Salib di Andes: Kolonialitas, Katolikisme, dan Resistensi Poskolonial di Peru

Akrab dipanggil Velma. Saya merupakan mahasiswi semester 4 Ilmu Politik di Universitas Indonesia yang memiliki minat dalam isu hak minoritas.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Velma Anindya Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Februari merupakan bulan yang penuh warna di tepi Danau Titicaca, Puno, Peru. Jalanan ramai oleh berbagai tarian kelompok berkostum dengan diiringi musik khas latin. Sorak sorai penuh kegembiraan mengisi ruang, orang-orang berkeliling menyaksikan pertunjukan di tepi jalan. Semua itu melambangkan rasa syukur mereka atas berkat yang diberikan sang Ibu. Festival ini dikenal sebagai Virgen de la Candelaria. Di altar, Maria berdiri dalam jubah, menggendong Yesus, dan membawa lilin. Di balik tirai doa, orang-orang berbisik dalam bahasa yang lebih tua dari gereja mana pun.
Festival ini bukan sekadar perayaan religius-kultural. Di baliknya, ada proses politik yang panjang ketika penjajahan Spanyol atas tanah Andes terjadi dan memengaruhi kondisi sosial-politik di Peru pada hari ini. Meskipun Peru telah lama merdeka, nyatanya, warisan kolonial meninggalkan jejak pada identitas masyarakat asli, seperti dalam identitas, agama, dan praktik budaya masyarakat sehari-hari.
Kolonial Tidak Menghapus Cinta kepada Sang Dewa
Ketika misionaris Spanyol tiba di tanah Kekaisaran Inca—Tahuantinsuyo—pada abad ke-16, mereka membawa salib dan mengira mereka akan berhasil menggantikan segalanya. Jauh sebelum kedatangan mereka, masyarakat asli Peru telah memiliki tatanan sosial dan sistem kepercayaan yang kaya. Mereka menganut kosmovisi politeistis dengan alam sebagai pusatnya serta dewa-dewa yang berhubungan dengan matahari, gunung, dan sungai. Pachamama (Pacha berarti ruang-waktu, Mama berarti ibu) hadir sebagai prinsip feminin kosmik yang menjelma dalam bumi itu sendiri. Kosmologi Andean juga mengenal roh agung penghuni gunung, dewa matahari, bulan, hingga huacas sebagai tempat sakral yang saling terhubung.
Namun upaya penghancuran kepercayaan lokal atau kerap disebut sebagai Extirpación de Idolatrías berlangsung secara brutal oleh Spanyol. Huacas dihancurkan, pemimpin ritual dipenjara atau dieksekusi, dan praktik pemujaan leluhur dilarang keras. Meski gereja mencetuskan Requerimiento yang mengklaim tidak ada paksaan dalam beragama Katolik, konversi kepercayaan masyarakat Peru diyakini terjadi secara paksa dan di bawah nuansa kekerasan. Mumi-mumi dihancurkan dan tenaga lokal dipaksa membangun gereja di tanah mereka sendiri. Manco Inca Yupanqui, raja neo-Inca, bahkan menasihatkan warganya untuk menganut Katolik—tetapi menjalankan ritual adat secara diam-diam—sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan.
Luka Kolonial dan Negosiasi Identitas
Masyarakat menerima nama baptis, menghadiri misa, menggantungkan salib di leher—tetapi dewa-dewa alam tetap hidup di dalam jiwa. Ini kerap disebut sebagai sinkretisme, yaitu penyatuan dua sistem kepercayaan yang berbeda menjadi satu identitas baru. Ada berbagai kesamaan yang memungkinkan proses ini, antara mumi dan santo, virgins of the sun dan biarawati, serta sistem iman Andean dan Katolik. Inca sendiri telah memiliki tradisi dan terbiasa mengabsorsi dewa-dewa dari bangsa yang ditaklukan serta memberikan fleksibilitas untuk menganut kepercayaan. Alhasil, masyarakat tidak perlu mengidentifikasi diri dalam biner yang kaku. Mereka dapat menggabungkan dua kepercayaan sekaligus atau menciptakan kepercayaan baru asal tetap memuliakan dewa matahari.
