Konten dari Pengguna

Dukung SDG 3, BBK 8 UNAIR Gelar Deteksi Flat Foot bagi Siswa SD Cantel Ngawi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vania Bintang Cahaya Asia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(sumber: pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
(sumber: pribadi)

Ngawi – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga mengadakan penyuluhan dan praktik deteksi dini flat foot bagi siswa kelas 1–2 SD Desa Cantel, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, pada Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan kaki sejak dini sekaligus mendeteksi kelainan bentuk telapak kaki pada anak.

Penyuluhan dipandu oleh Alya bersama tim BBK 8 Universitas Airlangga dan diikuti oleh orang tua serta siswa. Wali murid memperoleh edukasi mengenai flat foot, yaitu kondisi telapak kaki yang tidak memiliki lengkungan (arch) sehingga dapat mengganggu fungsi kaki dalam menopang berat badan, menjaga keseimbangan, dan menyerap benturan. Alya menjelaskan bahwa kondisi ini masih normal pada anak di bawah usia sepuluh tahun, tetapi perlu dievaluasi apabila menetap setelah usia tersebut karena berisiko menimbulkan nyeri, gangguan keseimbangan, hingga perubahan pola berjalan.

Selain penyuluhan, tim BBK 8 juga melakukan pemeriksaan melalui metode pencetakan telapak kaki (footprint) untuk mendeteksi tanda-tanda awal flat foot pada siswa kelas 1–2 sejumlah 21 anak. Orang tua siswa juga diajarkan latihan sederhana, seperti berjinjit, mengangkat jempol dan jari kaki, menarik kain menggunakan jari kaki, dan menggulirkan telapak kaki di atas bola untuk membantu memperkuat lengkungan kaki.

“Pada anak, flat foot biasanya belum menimbulkan keluhan. Namun, jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan nyeri pada betis dan lutut di kemudian hari. Oleh karena itu, deteksi dini penting dilakukan agar perkembangan struktur kaki dapat dipantau sejak awal,” ujar Alya.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Good Health and Well-being melalui edukasi kesehatan, deteksi dini, dan upaya preventif guna mendukung tumbuh kembang anak yang sehat.