masalahnya adalah ketika menjadi ibu dianggap sebagai satu-satunya jalan yang benar bagi seorang perempuan.
Berhenti Meromantisasi Kehamilan dan Persalinan
Kehamilan dan persalinan sering kali diceritakan dengan narasi yang sangat romantis. Kehamilan disebut sebagai “anugerah terindah”, persalinan sebagai “perjuangan paling mulia”, dan menjadi ibu sebagai “kesempurnaan seorang perempuan.”
Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan perempuan yang merasakan dan memaknai pengalaman tersebut demikian.
Yang menjadi persoalan adalah ketika sisi indahnya terus ditonjolkan, sementara sisi beratnya dianggap tidak perlu dibicarakan.
Kehamilan bukan hanya tentang foto maternity, menyiapkan pakaian bayi, memilih nama, atau merasakan gerakan bayi dalam kandungan. Kehamilan juga berarti perubahan hormon, perubahan tubuh, rasa mual, kelelahan, gangguan tidur, ketidaknyamanan fisik, serta kemungkinan munculnya berbagai risiko kesehatan.
Persalinan pun bukan sekadar momen haru ketika seorang ibu akhirnya bertemu dengan bayinya. Bagi sebagian perempuan, persalinan dapat menjadi pengalaman yang sangat berat secara fisik maupun emosional.
Setelah bayi lahir, perjuangan juga tidak otomatis selesai.
Ada proses pemulihan tubuh, menyusui, kurang tidur, pengasuhan, pekerjaan domestik, kebutuhan finansial, pendidikan anak, kesehatan, hingga tanggung jawab emosional yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Karena itu, keputusan untuk memiliki anak bukanlah keputusan kecil yang pantas dibuat hanya karena seseorang merasa “sudah waktunya”, karena teman-temannya sudah memiliki anak, atau karena keluarga menginginkan cucu.
Kehamilan bukan sekadar sebuah fase yang “akan dijalani semua perempuan.” Kehamilan adalah keputusan besar yang memiliki konsekuensi nyata terhadap kehidupan seseorang.
Maka, perempuan berhak mengetahui kenyataan tersebut secara utuh, bukan hanya mendengar bahwa semuanya akan terasa indah ketika waktunya tiba.
“Kapan Punya Anak?” Bukan Pertanyaan yang Selalu Sederhana
Di masyarakat, pertanyaan tentang anak sering dianggap sebagai bentuk perhatian.
“Kapan menyusul?”
“Kapan punya momongan?”
“Mumpung masih muda.”
“Nanti kalau sudah tua siapa yang merawat?”
Bagi orang yang bertanya, mungkin kalimat tersebut terasa ringan. Tetapi bagi orang yang menerimanya, pertanyaan itu dapat menjadi tekanan yang terus berulang.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dihadapi seseorang.
Ada perempuan yang memang belum ingin memiliki anak. Ada yang sedang mempertimbangkan kehidupannya. Ada yang belum merasa siap secara mental, fisik, maupun finansial. Ada yang memiliki pertimbangan pribadi yang tidak ingin ia ceritakan. Ada pula yang sebenarnya menginginkan anak tetapi menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya.
Karena itu, pertanyaan mengenai reproduksi seseorang tidak selalu sesederhana rasa ingin tahu.
Tidak semua hal yang dapat ditanyakan berarti layak ditanyakan.
Kita perlu belajar memahami bahwa seseorang tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan alasan mengapa ia belum memiliki anak atau mengapa ia memilih untuk tidak memilikinya.
Tekanan Tidak Selalu Datang dalam Bentuk Paksaan
Ketika membicarakan paksaan, kita sering membayangkan sesuatu yang sangat jelas: seseorang dipaksa secara langsung untuk hamil atau memiliki anak.
Padahal, tekanan sosial tidak selalu bekerja seperti itu.
Tekanan dapat hadir melalui candaan yang terus diulang, pertanyaan yang tidak berhenti, perbandingan dengan orang lain, komentar keluarga, atau kalimat yang terdengar seperti nasihat.
“Orang tua cuma ingin punya cucu.”
“Masa kamu tega tidak memberikan cucu?”
“Suamimu pasti ingin punya anak.”
“Nanti kamu menyesal kalau sudah tua.”