Sinkretisme adalah konsep baru yang belum ada sejak kekaisaran Inca masih berdiri, tetapi mereka telah memiliki praktik ini. Namun, ketika mendengar sinkretisme, kelihatannya penggabungan berbagai kepercayaan tersebut dilakukan secara sadar dan tanpa paksaan—bahkan dianggap sebagai kekayaan. Padahal, “sinkretisme” di Peru mencerminkan relasi kuasa. Proses penyebaran agama yang diwarnai kekerasan dan darah meninggalkan luka dalam. Ketika menggunakan konsep sinkretisme secara literal dalam mendeskripsikan Peru, ada potensi untuk melegitimasi narasi "kolonialisme membawa perpaduan yang damai."
Silvia Rivera Cusicanqui—seorang pemikir dekolonial asal Bolivia—menawarkan konsep ch’ixi yang berasal dari bahasa Aymara sebagai cara tepat untuk menggambarkan koeksistensi kepercayaan. Diskursus hibriditas atau sinkretisme tidak membahas upaya dekolonialitas, tetapi menyamarkan dan memperbarui praktik kolonial dan subordinasi dengan menempatkan masyarakat adat hanya sebagai subjek di masa lampau dan mengubah perjuangan mereka sebagai “pembaruan budaya” (Cusicanqui, 2012). Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah penghapusan paksa yang kemudian diadaptasi demi bertahan hidup. Ch’ixi sendiri dimaknai sebagai sesuatu yang memuat dua hal sekaligus tanpa kehilangan esensi masing-masing. Justru, merayakan “keberagaman” tanpa mempersoalkan kondisi yang melahhirkannya adalah cara halus unutk menormalisasi dan melegitimasi luka kolonial.
Upaya Menghapus Warisan Kolonial dengan Senjata
Tegangan Katolikisme dan perjuangan antikolonial di Peru meledak dalam gerakan-gerakan di Peru, seperti Shining Path. Sendero Luminoso (Shining Path) merupakan gerakan berbasis Maois yang didirikan oleh Abimael Guzman di Ayacucho dan memulai perjuangan bersenjatanya pada 1980. Nama gerakan ini diambil dari tulisan Jose Carlos Mariategui yang menggambarkan jalan ke sosialisme sebagai Shining Path. Mariategui mengusung ide untuk menggantikan sistem kepemilikan tanah feodal dengan sistem agraria sosialis yang tidak akan meminggirkan masyarakat adat.
Namun, kenyataannya berbeda jauh dengan ide. Gerakan Shining Path mereduksi penderitaan masyarakat adat di pedesaan menjadi konflik kelas. Mereka tidak segan menyerang komunitas adat dan pemimpin tradisional yang dianggap berkompromi. Perang revolusioner yang dideklarasikan pada tahun 1980 di wilayah dataran tinggi tengah-selatan Ayacucho memakan puluhan ribu korban jiwa.
Salah satu target penyerangan Shining Path adalah gereja. Alasan penyerangan pun beragam, seperti agama yang dianggap candu bagi rakyat, anggapan gereja sebagai pesaing, hingga upaya menghapus tatanan lama melalui perjuangan bersenjata (Samanez, 2020). Peru terkenal sebagai tempat kelahiran Teologi Pembebasan di mana anggota gereja mendedikasikan diri mereka untuk bekerja di pedesaan. Di saat yang sama, Peru juga memiliki ketegangan dengan gereja dengan adanya kebencian otoritas publik karena menduga negara melakukan pelanggaran HAM.
Di Wilayah Selatan Puno, untuk mendirikan sel-sel subversif, Shining Path melakukan serangan ke gereja di Juli dan menyerang institusi edukasi di desa bernama IER sehingga melukai petinggi agama di sana. Dengan demikian, terlihat bahwa gereja masih dianggap sebagai tatanan kolonial yang masih beroperasi dan harus dihancurkan. Terlebih lagi, konstitusi Peru mengakui gereja Katolik sebagai institusi penting dalam fondasi historis, kultural, dan moral negara. Pencantuman posisi gereja dalam konstitusi pun mengimplikasikan satu hal—Katolik mencerminkan identitas “Peru” itu sendiri.
