Konten dari Pengguna

Geliat Perbankan Indonesia Hadapi Pandemi di Negeri Beton

Vania Alexandra Lijaya

Vania Alexandra Lijaya

Diplomat Indonesia, Peserta Diklat Sesdilu angkatan ke-72, Pecinta musik dan penggemar berat kopi, Pelayan masyarakat yang telah ditempa dan dilatih di Negeri Beton (Hong Kong).

·waktu baca 6 menit

comment
13
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vania Alexandra Lijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hong Kong dari atas bukit - sumber: koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Hong Kong dari atas bukit - sumber: koleksi pribadi

Pandemi Tak Surutkan Upaya Perbankan Indonesia Untuk Layani Masyarakat Indonesia - Pernahkah kalian bayangkan bagaimana perjuangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di luar negeri? Bagaimana mereka bekerja keras dan menyisihkan uang hasil jerih payah mereka ke Indonesia sebagai pengikat tali silaturahmi serta menyambung kehidupan keluarga mereka di Indonesia?

Lalu, pernahkah kalian bayangkan bagaimana peran besar Perbankan Indonesia dalam membantu Pekerja Migran untuk menyampaikan hasil kerja kerasnya kepada keluarga mereka di tanah air? Bagaimana pandemi covid 19 mempengaruhi kelancaran transaksi ini? Serta bagaimanakah upaya Perbankan Indonesia untuk terus dapat melayani rekan-rekan pekerja migran di luar negeri?

Kali ini, saya akan menceritakan bagaimana geliat perbankan Indonesia di Hong Kong dalam mengatasi pandemi ini.

Bank Indonesia di tahun 2021 mencatat terdapat 5 negara terbesar asal pengiriman uang (remitansi) dari Pekerja Migran Indonesia, yaitu: Arab Saudi, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Lebih lanjut, BI juga mencatat bahwa telah terjadi penurunan yang cukup signifikan dari jumlah remitansi tersebut, yaitu 4,54 Miliar pada semester I tahun 2021 atau turun 6,7% dibanding semester I 2020 yang mencapai 4,86 Miliar USD.

Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong - sumber: koleksi pribadi

Remitansi dari Hong Kong sendiri mengalami penurunan cukup signifikan dari tahun 2019 sebesar 1,229 Miliar USD menjadi 547 juta USD di tahun 2020, dan 540 juta USD di semester I tahun 2021. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, utamanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Pandemi covid-19 ini juga telah menyebabkan turunnya jumlah PMI yang bekerja di Hong Kong.

Menurut catatan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong (KJRI Hong Kong), di awal pandemi jumlah PMI yang bekerja di Hong Kong kurang lebih 170.000 orang, dan di akhir tahun 2021, jumlah tersebut menurun drastis menjadi kurang lebih 157.000 orang. Penurunan jumlah PMI ini juga tentu berpengaruh besar terhadap penurunan jumlah remitansi dari PMI ke tanah air.

Bank BNI sebagai bank BUMN pertama yang beroperasi di Hong Kong sejak tahun 1963, dan salah satu penyedia jasa remitansi ke Indonesia di Hong Kong merasakan dampak pandemi yang cukup besar bagi bisnis mereka. Menurut Indra Kusuma, Direktur BNI Remittance Ltd. Hong Kong (BRL Hong Kong), di puncak pandemi di Hong Kong, yaitu di tahun 2021 dan awal bulan Februari-Maret tahun ini, transaksi remitansi hampir di semua penyedia jasa remitansi di Hong Kong turun cukup signifikan.

“Iya, betul. Pandemi Covid-19 membuat transaksi remitansi di BRL menurun sekitar 10% dari tahun ke tahun. Saya rasa hampir semua jasa remitansi di Hong Kong mengalami ini (penurunan) ya, tidak hanya di BRL”, ujarnya. Ia juga menambahkan hal tersebut dipengaruhi oleh mobilitas PMI yang terbatas, dikarenakan lockdown dan larangan dari majikan untuk keluar rumah untuk mencegah PMI tertular Covid-19.

Indra Kusuma, Direktur BNI Remittance Ltd. Hong Kong - Sumber: Indra Kusuma

Pandemi Covid 19 telah membatasi mobilitas PMI, namun demikian, di lain pihak, PMI juga tetap memiliki kewajiban finansial yang harus diselesaikan di Indonesia dan mengirimkan rejeki kepada keluarga mereka di tanah air. Lalu bagaimana caranya supaya kewajiban mereka tersebut tetap terlaksana? Bagaimana upaya BNI tetap dapat melayani PMI di masa pandemi?

BRL memiliki 4 kantor cabang di Hong Kong, yaitu Causeway Bay, Tsuen Wan, Yuen Long, dan Hung Hom, dan telah melayani PMI Hong Kong sejak tahun 1996. Selama ini, BRL masih menggunakan cara konvensional dalam melayani PMI, dimana PMI datang langsung ke kantor cabang dan mengantre untuk dapat melakukan pengiriman uang ke tanah air. Dengan adanya pandemi yang membatasi ruang gerak PMI, maka PMI mulai beralih ke transaksi digital yang lebih memudahkan mereka.

