Untuk yang Bingung Kenapa Selalu Marah Saat Diajak Bicara Keluarga

Mahasiswa aktif Universitas Pamulang, jurusan Sastra Indonesia. Saya tertarik menulis tentang kesehatan mental, pendidikan, dan budaya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ananda Putra Valentino Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah Anda suka kesal saat diajak bicara oleh keluarga? (ibu, ayah, kakak, adik, dll) Apakah Anda menjawabnya dengan nada tinggi? Apakah Anda tiba-tiba saja merasa marah, padahal hanya obrolan ringan saja?
Kita cenderung meluapkan emosi negatif kepada orang yang kita anggap aman. Secara tidak sadar, alam bawah sadar kita tahu bahwa keluarga tidak akan meninggalkan kita saat kita membentak mereka. Beda halnya dengan kita membentak bos, jika Anda menjawab dengan marah saat bos bertanya, mungkin nasib anda akan menjadi pengangguran dalam beberapa menit kemudian.
Diri Anda sudah lelah setelah beraktivitas seharian, saat Anda pulang ke rumah dan berharap mendapatkan ketenangan, yang Anda temui justru interaksi yang mengharuskan Anda untuk mengeluarkan energi lagi. Saat pintu terbuka dan Ibu atau Ayah menyapa dengan pertanyaan sederhana, rasanya seperti ada saklar di kepala yang tiba-tiba klik.
Tanpa aba-aba Anda meledak begitu saja. Nada bicara pun meninggi, kalimat ketus terlontar begitu saja. Padahal, mereka hanya bertanya “Gimana kerjaannya?” atau “Udah makan belum?”. Tapi bagi Anda yang sedang lelah, perhatian itu terasa seperti gangguan yang menunda untuk istirahat.
Pernahkah Anda merenung, kenapa tembok pertahanan Anda setebal dan seaktif itu? Jawabannya, mungkin tersimpan jauh di masa lalu. Coba putar kembali memori Anda ke masa kecil atau beberapa tahun ke belakang. Apakah Anda pernah berada di posisi sebaliknya? Saat Anda antusias bertanya atau bercerita, namun respons yang didapat justru bentakan? Mungkin dulu Anda sering mendengar, “Nanti aja, jangan ganggu dulu!”, “Berisik banget sih kamu!”, atau pertanyaan Anda diabaikan begitu saja dengan nada tinggi. Rasa sakit karena ditolak dan dibentak oleh orang terdekat itu membekas, menciptakan luka yang tidak terlihat namun nyata adanya.
Luka itulah yang memaksa Anda membangun sebuah tembok pembatas. Tembok ini awalnya dibangun untuk melindungi diri agar tidak disakiti lagi. Alam bawah sadar Anda merekam bahwa bertanya dan berinteraksi berpotensi sakit hati. Masalahnya, tembok pertahanan ini sekarang menjadi terlalu sensitif.
Saat keluarga bertanya hal-hal remeh atau bahkan menunjukkan kepedulian yang tulus, sensor bahaya di otak Anda menyala keliru. Sistem pertahanan diri Anda seakan berteriak, “Awas! Jangan biarkan mereka masuk! Nanti sakit lagi!”. Akibatnya, Anda menyerang duluan sebelum disakiti.
Anda membentak untuk menciptakan jarak, padahal jauh di lubuk hati, Anda tahu mereka peduli. Miris, bukan? Kita melukai orang yang sayang pada kita karena kita takut terluka oleh mereka seperti dulu. Lalu hening. Anda melihat wajah Ibu yang kaget, atau Adik yang terdiam takut.
Detik itu juga, adrenalin surut dan digantikan oleh gulungan ombak rasa bersalah yang besar. Anda menyesal, bingung, dan memaki diri sendiri, “Kenapa aku jahat banget, ya? Padahal mereka cuma nanya.”Jika siklus ini menyiksa Anda, percayalah, tembok itu bisa diturunkan pelan-pelan. Saya punya beberapa solusi yang pernah dan berhasil saya terapkan pada diri saya sendiri.
1. Jeda Sejenak
Saat pertanyaan terlempar dan dada Anda mulai terasa panas ingin marah, paksa mulut untuk diam selama 3 detik. Lalu, tarik napas yang panjang. Jeda ini memberi waktu bagi Anda untuk mengambil berpikir secara dingin.
2. Komunikasi
Daripada meledak, cobalah berusaha ganti. Katakan dengan nada rendah, “Bu, maaf ya aku capek banget hari ini dan lagi pusing.” Tidak usah panjang-panjang, cukup ada poin bahwa Anda ingin mengistirahatkan diri dulu.
3. Berdamai Dengan Masa Lalu
Sadari bahwa orang tua atau keluarga di hadapan Anda saat ini sedang mencoba peduli, bukan sosok yang dulu menyakiti Anda. Pisahkan memori masa lalu dengan realita sekarang. Memang sulit, pada cara ketiga ini saya butuh waktu yang cukup lama untuk berhasil.
Bagaimana tidak? Rasa sakit dari masa lalu sudah membekas di jauh lubuk hati yang dalam. Tapi percayalah, hasil tidak akan mengkhianati usaha. Selama Anda berusaha dan berproses, pasti Anda akan berhasil.
Anda harus pahami bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu di mana kita mungkin pernah dibentak, tapi kita punya kendali penuh untuk memutus rantai itu sekarang, agar rumah kembali menjadi tempat yang benar-benar aman, bukan tempat luapan emosi.