Bernyanyi dan Berdansa di Tepi Danau Titicaca
Di tempat yang sama—Puno—terdapat manifestasi dari dua kepercayaan yang dinegosiasikan tanpa senjata, yaitu melalui seni. Manifestasi ini terpampang dalam Festival Virgen de la Candelaria yang diselenggarakan dari 24 Januari—11 Februari. Bagi penganut Katolik, Bunda Maria diasosiasikan dengan kemurnian, ibu dari Yesus Kristus, dan pembawa cahaya—seperti makna candelaria yang berasal dari kata candela yang berarti lilin. Sementara itu, bagi banyak penganut kepercayaan lokal yang beridentitas Katolik, ia adalah wujud lain dari Pachamama dengan lilin di tangannya melambangkan api gunung berapi (nina pacha) yang merupakan napas bumi.
Festival bermula dari kisah penggembala yang menemukan sebuah patung yang memegang seorang anak dan lilin di pantai dekat kota Güímar yang kemudian diidentifikasi sebagai Bunda Maria. Pertumbuhan pengikut Katolik membuat patung Bunda Maria dari Candelaria direplikasi di Gereja San Juan Bautista dan seiring waktu melampaui popularitas Santo San Juan Bautista itu sendiri. Bunda Maria dianggap sebagai pelindung kota Puno ketika dikepung oleh pasukan Tupac Catari karena sempat dikira sebagai bala bantuan Spanyol.
Setiap 2 Februari, patung Bunda Maria dibawa keluar dari Gereja San Juan Bautista untuk diarak ke jalan di Puno, terkhususnya dekat dengan Danau Titicaca. Dalam teologi Kristen, tanggal 2 Februari merupakan hari ketika Yesus dipersembahkan ke Bait Allah. Di bulan yang sama, puncak musim hujan terjadi di dataran tinggi Andes sehingga ini menjadi momen sempurna untuk memohon kepada bumi untuk kesuburan, hujan, dan panen. Sementara itu, Danau Titicaca sebagai tempat perayaan diyakini sebagai tempat peradaban Andes dimulai—yaitu ketika dewa Viracocha muncul dari danau.
Pembauran kepercayaan terlihat dalam berbagai simbol, seperti patung Bunda Maria yang divisualisasikan dengan kulit gelap dan jubahnya yang berubah setiap tahun dengan warna khas Andean dan merepresentasikan sistem kosmologi Andean. Salah satu warna gaunnya adalah biru yang memiliki arti sendiri baik bagi Katolik dan mitologi Andes. Biru, dalam Katolik, dimaknai sebagai kemurnian dan surga. Namun, dalam kosmologi lokal, warna biru menghubungkan Bunda Maria dengan Danau Titicaca yang sangat dihormati oleh masyarakat lokal. Festival ini pun dicap sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tahun 2014.
Kepada Siapa Penghargaan ini Ditujukan?
Penghargaan dari UNESCO didapatkan karena merepresentasikan keindahan di Kota Puno yang mencampurkan kepercayaan adat dan Katolik. Penggambaran indah ini mencerminkan lambang perdamaian dari masyarakat adat dan paham katolik yang dibawa oleh Spanyol. Dalam laman resmi UNESCO, perayaan ini dikaitkan dengan konsep Katolikisme, praktik religius, prosesi, hingga sinkretisme religius. Bahkan, perayaan ini dianggap sesuai dengan SDG 16 yang mengedepankan perdamaian dan institusi yang kuat.
Namun, perhatian khusus perlu diberikan terhadap pemaknaan festival. Ada problematisasi ketika hanya menggunakan kata perdamaian dalam mendeskripsikan festival ini. Seakan-akan, ada tanggung jawab untuk mengucapkan terima kasih kepada Spanyol. Padahal, pada masa itu, masyarakat asli Peru ditindas dan dipaksa untuk menganut agama Katolik. Pelarangan ritual adat di publik pun memaksa mereka untuk menyembunyikan kepercayaan mereka di ruang privat. Artinya, ketika memaknai festival ini hanya sebagai bentuk “perdamaian”, kolonialitas terus bekerja dalam narasi itu.
Dapat menjadi sebuah ruang alternatif ketika memaknai festival ini sebagai ruang resistensi yang dilakukan oleh masyarakat adat. Terlebih lagi, festival ini lahir dari budaya masyarakat adat Peru sendiri yang diwariskan dari Kekaisaran Inca—yaitu perihal mereka yang telah biasa menggabungkan berbagai kepercayaan. Akan lebih tepat jika menempatkan kepercayaan mereka sebagai sorotan utama dalam diskursus karena ini yang membangun proses negosiasi identitas yang mereka alami. Ajaran Katolik memang memiliki berbagai kemiripan dengan kepercayaan adat mereka, tetapi bisa saja proses negosiasi tidak akan terjadi tanpa warisan leluhur mereka.