“Perempuan itu kodratnya menjadi ibu.”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin tidak selalu dimaksudkan sebagai paksaan. Namun ketika terus diberikan, seseorang dapat merasa bahwa pilihan pribadinya tidak cukup dihargai.
Pada akhirnya, perempuan mungkin mengambil keputusan bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut mengecewakan orang tua, pasangan, keluarga besar, atau lingkungan.
Di titik itulah kita perlu bertanya: apakah sebuah keputusan benar-benar merupakan pilihan apabila seseorang merasa tidak bebas untuk mengatakan “tidak?”
Anak Bukan Kewajiban kepada Keluarga
Salah satu sumber tekanan terbesar dapat berasal dari keluarga.
Orang tua ingin memiliki cucu. Kakek dan nenek ingin melihat keturunan. Keluarga besar mulai menghitung usia. Lingkungan mulai membandingkan dengan saudara atau teman sebaya.
Perempuan akhirnya dapat merasa bahwa ia harus memiliki anak demi memenuhi harapan keluarganya.
Padahal, anak bukan hadiah untuk orang tua dan bukan kewajiban seorang perempuan kepada keluarga besarnya.
Orang tua tentu boleh memiliki keinginan untuk memiliki cucu. Namun keinginan tersebut tidak memberikan hak kepada mereka untuk menentukan kapan anaknya harus hamil atau berapa banyak anak yang harus dimiliki.
Begitu pula pasangan.
Pernikahan bukan berarti tubuh seorang perempuan menjadi milik pasangan. Menikah tidak menghapus hak seseorang untuk memiliki kehendak atas tubuhnya sendiri. Keputusan mengenai anak merupakan sesuatu yang seharusnya dibicarakan dan disepakati bersama, dengan mempertimbangkan keinginan, kondisi, kesiapan, dan tanggung jawab kedua belah pihak.
Dan yang paling penting, seorang anak tidak seharusnya dilahirkan hanya untuk memenuhi keinginan orang lain.
Anak bukan alat untuk mempertahankan pernikahan. Bukan alat untuk mempererat hubungan keluarga. Bukan penerus yang harus memenuhi ambisi orang tua. Dan bukan jaminan bahwa seseorang akan memiliki teman atau perawat ketika tua.
Anak adalah manusia yang kelak memiliki kehidupan dan kehendaknya sendiri.
“Kodrat Perempuan” Tidak Boleh Menjadi Alat untuk Memaksa
Istilah “kodrat perempuan” juga sering digunakan dalam pembicaraan mengenai kehamilan dan motherhood.
Perempuan memang memiliki kemampuan biologis untuk hamil dan melahirkan. Tetapi kemampuan biologis tersebut tidak otomatis menjadi kewajiban sosial.
Kemampuan untuk melakukan sesuatu berbeda dengan kewajiban untuk melakukannya.
Seorang perempuan dapat memiliki kemampuan untuk hamil tanpa harus memilih untuk hamil. Ia dapat menikah tanpa ingin memiliki anak. Ia juga dapat memilih untuk tidak menikah.
Mengatakan bahwa perempuan “memang kodratnya melahirkan” juga berisiko menyederhanakan identitas perempuan hanya menjadi fungsi reproduksinya. Seolah-olah nilai seorang perempuan dapat diukur dari apakah ia sudah menikah, sudah hamil, sudah melahirkan, atau sudah memiliki anak.
Padahal, perempuan memiliki identitas, cita-cita, kemampuan, pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, dan berbagai tujuan hidup yang jauh lebih luas daripada fungsi reproduksinya.
Rahim bukan ukuran nilai seorang perempuan.
Menjadi ibu bukan syarat untuk menjadi perempuan yang utuh.
Kebebasan Memilih Harus Berlaku untuk Semua
Kebebasan reproduksi tidak berarti bahwa semua perempuan harus memilih untuk tidak memiliki anak.
Justru sebaliknya.
Kebebasan berarti memberikan ruang kepada perempuan untuk menentukan pilihannya sendiri.
Perempuan yang ingin memiliki anak berhak dihormati.
Perempuan yang belum ingin memiliki anak juga berhak dihormati.
Perempuan yang memilih tidak memiliki anak pun tetap berhak dihormati.
Jangan sampai kita mengganti satu bentuk tekanan dengan bentuk tekanan yang lain. Jangan sampai kritik terhadap romantisasi motherhood justru berubah menjadi anggapan bahwa perempuan yang ingin menjadi ibu adalah perempuan yang tidak mandiri atau tidak memiliki ambisi.
