KKN Undip Ajak Warga Cegah Osteoporosis dan Osteoarthritis, Cuma Modal Kedelai

Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro
Konten dari Pengguna
6 Agustus 2022 19:44
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Vanessa Farera tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Brosur Edukasi Pencegahan Osteoporosis dan Osteoarthritis dengan Susu Kedelai sebagai Fitoestrogen (Dok. Pribadi/diedit dengan Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Brosur Edukasi Pencegahan Osteoporosis dan Osteoarthritis dengan Susu Kedelai sebagai Fitoestrogen (Dok. Pribadi/diedit dengan Canva)
ADVERTISEMENT
Tambakaji, Semarang (23/07)—Osteoporosis dan osteoarthritis adalah kondisi umum yang kerap dialami orang-orang pada usia lanjut, khususnya bagi wanita yang kelak akan mengalami masa-masa menopause. Inilah yang menyebabkan wanita memiliki risiko empat kali lebih besar daripada pria untuk mengalami osteoporosis maupun osteoarthritis. Keadaan tersebut berkaitan dengan menurunnya hormon estrogen pada wanita sehingga tulang mudah keropos dan terjadi kerusakan pada tulang rawan yang seringkali menyebabkan rasa nyeri. Sebagai upaya pencegahan osteoporosis dan osteoarthritis bagi wanita perimenopause, salah satu mahasiswa KKN Tim II UNDIP 2021/2022 dari prodi Biologi memberikan edukasi di RW 06 Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan, mengenai fitoestrogen yang dapat ditemukan dalam biji kedelai.
Pelaksanaan Edukasi Fitoestrogen pada wanita di RW 06 Tambakaji, Ngaliyan, Semarang (23/07) (Dok.Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Pelaksanaan Edukasi Fitoestrogen pada wanita di RW 06 Tambakaji, Ngaliyan, Semarang (23/07) (Dok.Pribadi)
“Karena hormon estrogen menurun, jadi kita perlu asupan lain yang fungsinya mirip dengan hormone estrogen alami. Salah satunya yaitu dengan mengkonsumsi fitoestrogen yang bisa ditemukan pada biji kedelai,” jelas Vanessa, mahasiswa KKN yang melaksanakan edukasi tersebut.
ADVERTISEMENT
Kegiatan edukasi dimulai sekitar pukul 10.30 WIB pada 23 Juli 2022 di posyandu RW 06 Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan. Sebanyak 13 wanita yang hadir menyatakan bahwa mereka telah merasakan tanda-tanda menopause seperti siklus menstruasi yang tidak teratur serta tulang dan sendi yang mulai sakit saat melakukan aktivitas. Setelah membagikan poster dan memberikan pertanyaan-pertanyaan singkat seputar osteoporosis dan osteoarthritis, mahasiswa kemudian menjelaskan apa perbedaan di antara keduanya dan hubungannya dengan hormon estrogen yang menurun. Mahasiswa turut menjelaskan bahwa susu kedelai dapat membantu penyerapan kalsium serta pembentukkan kolagen sehingga mencegah osteoporosis dan osteoarthritis.
“Kalsium dalam darah itu jumlahnya harus dijaga, jadi tubuh cenderung akan mempertahankan kadar kalsium dalam darah, salah satunya dengan cara mengambil kalsium dari tulang. Maka dari itu, saat kalsium diambil terus menerus dari tulang, tetapi tubuh tidak dapat menyerap kalsium yang cukup, tulang akan keropos atau terkena osteoporosis,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Hormon estrogen membantu proses penyerapan kalsium, sehingga apabila kadarnya menurun, tubuh akan kesulitan untuk menyimpan kalsium khususnya bagi wanita yang telah menopause. Selain itu, hormon estrogen juga membantu memelihara sel-sel fibroblast pada tulang rawan sehingga tetap dalam kondisi baik. Namun, saat menopause dan kadar estrogen menurun, jaringan tulang rawan akan mengalami kerusakan tanpa adanya regenerasi sehingga menyebabkan peradangan yang mengakibatkan timbulnya rasa nyeri pada sendi (Osteoarthritis).
Vanessa juga menjelaskan bahwa osteoporosis dan osteoarthritis masih dapat dicegah dengan mengkonsumsi fitoestrogen yang dapat ditemukan pada susu kedelai. Hal tersebut dikarenakan fitoestrogen adalah tumbuhan yang memiliki senyawa dengan struktur serta fungsi mirip dengan hormon estrogen. Biji kedelai adalah salah satu fitoestrogen yang banyak ditemukan di Indonesia, harganya pun relatif terjangkau dan dapat diolah dengan mudah, salah satunya adalah dengan menjadikannya susu.
ADVERTISEMENT
“Fitoestrogen akan berfungsi optimal saat hormone estrogen alami kita sudah menurun, jadi bisa dikonsumsi oleh wanita perimenopause maupun yang sudah menopause,” pungkasnya di akhir acara.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020