PMI mengantri di depan kantor BNI Remittance - Sumber: BNI Remittance Hong Kong

Salah satu PMI yang saya wawancara misalnya, mengaku menggunakan jasa remitansi digital seperti TNG, Wechat, yang dengan mudah dapat dilakukan melalui counter minimarket Seven Eleven yang tersebar di seluruh penjuru Hong Kong.

Jadi, PMI menerima gaji dalam bentuk uang tunai, kemudian mereka mendepositkan uang tunai melalui konter Seven Eleven ke e-wallet aplikasi mobile remittance, untuk selanjutnya dapat melakukan pengiriman uang ke rekening bank mereka di Indonesia melalui aplikasi tersebut. Kemudian, uang yang telah masuk ke rekening mereka itu mereka kelola menggunakan aplikasi mobile banking, seperti untuk membayar tagihan listrik, air, uang sekolah anak, transfer uang, dan lain sebagainya.

Tak heran maka menurut pengakuan Indra, meskipun transaksi remitansi menurun, namun transaksi mobile banking meningkat hamper 2x lipat dari sebelum pandemi. Melihat pergeseran pola transaksi PMI ini, maka BNI pun juga mulai bergeser ke pola bisnis digital. “Kita nggak bisa lagi menjalankan pola bisnis konvensional kita seperti dulu sebelum pandemi. Kita harus berinovasi, gunakan teknologi digital”, ungkap Indra.

PMI menggunakan layanan BNI Remittance Hong Kong - Sumber: BRL Hong Kong

Tak ingin ketinggalan dari jasa remitansi digital asing yang dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan transaksi bagi PMI, maka BNI Remittance Hong Kong berencana meluncurkan aplikasi mobile remittance di tahun ini. Hal ini tentu membanggakan dan menggembirakan, karena sebagai salah satu representasi Perbankan Indonesia di Hong Kong, BNI pun mampu bersaing dengan layanan jasa perbankan asing di negeri beton tersebut.

Inovasi lain yang terus dilakukan BNI misalnya, dengan pembukaan rekening secara digital, serta menggunakan aplikasi antrean dengan QR Code sehingga PMI tidak perlu mengantre lama dengan berpanas-panasan di bawah terik matahari (atau menggigil kedinginan di musim dingin) seperti dahulu sebelum pandemi.

Oh iya, tahukah kalian, Perbankan Indonesia di Hong Kong tidak hanya menjalankan bisnis dan mencari keuntungan semata, lho. Selama ini, mereka juga telah banyak membantu KJRI Hong Kong dalam melakukan pembinaan bagi Pekerja Migran Indonesia. (Terdapat 3 Bank BUMN di Hong Kong, yaitu BNI, Mandiri). Di antaranya, dengan memberikan pelatihan peningkatan kapasitas bagi PMI. BNI Hong Kong, misalnya, telah berupaya mengedukasi PMI di bidang kewirausahaan dan literasi keuangan.

PMI mengikuti pelatihan di KJRI Hong Kong - Sumber: koleksi pribadi

Lalu bagaimana caranya mereka tetap dapat mengedukasi PMI, sementara dengan adanya pandemi, Pemerintah Hong Kong membatasi jumlah orang yang berkerumun di satu tempat? Apakah mereka berhenti melakukan pembinaan PMI sebagai bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) mereka?

Ternyata, mereka juga berinovasi lho. Perbankan Indonesia di Hong Kong tetap mengadakan seminar dan pelatihan secara daring, dan juga berkolaborasi dengan KJRI Hong Kong dalam mengadakan sosialisasi melalui podcast yang ditayangkan di media sosial KJRI Hong Kong. Tema sosialisasinya pun beragam, seperti peluang bisnis UMKM bagi PMI, cara mencegah penipuan online, investasi, dan lain sebagainya.

Bahkan menurut Indra, BNI Hong Kong memiliki komunitas agen digital BNI yang beranggotakan PMI. Mereka membantu BNI dalam mengedukasi rekan-rekan PMI lainnya sehingga mereka “melek” perbankan digital. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat bagi PMI.

Dari kisah ini kita melihat bahwa kondisi pandemi tidak membuat Perbankan Indonesia di luar negeri tidak produktif dan berhenti melayani masyarakat Indonesia. Justru mereka terus berinovasi, cepat beradaptasi dengan situasi dan kondisi global, sehingga masyarakat Indonesia di luar negeri (khususnya PMI) dapat terus terlayani dengan baik.

Tentunya kita bangga ya, bahwa Perbankan Indonesia juga tidak kalah kok dari perbankan asing. Buktinya mereka tetap bertahan meski Pandemi melanda seluruh dunia, bahkan terus berinovasi untuk melayani Indonesia.

Indonesia kuat, Indonesia hebat!