Menjadi ibu adalah pilihan yang sah.
Tidak menjadi ibu juga merupakan pilihan yang sah.
Yang seharusnya ditolak adalah pemaksaan terhadap pilihan tersebut.
Sebab setiap perempuan memiliki kondisi, nilai, prioritas, dan tujuan hidup yang berbeda. Ada perempuan yang menemukan kebahagiaan melalui motherhood. Ada pula yang menemukan makna hidup melalui pendidikan, karier, karya, keluarga, persahabatan, pengabdian sosial, atau berbagai hal lainnya.
Tidak ada satu jalan hidup yang wajib menjadi ukuran bagi semua perempuan.
Jangan Menjadikan Penyesalan sebagai Alat Menakut-nakuti
Salah satu bentuk tekanan yang sering digunakan adalah ketakutan akan masa depan.
“Nanti kalau tua kamu akan menyesal.”
“Siapa yang akan menemanimu kalau tidak punya anak?”
“Kamu akan kesepian.”
Mungkin seseorang benar-benar merasa bahwa memiliki anak akan membuat masa tuanya lebih bahagia. Tetapi itu adalah pandangan pribadi, bukan kepastian universal.
Memiliki anak juga tidak dapat dijadikan jaminan bahwa seseorang akan selalu ditemani, dirawat, atau memiliki hubungan yang dekat ketika tua. Anak kelak memiliki kehidupan, pilihan, dan jalan hidupnya sendiri.
Karena itu, keputusan memiliki anak seharusnya tidak dibangun di atas ketakutan.
Bukan karena takut tua.
Bukan karena takut dianggap egois.
Bukan karena takut menjadi bahan pembicaraan.
Bukan karena takut mengecewakan keluarga.
Dan bukan karena takut dianggap berbeda.
Keputusan sebesar menghadirkan manusia baru ke dunia seharusnya lahir dari kesadaran, keinginan, dan kesiapan untuk menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua.
Biarkan Perempuan Menentukan Hidupnya Sendiri
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Mengapa kamu belum punya anak?” dan mulai memahami bahwa tidak semua orang memiliki definisi kehidupan yang sama.
Tidak semua perempuan harus menikah.
Tidak semua perempuan harus hamil.
Tidak semua perempuan harus melahirkan.
Tidak semua perempuan harus menjadi ibu.
Dan tidak semua perempuan harus menjalani kehidupan yang sesuai dengan ekspektasi masyarakat untuk membuktikan bahwa dirinya adalah perempuan yang baik.
Jika seorang perempuan memilih menjadi ibu karena memang menginginkannya, hormati pilihannya.
Jika seorang perempuan memilih untuk tidak menjadi ibu, hormati pula pilihannya.
Jika seseorang masih belum tahu apa yang ia inginkan, berikan ruang baginya untuk mencari tahu tanpa terus didesak.
Sebab kebebasan bukan hanya tentang memberikan seseorang pilihan yang kita sukai. Kebebasan berarti memberikan ruang bagi seseorang untuk menentukan pilihannya sendiri, bahkan ketika pilihan tersebut berbeda dari apa yang kita bayangkan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang apakah menjadi ibu itu baik atau buruk. Bukan pula tentang apakah memiliki anak akan membuat seseorang lebih bahagia atau tidak.
Persoalannya adalah siapa yang berhak menentukan keputusan tersebut.
Jawabannya bukan tetangga.
Bukan keluarga besar.
Bukan masyarakat.
Bukan pula norma sosial yang mengatakan bahwa perempuan harus mengikuti satu jalan hidup tertentu.
Keputusan itu berada pada perempuan yang akan menjalani konsekuensinya, dan—dalam konteks hubungan bersama—pada pasangan yang terlibat, melalui keputusan yang bebas dan saling menghormati.
Karena itu, berhentilah menjadikan kehamilan sebagai kewajiban, persalinan sebagai pembuktian, dan motherhood sebagai ukuran kesempurnaan perempuan.
Perempuan tidak dilahirkan untuk memenuhi ekspektasi siapa pun.
Perempuan tidak dilahirkan semata-mata untuk menikah.
Dan perempuan tidak dilahirkan untuk melahirkan.
Perempuan dilahirkan sebagai manusia—dengan kehendak, pilihan, impian, dan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
