Dari Kursi Roda untuk Indonesia: 3 Disabilitas Kibarkan Merah Putih di Kudus

Kisah inspiratif datang dari disabilitas di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada momen Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia yang jatuh hari ini, Senin (17/8). Tiga disabilitas di Kabupaten Kudus mengibarkan bendera merah putih dari atas kursi roda.
Acara tersebut merupakan inisiatif dari Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK) Bersama Anak Berkebutuhan Khusus beserta Pemerintah Desa Mlati Lor. Acara dimulai pada Senin (17/8) pukul 08.00 WIB bertempat di halaman Balai Desa Mlati Lor.
Ketiga pengibar bendera disabilitas itu seperti sudah terbiasa melakukan aktivitas dari atas kursi roda. Mereka membawa bendera Merah Putih lalu mengibarkannya sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Pada momen itu, tak hanya disabilitas saja yang ikut upacara HUT 81 RI. Ada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Kabupaten Kudus yang ikut serta. Mereka memakai pakaian adat Indonesia.
Pakaian adat itu sekaligus untuk mengenalkan kepada ABK tentang ragam suku dan budaya. Sehingga mereka bisa tahu dan memahami ragam suku di Indonesia.
Ketua Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK), Rismawan Yulianto mengatakan, ketiga disabilitas pengibar bendera itu sangat bersemangat untuk mengikuti upacara. Menurutnya, dalam keterbatasan semua bisa berpartisipasi untuk negara Republik Indonesia.
"Pengibar bendera memang menggunakan kursi roda. Kami ingin menunjukkan di dalam keterbatasan, ternyata kami bisa mengibarkan bendera merah putih. Kegiatan ini rutin kami laksanakan setiap tahunnya," katanya, Senin (17/8).
Rismawan melanjutkan, rekan-rekannya antusias mengikuti kegiatan upacara pada pagi hari ini. Keterbatasan yang dialami masing-masing tak menyurutkan untuk memberikan penghormatan kepada sang merah putih.
Bahkan, para disabilitas ini baru latihan sehari sebelum pelaksanaan. Menurutnya, rekan-rekannya sudah mampu menjalankan tugas dengan baik.
"Ada ratusan peserta hari ini yang ikut serta. Kemudian, bagi ABK, upacara bendera seperti ini merupakan pengalaman pertama mereka. Kami mencoba mengajarkan nasionalisme dan cinta tanah air," terangnya.
Di sisi lain, Rismawan mengutarakan, sejauh ini menurutnya pemerintah belum berpihak kepada hak-hak disabilitas. Ia mencontohkan masih banyak fasilitas umum yang belum ramah disabilitas.
"Indonesia masih jauh dari kata inklusi. Masih banyak diskriminasi terhadap disabilitas. Payung hukum inklusi juga belum ada. Jadi, di 81 tahun merdeka masih banyak fasilitas umum untuk disabilitas yang belum inklusi," ujarnya.
Selain melaksanakan upacara bendera, acara dilanjutkan dengan tabur bunga di makam pahlawan dan gelaran beragam perlombaan. Seperti lomba balap kelereng menggunakan kursi roda, memasukkan caping ke dalam lubang, makan kerupuk, dan merias wajah.
