Kesehatan Mental: Menjadi Rapuh Bukan Berarti Lemah

Mahasiswa aktif Universitas Pamulang, jurusan Sastra Indonesia. Saya tertarik menulis tentang kesehatan mental, pendidikan, dan budaya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ananda Putra Valentino Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya tahu, kadang tubuh kita terlihat baik-baik saja. selalu tersenyum di depan orang, tertawa seperti biasa, dan menjalani hari seolah semuanya baik-baik saja. Namun di dalam diri, ada tumpukan beban yang tidak terihat, sebuah tekanan yang terus mengganjal, menyiksa, dan tidak kunjung hilang.
Saya pernah berada dalam situasi di mana bangun pagi terasa sangat berat untuk memulai hari. Bukan karena kurang tidur, tapi karena sudah terlalu lelah dengan segalanya, batin sudah tidak mampu untuk berpura-pura baik-baik saja. Pikiran saya terus berputar tanpa henti, gelisah dan cemas tanpa sebab yang jelas. Tapi tetap, saya memilih diam. Saya enggan bercerita pada siapa pun, karena takut dianggap lemah, lebay, atau kurang ibadah.
Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kita tidak akan dipaksa berlari saat kaki kita terluka, bukan? Lantas mengapa harus memaksa terus berjalan ketika hati dan pikiran kita sedang terluka? Luka di dalam diri memang tidak berdarah, tidak membiru, dan sering kali tidak terlihat. Tapi luka itu nyata, dan menyakitkan. Menyerang dari dalam, pelan-pelan mengikis semangat untuk hidup.
Saya pelan-pelan mulai memahami bahwa tidak apa-apa mengakui kalau saya sedang tidak baik-baik saja. Tidak apa-apa untuk berkata, “Saya lelah,” tanpa harus merasa bersalah atau malu. Karena menjadi sehat bukan hanya soal tubuh yang bugar, tapi juga pikiran yang tenang dan hati yang damai. Kita tidak harus selalu terlihat baik-baik saja. Tidak perlu memaksakan senyum saat sebenarnya ingin menangis. Sebab kita hanyalah manusia biasa, bukan pahlawan super yang harus kuat setiap waktu. Menjadi manusia berarti memiliki ruang untuk merasa rapuh dan itu adalah hal yang wajar.
Jika Anda juga sedang merasa seperti saya, ingin diam tapi hati dan pikiran terasa bising, ingatlah bahwa Anda tidak sendiri. Anda berhak beristirahat, maka izinkanlah diri Anda untuk berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Dengar suara dalam diri sendiri. Anda berhak sehat luar dalam. Jika perlu, carilah bantuan profesional. Berbicara dengan teman, menulis, atau bahkan menemui profesional adalah bentuk keberanian untuk mencintai diri sendiri.
Mental yang lelah itu nyata. Ia tidak perlu disembunyikan. Tidak harus dipendam terus-menerus. Kita semua berhak untuk merasa sehat, utuh, dan bahagia tanpa syarat, tanpa harus selalu terlihat kuat.
