Ketika Moralitas Kalah oleh Popularitas

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Vania Belinda Breginta Sianturi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Viral Menjadi Hakim
Di lini masa hari ini, satu hal terasa jelas: yang viral hampir selalu menang. Menang perhatian, menang pembelaan, bahkan menang pembenaran. Sebuah ucapan bisa menyinggung, merendahkan, atau mencederai nilai kemanusiaan, tetapi tetap dirayakan selama datang dari sosok yang “punya massa”.
Sebaliknya, kritik yang masuk akal sering kali kalah cepat. Bukan karena keliru, melainkan karena tidak cukup menarik untuk dibagikan. Di titik ini, kita tidak lagi bertanya “apakah ini benar?”, melainkan “apakah ini ramai?”.
Popularitas telah berubah menjadi hakim. Moralitas dipaksa antre, bahkan sering kali tidak kebagian giliran.
Generasi Digital dan Pergeseran Nilai
Bagi generasi muda, realitas ini bukan pengecualian, melainkan keseharian. Media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi ruang belajar—tempat nilai, sikap, dan batas-batas sosial dibentuk.
Masalahnya, ruang ini lebih sering mempromosikan sensasi daripada refleksi. Konten yang paling cepat naik bukan yang paling bijak, melainkan yang paling memancing emosi. Dalam situasi ini, moralitas tidak hilang, tetapi kalah cepat.
Jika dibiarkan, generasi muda akan tumbuh dengan satu pelajaran keliru: selama ramai, hampir semua bisa ditoleransi.
Popularitas sebagai Standar Kebenaran Baru
Di era digital, popularitas sering disamakan dengan kredibilitas. Jumlah pengikut dianggap bukti kepantasan bicara. Padahal, popularitas tidak selalu lahir dari kualitas, apalagi tanggung jawab.
Figur publik dengan jutaan pengikut kerap diposisikan seolah tak boleh salah. Ketika mereka keliru, pembelaan datang lebih cepat daripada evaluasi. Yang diserang bukan argumennya, tetapi pengkritiknya.
Kebenaran pun mengalami degradasi. Ia tidak lagi diuji lewat nalar, melainkan lewat keramaian.
Kekebalan Moral di Balik Jumlah Pengikut
Popularitas menciptakan kekebalan sosial. Figur publik yang melontarkan pernyataan seksis, merendahkan kelompok tertentu, atau tidak sensitif terhadap isu sosial sering kali lolos dari pertanggungjawaban etika.
Narasi pembelaannya berulang: “cuma bercanda”, “niatnya baik”, atau “jangan baper”. Dampak sosial jarang dibahas. Korban sering kali diminta maklum.
Standar ganda ini berbahaya. Anak muda belajar bahwa etika bisa dinegosiasikan selama popularitas cukup besar. Nilai menjadi relatif, tergantung siapa yang melanggar.
Normalisasi Kesalahan sebagai Hiburan
Beberapa tahun terakhir, publik Indonesia berulang kali menyaksikan konten viral yang jelas bermasalah: prank ekstrem, candaan merendahkan kondisi ekonomi, eksploitasi isu sensitif, hingga glorifikasi konflik.
Namun, selama konten itu menghibur dan ramai, kritik sering dianggap merusak kesenangan. Kesalahan tidak lagi dilihat sebagai masalah, tetapi sebagai bagian dari tontonan.
Inilah normalisasi. Ketika kesalahan terus diulang dan dinikmati, ia berhenti dianggap salah. Ia menjadi kebiasaan.
Algoritma, Sensasi, dan Dorongan untuk “Keterlaluan”
Media sosial tidak netral. Algoritma mendorong konten yang memicu emosi karena lebih cepat menghasilkan interaksi. Marah, tertawa, atau tersinggung—semua dihitung sebagai keterlibatan.
Akibatnya, konten yang “keterlaluan” justru lebih diuntungkan. Kontroversi menjadi strategi. Batas etika dianggap penghalang kreativitas.