Terlebih lagi, ketika melihat diskursus Katolikisme di Puno, satu narasi besar mencuat—yaitu perihal siapa yang pantas dicap sebagai Katolik yang sesungguhnya. Ini pun dilatarbelakangi dengan identitas Katolik yang dikaitkan erat dengan identitas sebagai orang Peru. Narasi yang beredar pun menyasar pada adat istiadat yang berada di Puno. Beragam faktor yang membuat wilayah ini terstigmatisasi, salah satunya adalah ketinggian wilayahnya dan posisinya yang berada di ujung selatan Peru serta berbatasan dengan Bolivia. Masyarakat adat menderita berbagai bentuk diskriminasi, seperti akses yang tidak setara terhadap partisipasi politik hingga hak-hak mendasar lain.
Perlawanan Tanpa Henti yang Tidak Meninggalkan Luka
Masyarakat adat di Peru kini masih berjuang dalam berbagai ruang, seperti politik. Label kemerdekaan nyatanya masih menghasilkan penderitaan. Spanyol telah lama pergi dari tanah Andes, tetapi bentuk penjajahan baru muncul melalui kapitalisme ekstraktif yang merenggut tanah adat. Di tengah meriahnya “keberagaman”, harmonisasi yang ada tidak terjadi pada gerakan adat di Peru karena bersifat lokal dan tidak merambat ke ranah nasional. Mereka masih terfragmentasi dalam beberapa hal, seperti pemaknaan simbol Inka, dominasi ideologi Maois yang klasistis, penginterpretasian terminologi, dan lain sebagainya. Masalah lain muncul ketika rezim Alberto Fujimori melakukan perubahan pada prosedur-prosedur politik elektoral sehingga menghambat gerakan lokal.
Komunitas adat dataran tinggi Peru mendukung kandidat dari spektrum kiri hingga kiri-tengah yang secara simbolik dan pragmatis mengidentifikasi diri mereka sebagai “pendukung” masyarakat pedesaan dan adat. Politik di Peru kini diwarnai oleh pemilihan umum dengan putaran kedua dilaksanakan pada 7 Juni 2026. Setelah pertarungan sengit, Roberto Sánchez dan partainya yang berhaluan kiri—Juntos por el Perú—memenangkan putaran kedua dan mengalahkan Keiko Fujimori yang berhaluan kanan. Basis dukungan Sánchez pun terkonsentrasi pada masyarakat pedesaan di bagian tengah dan selatan negara.
Pilihan gaya Sánchez yang secara konsisten memakai topi khas pedesaan sepanjang kampanye memberikan sinyal keberpihakan kepada kelompoktermarginalkan—yaitu pemilih adat, Andean, dan pedesaan. Ia mendatangi Puno, memberikan dukungan kepada kesejahteraan petani, menaruh perhatian pada alam, yang membuat secercah harapan seakan muncul setelah diskriminasi dan stigma yang telah melekat. Hasilnya, mereka mendukung Sánchez. Perwakilan organisasi adat Aymara dan Quechua yang menjamur di Puno berkumpul dan berdiskusi hingga memutuskan untuk mendukung Sánchez yang dianggap mementingkan hak kolektif masyarakat.
Dukungan terhadap Sánchez tidak mengherankan. Sánchez, seorang psikolog berdarah Andes selatan yang pernah bercita-cita menjadi pastor dan menemukan jalan politiknya lewat organisasi berbasis gereja, adalah seseorang yang hidupnya sendiri adalah negosiasi antara dua dunia. Masyarakat adat Puno sampai ke titik ini melalui berbagai proses negosiasi, baik itu negosiasi identitas maupun negosiasi posisi dukungan untuk politik elektoral. Kemenangan elektoral pada putaran kedua bukan garis akhir. Masyarakat Puno telah cukup lama menyaksikan janji yang layu di tengah jalan—tidak bisa menyerahkan seluruh harapannya kepada satu nama di surat suara. Perlawanan tidak berakhir di bilik suara, tetapi kembali ke jalanan, ke altar, ke tepi danau, ke mana pun Pachamama masih disebut dan dimaknai dengan bahasa dan keyakinan yang tidak bisa diberangus siapa pun.
