Menganalisis Hubungan dengan Biopsikologi: Mengapa Kita Susah Move On?

Mahasiswi S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Vanessa Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasti diantara kalian pernah merasakan yang namanya kehilangan seseorang, entah kehilangan teman, hubungan, atau pengalaman masa lalu yang sulit dilupakan.
Berkaitan dengan hal itu, di masa sekarang, kita sering mendengar kata “move on” yang artinya susah dalam melupakan masa lalu. Tentunya, hal ini bukan cuma sekedar tentang perasaan, pengalaman, bahkan kenangan, melainkan pelibatan proses psikologis dan biologis yang sangat kompleks di kehidupan sehari-hari.
Topik ini menarik untuk diulas karena akhir-akhir ini banyak orang, bahkan teman saya sendiri, yang sulit melupakan masa lalu. Seseorang sudah berusaha melupakan hal sudah dilakukan, tetapi hal tersebut justru membuatnya semakin teringat meski ia tau bahwa hal tersebut sudah hilang (berakhir). Pertanyaannya: Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Terkadang, seseorang mudah terpancing dengan perasaan yang berkaitan dengan pengalaman atau kenangan dan terbiasa mengaitkan pengalaman dan kenangan dengan berbagai hal, seperti lagu, tempat, dll.
Dalam pandangan biopsikologi, topik tersebut berkaitan dengan hubungan antara otak, sistem saraf, dan perilaku manusia. Otak manusia memiliki mekanisme khusus dalam memproses cinta, keterikatan, dan kehilangan.
Ketika seseorang sedang jatuh cinta, otaknya melepaskan zat kimia seperti dopamin dan oksitosin yang menimbulkan rasa senang dan keterikatan. Namun, ketika hubungannya dengan orang lain berakhir (cintanya kandas), sistem tersebut akan selalu mencari sensasi yang sama, sehingga seseorang sulit untuk melepaskan atau melupakan masa lalu.
Akibatnya, seseorang sulit untuk move on. Tentunya, agar seseorang dapat move on, mereka perlu memahami bahwa move on bukan hanya sebagai reaksi biologis, melainkan juga sebagai emosi, sehingga pada akhirnya mereka tidak perlu khawatir terhadap situasi "susah move on".
Berkaitan dengan reaksi biologis, The Journal of Comparative Neurology menjelaskan bahwa terdapat bagian otak yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA). Area ini merupakan bagian dari sistem penghargaan (reward system) di mana otak menghasilkan neurotransmiter dopamin, zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan bahagia (Wiley-Liss, 1891).
Di lain sisi, seseorang dapat merasakan sebuah kondisi di mana otak dapat kehilangan sumber kesenangannya meski sebelumnya sudah terbiasa menerima “dopamin”. Sistem penghargaan tetap aktif dan terus mencari sensasi yang sama seperti masa lalu. Kondisi ini dapat dikatakan mirip seperti reaksi kecanduan di mana individu mengalamani withdrawal karena kehilangan sesuatu yang membuatnya bahagia
Hal ini menjawab kebingungan terkait mengapa seseorang yang sedang putus cinta dan kehilangan sesuatu selalu merasa gelisah, tidak memiliki rasa semangat, bahkan memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan.
Selain sistem penghargaan, ada dua bagian penting lain di otak yang memiliki peran besar, yaitu amigdala dan hipokampus. Amigdala berfungsi untuk memproses emosi, terutama rasa takut dan cemas, sedangkan hipokampus memiliki fungsi untuk menyimpan kenangan emosional. Hubungan antara amigdala dan hipokampus membuat kenangan emosional jauh lebih kuat dan sulit dihapuskan.
Artikel Biological determinants of depression following bereavement menjelaskan bahwa saat seseorang masih mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan orang lain, sistem dopamin dan serotonin di otak memiliki peran besar untuk menimbulkan rasa nyaman dan bahagia (Assareh, Sharpley, McFarlane, Sachdev, 2015). Terdapat juga kemungkinan bahwa jalur kebiasaan (neural pathways) dibentuk oleh otak.
Jadi, kebiasaan seperti "memikirkan chat secara berlebihan" atau "melihat orang yang disukai setiap hari" akan dianggap oleh otak sebagai default pattern. Jika kebiasaan tersebut tiba-tiba berhenti, otak akan membutuhkan waktu untuk “memprogram ulang” pikiran manusia dan membuat kebiasaan lainnya.
Membuktikan move on juga merupakan reaksi biologis, Jurnal Neuroendocrine mechanisms of grief and bereavement: A systematic review and implication for future interventions menyatakan bahwa hormon kortisol berperan dalam membantu manusia beradaptasi terhadap perubahan emosional yang berat (Dora Hopf, Monica Eckstein, Corina Aguilar-Rabb, Marco Warth, 2020). Selain itu, bagian otak yang disebut prefrontal cortex juga berperan dalam mengatur pemahaman dan logika seorang manusia dalam menanggapi suatu hal, termasuk ketika seseorang sedang berupaya untuk move on.
Namun, meskipun terdapat prefrontal cortex dalam diri manusia, seseorang sering kali dikuasai oleh emosinya sendiri (susah move on) ketika menghadapi suatu hal. Misalkan, ketika seseorang sulit menerima akhir yang tidak masuk akal dari hubungan asmaranya dengan orang lain.
Sebagai tambahan, buku The Neurobiology of Memory: Concepts, Findings, Trends karya Dudai menjelaskan peran sinapsis, yaitu titik temu antara dua neuron sebagai tempat utama di mana “jejak memori” disimpan. Buku tersebut juga menulis tentang Long-Term Potentiation (LTP) yang merupakan proses penguatan hubungan antarneuron yang muncul ketika suatu pengalaman diulang. Semakin sering pengalaman teringat, semakin lama memori tersimpan (Yadin Dudai, 1989).
Maka dari itu, susah move on bukan hanya soal perasaan, melainkan hasil dari proses biologis yang kompleks di dalam tubuh dan otak manusia.
