Tantangan Regenerasi Atlet Bulu Tangkis: Masalah Gizi & Kurang Gerak

Legenda bulu tangkis Indonesia menyoroti faktor yang bikin atlet muda tertinggal dari pesaing seperti China hingga Taiwan. Ada faktor yang mungkin tak terlalu disadari tapi sebenarnya memiliki dampak.
Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Fung Permadi; dan Koordinator Pelatih Tunggal Putri PB Djarum, Hendrawan, memiliki pandangan sama soal gizi dan kurang gerak atlet yang berdampak dengan prestasi bulu tangkis Indonesia. Padahal, dua hal itu sangat krusial.
Fung Permadi mengungkapkan, prestasi bulu tangkis Indonesia dengan China dan Taiwan sedikit tertinggal. Fung menilai pemenuhan gizi atlet sejak kecil sangat dibutuhkan.
"Saya melihat dari segi postur, anak-anak Indonesia bentuk posturnya sudah kalah. Pasti ototnya, tenaganya juga kalah. Mungkin karena orang Indonesia terlalu banyak makan gorengan ya," katanya dalam konferensi pers di sela Audisi Umum PB Djarum 2026, Rabu (9/9)
Fung yang pernah tinggal di negara Taiwan selama 11 tahun melihat kebiasaan anak-anak di Taiwan. Mereka biiasa berangkat dengan berjalan kaki atau naik sepeda.
"Anak-anak di Taiwan bersekolah di tempat yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Anak berangkat dan pulang sekolah tanggung jawab sendiri. Entah naik sepeda, entah jalan kaki karena masih dalam jarak yang dapat dicapai. Sedangkan anak-anak di sini diantar pakai motor," terangnya.
Fung menambahkan, movement rate anak-anak di Kudus masih kurang bagus. Pihaknya pernah mengecek hal tersebut.
"Kita ketinggalan jauh. Jadi, intinya anak-anak di Kudus malas bergerak. Hal ini berpengaruh terhadap prestasi di lapangan. Sudah asupan gizinya kalah, kemauannya untuk gerak kalah, ya itu satu titik awal yang kurang menggembirakan buat kita," imbuhnya
Senada, Hendrawan menyampaikan intensitas latihan atlet bulu tangkis Indonesia lebih banyak dibandingkan atlet dari negara lainnya. Namun, hal yang menurutnya aneh perkembangan bulu tangkis Indonesia justru tertinggal.
"Denmark itu latihan cuma sehari satu kali. Atlet di Denmark yang sudah senior, mereka pagi kerja dulu. Malamnya baru latihan. Di Indonesia pagi sore. Di Jepang, mereka sekolah, sore baru latihan. Hal yang membedakan kita dengan pemain luar adalah kita enggak efisien waktu," ujarnya.
"Orang luar mereka mereka tahu latihannya cuma dua jam. Sehingga mereka akan sungguh-sungguh. Kita kadang berpikirnya karena banyak waktunya jadi sembarangan latihannya. Itu yang membedakan pemain yang sudah matang dengan yang belum matang ya di situ. Karena yang sudah matang, mereka enggak berlatih seperti waktu mereka junior, wah lebih banyak. Tetapi mereka lebih efisien," jelasnya.
Ia menambahkan, masa-masa dirinya dan Fung menjadi atlet tidak ada handphone. Alhasil, ia dan rekan atlet bermain mengejar layangan, petak umpet, gobak sodor, sepak bola dan kejar-kejaran di lapangan.
Secara tidak langsung permainan itu mengasah fisiknya. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi atlet saat ini. Menurutnya atlet saat ini seusai latihan langsung ke kamar dan bermain handphone.
"Hal inilah yang menjadi kendala. Ini menjadi satu tanggung jawab kita sebagai pelatih yang harus bisa membantu anak-anak," imbuhnya.
Bakti Olahraga Djarum Foundation dan PB Djarum coba menjawab tantangan itu, dengan menyelenggarakan Audisi Umum PB Djarum 2026 Kudus yang dihelat di GOR Djarum, Jati, pada Rabu (9/9) hingga Minggu (13/9). Tak kurang, sebanyak 1.601 peserta yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari Sumatera hingga Papua bersaing meraih Djarum Beasiswa Bulu Tangkis dan bergabung dengan PB Djarum.
Para bibit potensial ini tersebar di tiga kategori usia yaitu U-11, KU-11, dan KU-12 baik putra maupun putri. Adapun Kudus menjadi kota ketiga pelaksanaan proses seleksi pebulu tangkis muda berkualitas super setelah lebih dahulu diadakan di Pekanbaru (Juli) dan Makassar (Agustus).
Untuk mengamankan Super Tiket menuju fase karantina, peserta putra wajib menembus babak semifinal. Sedangkan untuk pebulu tangkis putri, Super Tiket akan diberikan bagi pebulu tangkis muda yang sukses mencapai babak final.
Selain melalui jalur kemenangan di lapangan, peluang bergabung dengan PB Djarum masih terbuka melalui Super Tiket Pilihan Tim Pencari Bakat yang diberikan kepada peserta dengan potensi menjanjikan guna diasah lebih lanjut, meskipun gagal lolos ke semifinal ataupun final pada Tahap Turnamen.
Nantinya di karantina, semua atlet akan digembleng latihannya dan difasilitasi asupan gizinya. Dengan begitu, PB Djarum senantiasa berkomitmen untuk membantu terus menjaga regenerasi atlet bulu tangkis Indonesia.
