Gerabah Misterius di Leang Pettang, Mahasiswa KKN-K Temukan Jejak Peradaban?
Tulisan dari Valerie Evelina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangkep, 8 Juli 2025 — Sebuah gua sunyi di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menyimpan kejutan tak terduga. Dalam aktivitas observasi wisata, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan XIII 2025 menemukan tumpukan pecahan gerabah di kedalaman Gua Leang Pettang, Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci. Temuan ini sontak memunculkan pertanyaan besar: apakah kawasan ini menyimpan jejak peradaban yang belum pernah tercatat?
Penemuan berlangsung pada Selasa, 8 Juli 2025. Delapan mahasiswa KKN, bersama tiga warga lokal, menelusuri gua hingga sekitar 1 kilometer dari mulut gua. Di titik terdalam yang bisa dijangkau manusia saat ini, mereka menemukan pecahan gerabah yang terkubur di antara endapan batu dan tanah.
“Selama puluhan tahun saya dan warga lain sering masuk ke gua ini, tapi baru kali ini ditemukan pecahan gerabah seperti ini. Rasanya cukup mengejutkan,” ungkap Ketua RT Malenge yang mendampingi tim mahasiswa.
Hingga kini, usia dan nilai sejarah gerabah tersebut masih misterius. Namun, penemuan ini memberi isyarat adanya aktivitas manusia di ruang gua yang sebelumnya dianggap hanya bentukan alam.
Sulawesi Selatan dikenal luas lewat temuan lukisan gua berusia 40 ribu tahun di Maros-Pangkep yang diakui sebagai salah satu seni figuratif tertua di dunia. Namun, penemuan pecahan gerabah di gua berair merupakan hal baru dan langka
Dosen pendamping KKN menilai, jika gerabah itu terbukti berusia ratusan bahkan ribuan tahun, Leang Pettang bisa menambah daftar situs penting bagi kajian arkeologi, sekaligus memperkaya pemahaman tentang dinamika kehidupan masyarakat masa lampau.
“Ini bisa membuka babak baru diskusi tentang bagaimana manusia masa lalu menggunakan gua bukan sekadar tempat berlindung, tapi juga ruang aktivitas budaya,” jelasnya.
Tak ingin temuan ini terabaikan, mahasiswa segera melaporkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep. Bahkan komunikasi awal dilakukan melalui media sosial Instagram, menandakan antusiasme generasi muda untuk menjaga warisan budaya.
“Kami berharap penemuan ini ditindaklanjuti dengan penelitian resmi, agar masyarakat tahu nilai penting Leang Pettang. Selain itu, gua ini berpotensi menjadi wisata edukasi berbasis sejarah,” ujar salah satu mahasiswa peserta KKN.
Penemuan ini menambah harapan bagi masyarakat lokal bahwa Pangkep bukan hanya kaya alam, tetapi juga sejarah. Jika diteliti lebih dalam, Leang Pettang bisa sejajar dengan gua prasejarah lain di dunia yang menjadi pusat perhatian akademisi internasional.
Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah pecahan gerabah itu sisa peradaban kuno, atau sekadar jejak aktivitas manusia beberapa abad lalu? Jawabannya masih menunggu penelitian lanjutan.
Satu hal pasti, Leang Pettang kini bukan lagi sekadar gua sunyi. Ia telah menjadi pintu masuk menuju misteri sejarah yang lebih dalam, yang siap menghubungkan Pangkep dengan panggung arkeologi dunia.

