Konten dari Pengguna

Tubuh Perempuan di Media Sosial antara Ekspresi dan Objektifikasi

Eufrasia Vania Putri Widyasari

Eufrasia Vania Putri Widyasari

Saya Eufrasia Vania seorang mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Memiliki minat di bidang Public Relation.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eufrasia Vania Putri Widyasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi Ketika Percaya Diri Perempuan Diadili Publik (Sumber: https://chatgpt.com/s/m_69632646ac3c819192cd2c634d1efd0a)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ketika Percaya Diri Perempuan Diadili Publik (Sumber: https://chatgpt.com/s/m_69632646ac3c819192cd2c634d1efd0a)

Di era digital ini, media sosial telah menjadi ruang penting bagi perempuan untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, serta menunjukkan kepercayaan diri pada tubuh mereka. Namun, di balik peluang tersebut. Media sosial telah menghadirkan dilema yang membuat ekspresi tubuh perempuan seringkali disalah artikan, antara kebebasan personal dan penilaian publik yang berujung pada objektifikasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar ruang berekspresi, tetapi juga cermin dari pandangan sosial yang masih melekat pada tubuh perempuan.

Di satu sisi, media sosial telah memberikan kebebasan tanpa batas bagi perempuan untuk menampilkan diri sesuai dengan kehendak mereka. Unggahan foto, video, maupun curhatan sering dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan tentang penerimaan diri dan keberagaman tubuh. Tetapi, kebebasan ini justru membuka ruang baru bagi objektifikasi. Banyak unggahan perempuan yang dinilai bukan berdasarkan pesan atau keberanian yang ingin disampaikan, melainkan semata-mata pada bentuk tubuh, warna kulit, atau penampilan fisik saja. Akibatnya, ruang yang seharusnya menjadi sarana berekspresi berubah menjadi tempat penilaian buruk.

Adanya fenomena tersebut, tidak bisa dilepaskan dari budaya patriarki yang telah lama dan menjadikan tubuh perempuan sebagai objek sorotan publik. Dalam kebiasaan ini, perempuan sering dinilai dari penampilan fisiknya, bukan karena pemikiran, gagasan, atau pencapaiannya. Kehadiran media sosial tidak serta merta menghapus cara pandang tersebut, melainkan memperkuatnya melalui sistem seperti like, komentar, dan algoritma. Adanya konten yang menampilkan tubuh sesuai standar kecantikan, cenderung lebih mudah viral dan mendapatkan perhatian. Hal ini secara tidak langsung menegaskan bahwa perempuan masih sering dinilai melalui daya tarik fisiknya.

Terlepas dari pandangan tersebut, tidak semua ekspresi tubuh perempuan di media sosial dapat disamakan dengan objektifikasi. Banyak perempuan yang telah memanfaatkan media sosial untuk melawan stigma dan merebut kembali kendali atas tubuh mereka sendiri. Melalui gerakan body positivity dan self-love, telah menjadi contoh nyata bagaimana perempuan menentang standar kecantikan yang ganda. Melalui unggahan tanpa filter, cerita tentang ketidaksempurnaan, serta kampanye penerimaan diri. Dengan begitu media sosial dapat berubah menjadi alat pemberdayaan yang memungkinkan perempuan menampilkan diri dengan caranya sendiri.

Namun, upaya menyeimbangkan antara ekspresi diri dan tekanan sosial bukanlah hal yang mudah. Norma kecantikan dan tuntutan sosial masih kuat, bahkan sering kali datang dari sesama perempuan. Banyak pengguna media sosial merasa terdorong untuk mengikuti tren kecantikan yang sedang viral demi memperoleh pengakuan digital. Kondisi ini menciptakan paradoks, dimana perempuan ingin mengekspresikan diri secara bebas. Tetapi, pada saat yang sama takut terhadap penilaian publik. Pada situasi tersebut, batas antara ekspresi dan penampilan demi memenuhi ekspektasi sosial menjadi semakin kabur.

Peran algoritma media sosial juga tidak bisa diabaikan. Platform seperti Instagram dan TikTok cenderung mempromosikan konten yang menampilkan tubuh “ideal” berdasarkan standar tertentu. Bahkan, fenomena akun-akun yang secara khusus menampilkan perempuan cantik di lingkungan kampus atau komunitas tertentu semakin menguatkan standar tersebut. Dampaknya tidak hanya pada rasa percaya diri, tetapi juga pada kesehatan mental perempuan yang merasa tidak memenuhi kriteria kecantikan dominan. Sehingga menyebabkan muncul perasaan minder, cemas, hingga depresi.

Oleh karena itu, kesadaran menjadi hal yang sangat penting. Pengguna media sosial, baik laki-laki maupun perempuan, harus lebih peka dalam melihat dan menilai tubuh orang lain. Pendidikan digital dan literasi media harus terus didorong agar masyarakat bisa memahami, bahwa apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Perempuan juga perlu didukung untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut akan penilaian, sementara masyarakat juga harus belajar menghargai ekspresi tersebut sebagai bentuk kebebasan, bukan sekedar konsumsi visual.

Tubuh perempuan di media sosial, telah menggambarkan dinamika yang lebih luas tentang bagaimana cara masyarakat memandang perempuan itu sendiri. Antara ekspresi diri dan objektifikasi, masih terdapat ruang abu-abu yang perlu diisi dengan kesadaran, empati, dan penghormatan terhadap pilihan seseorang. Ketika perempuan memiliki kendali penuh atas narasi terhadap tubuh mereka dan masyarakat mampu melihat lebih dari sekadar penampilan fisik, media sosial berpotensi menjadi ruang yang lebih terbuka dan bebas.