Tak jarang, figur publik yang terseret kontroversi justru mendapat lonjakan popularitas. Ini mengirim pesan berbahaya kepada anak muda: melanggar batas bisa menjadi jalan pintas menuju sorotan.
Publik Muda: Antara Penonton dan Pelaku
Namun, algoritma hanya bekerja sejauh kita mengizinkannya. Setiap klik, komentar, dan unggahan ulang adalah bentuk partisipasi.
Banyak anak muda merasa sekadar menonton. Padahal, menonton pun adalah memilih. Ketika konten bermasalah terus diramaikan, ia mendapat panggung. Ketika kritik sepi, kesalahan dibiarkan tumbuh.
Ruang publik digital bukan dibentuk oleh satu pihak, melainkan oleh jutaan keputusan kecil yang diambil setiap hari.
Dampak Psikologis dan Sosial yang Nyata
Normalisasi perilaku bermasalah tidak berhenti di layar. Ia berdampak pada cara anak muda berinteraksi di dunia nyata. Candaan yang merendahkan dianggap biasa. Empati menipis. Sensitivitas sosial menurun.
Tekanan untuk tampil, viral, dan relevan juga meningkat. Banyak anak muda merasa harus “lebih keras”, “lebih ekstrem”, atau “lebih kontroversial” agar diperhatikan. Moralitas sering kali menjadi korban dari tuntutan eksistensi.
Krisis Teladan di Era Influencer
Di tengah derasnya arus konten, anak muda membutuhkan teladan. Sayangnya, yang sering muncul justru figur terkenal tanpa tanggung jawab nilai.
Permintaan maaf dilakukan sekadarnya. Refleksi jarang. Pola lama kembali berulang. Moralitas diperlakukan sebagai urusan citra, bukan prinsip.
Krisis teladan ini tidak selalu disadari, tetapi dampaknya nyata. Ketika figur populer gagal memberi contoh, anak muda kehilangan rujukan.
Diskursus Publik yang Semakin Dangkal
Dominasi popularitas atas moralitas juga memperburuk kualitas percakapan publik. Kritik dianggap serangan. Perbedaan pendapat berubah menjadi perang komentar.
Bagi generasi muda, ini menciptakan kelelahan. Diskusi terasa sia-sia. Yang menang bukan yang paling masuk akal, tetapi yang paling ramai.
Jika kondisi ini dibiarkan, ruang publik akan semakin dangkal—ramai, tetapi kosong.
Mengembalikan Moralitas ke Ruang Anak Muda
Menghadapi situasi ini, sikap sinis tidak cukup. Moralitas tidak akan kembali dengan sendirinya jika terus dikalahkan oleh popularitas.
Anak muda perlu dibekali keberanian untuk bersikap kritis, meski tidak populer. Tidak semua yang viral layak dirayakan. Tidak semua yang lucu bebas dari masalah.
Figur publik perlu diingatkan bahwa pengaruh adalah amanah. Media dan platform digital perlu lebih bertanggung jawab dalam menjaga kualitas ruang publik.
Perubahan Dimulai dari Pilihan Kecil
Perubahan tidak selalu datang dari gerakan besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: memilih tidak membagikan konten bermasalah, berani mengkritik tanpa menghina, dan mau mendengar tanpa membela buta.
Bagi generasi muda, sikap ini mungkin tidak viral. Tetapi justru di situlah nilainya.
Berani Benar Meski Tidak Ramai
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah moralitas masih penting. Pertanyaannya adalah: siapa yang bersedia menjaganya ketika ia tidak lagi populer?
Setiap kali kita memilih diam demi hiburan, kita ikut menyingkirkan nilai. Setiap kali kita membela tanpa mau berpikir, kita memperpanjang kekalahan moralitas.
Popularitas akan selalu mencari panggung. Tetapi moralitas hanya bertahan jika ada yang berani berdiri di sisinya.
Bagi generasi muda, inilah tantangannya:
terus ikut arus yang ramai, atau mulai berenang melawan demi yang benar—meski tidak viral, meski tidak disukai.
