Di Balik Halaman Cerita: Apa yang Sebenarnya dilakukan Penulis?

Mahasiswa Aktif Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Vanya Callista tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menghidupkan Cerita Hanya Menulis?Banyak orang berasumsi bahwa menulis cerita hanya soal menulis kata-kata. Padahal, di balik satu halaman cerita terdapat proses memahami manusia, mengambil keputusan kreatif, memilih kata-kata yang tepat, dan merevisi berkali-kali. Menurut saya, menulis cerita bukan sekadar menulis; menulis cerita adalah membangun pengalaman yang dapat dirasakan pembaca.
Menulis Adalah Memahami Manusia
Setiap cerita membutuhkan tokoh atau karakter, mulai dari tokoh utama, tokoh sampingan, hingga tokoh antagonis. Namun, seorang penulis tidak bisa membuat tokoh secara instan. Ia harus mengetahui karakter seperti apa yang ingin diciptakan.
Penulis harus mengenal dan memahami emosi, motivasi, ketakutan, serta keinginan karakter tersebut. Mengapa seseorang berbohong? Mengapa seseorang rela bertahan dalam hubungan yang buruk?
Karakter tidak harus selalu bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan pembaca. Justru, alasan di balik tindakan merekalah yang membuat mereka terasa hidup. Beberapa orang dapat menghadapi masalah yang sama, tetapi memberikan respons yang berbeda karena pengala
man dan kepribadian mereka masing-masing.
Bercerita Bukan Menceritakan (Show, Don't Tell)
Setelah mengetahui siapa karakter tersebut dan apa yang mendorongnya, penulis juga perlu memikirkan bagaimana semua itu disampaikan kepada pembaca.
Banyak orang mengira bahwa bercerita cukup dengan menjelaskan apa yang terjadi.
Padahal, penulis harus memikirkan bagaimana membuat pembaca merasakan kejadian tersebut melalui tulisan. Mengapa karakter A bersedih? Bagaimana ruangan ini dapat membuat pembaca merasa nyaman atau justru takut?
Kalimat "dia sedih" berbeda dengan menggambarkan tindakan yang menunjukkan kesedihan melalui bahasa tubuh, ekspresi, suara, atau reaksi fisik. Misalnya, "Napasnya terasa berat dan pendek, seolah ada yang menyumbat dadanya." Atau, penulis bisa memanfaatkan ciri khas karakter, misalnya karakter A selalu membuang muka ketika marah, sedangkan karakter B akan mengepalkan tangannya.
Sebagai contoh, mari simak dan bandingkan kedua teks berikut.
(TEKS 1)
“Kakak lagi ngapain?” tanya Eli yang berdiri di pintu dapur dengan penasaran.
“Ugh, lagi masak,” jawab Kai dengan nada lelah.
(TEKS 2)
“Kakak lagi ngapain?”
Gadis kecil itu berdiri di ambang pintu sambil memiringkan kepalanya.
Kai terdiam sesaat. Ia berhenti memotong wortel. Panci yang mengepul di hadapannya sudah berbicara lebih banyak daripada yang perlu ia jelaskan. Matanya bergantian menatap talenan, mangkuk sayur, lalu Eli, seolah berharap gadis itu akan menemukan jawabannya sendiri.
Namun, Eli masih menatapnya tanpa berkedip.
“Ugh.” Kai meletakkan pisau di atas meja dapur, lalu memijat pangkal hidungnya. “Lagi masak.”
Namun, ini bukan berarti telling harus selalu dihindari. Show, don't tell bukan berarti setiap hal harus digambarkan secara panjang lebar.
Jika sebuah informasi tidak penting bagi adegan, penyampaian langsung sering kali lebih efektif, misalnya, "Mereka tiba di kota itu tiga hari kemudian." Yang terpenting adalah memilih cara penyampaian yang sesuai dengan kebutuhan cerita dan adegan.
Menulis Membutuhkan Riset dan Observasi
Kemampuan menggambarkan karakter dan suasana perlu didukung oleh pengetahuan agar cerita yang dibuat terasa akurat dan dapat dipercaya oleh pembaca. Dengan melakukan riset dan observasi, penulis tidak hanya dapat mencegah kesalahan informasi dan menghindari klise, tetapi juga memperoleh inspirasi dan ide dari informasi yang ditemukan.
Pengetahuan tentang sejarah, budaya, psikologi, profesi, bahkan anatomi makhluk hidup dapat membuat cerita terasa lebih meyakinkan. Baik cerita fantasi maupun nonfiksi tetap membutuhkan riset dan observasi.
Misalnya, ketika menulis karakter yang bekerja sebagai koki, penulis dapat melakukan riset mengenai teknik memasak, lingkungan dapur dan resep-resepnya. Namun, melalui observasi, penulis juga dapat memperhatikan bagaimana seorang koki bergerak, berbicara, atau bereaksi ketika berada di bawah tekanan.
Menulis Adalah Proses Pengambilan Keputusan
Pernahkah Anda penasaran mengapa suatu kejadian terjadi saat menonton film atau membaca buku? Atau pernah bertanya mengapa karakter favorit Anda harus pergi?
Banyak hal yang terjadi di dalam cerita memiliki penyebab dan tujuan tertentu. Pilihan tersebut merupakan bagian dari keputusan penulis.
Setiap keputusan penulis memengaruhi pengalaman pembaca, mulai dari memilih tokoh utama, menentukan kapan konflik muncul, hingga memutuskan akhir cerita. Penulis juga mempertimbangkan ritme cerita serta sudut pandang yang digunakan karena semua itu menentukan informasi yang diterima pembaca.
Jika cerita menggunakan sudut pandang karakter A, informasi yang diterima pembaca akan banyak dipengaruhi oleh apa yang A ketahui, lihat, dan rasakan. Namun, jika sudut pandang berpindah ke karakter lain, informasi yang diterima pembaca pun ikut berubah.
Misalnya, karena Mira melihat Yuna sebagai orang yang kejam, pembaca kemungkinan besar akan percaya bahwa Yuna adalah orang yang kejam. Namun, karakter lain belum tentu mempunyai tanggapan yang sama. Bisa saja Rowan melihat Yuna sebagai orang yang bijaksana.
Pengambilan keputusan tersebut juga tidak berhenti setelah draf pertama selesai. Perlu diketahui bahwa draf pertama penulis jarang sempurna.
Banyak penulis menghabiskan waktu berulang kali memperbaiki naskah, dan sebagian besar kualitas cerita justru muncul pada tahap revisi.
Kesimpulan
Pada akhirnya, menulis cerita bukan sekadar menyusun kata-kata. Kata-kata hanyalah medianya; pengalaman yang dirasakan pembacalah tujuan akhirnya.
