Konten dari Pengguna

Setara Sejak Dini

Vera Itabiliana Hadiwidjojo

Vera Itabiliana Hadiwidjojo

A child psychologist & one lucky mom.

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vera Itabiliana Hadiwidjojo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Perempuan International (Foto: pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Hari Perempuan International (Foto: pixabay)

Selamat Hari Perempuan Internasional!

Seperti tahun-tahun sebelumnya, isu kesetaraan gender masih menjadi isu hangat yang dibahas setiap kali hari ini datang. Seolah kita diingatkan bahwa masih banyak PR yang belum selesai. Kesetaraan gender bukan hal instan tapi butuh proses dan pembiasaan sejak dini. Saya percaya anak-anak tumbuh dalam pembiasaan. Oleh karena itu, kesetaraan juga perlu dibiasakan. Sejak kapan? Sedini mungkin.

Ditilik dari fisiknya, laki-laki dan perempuan tentu berbeda. Namun, ini bukan berarti keduanya harus diperlakukan dan diberi kesempatan berbeda sejak dari kecil. Baik anak laki-laki maupun perempuan perlu diberikan kesempatan setara berpayung pola pengasuhan yang tidak diskriminatif berdasarkan gender. Anak laki-laki perlu mengembangkan afeksinya dan sebaliknya anak perempuan pun perlu sama tegarnya seperti anak laki-laki.

Secara disadari atau tidak, orangtua mungkin kerap melakukan batasan-batasan yang menjurus diskriminasi pada anak-anak semata karena jenis kelamin mereka. Ingat, terlalu banyak larangan dari orangtua akan menimbulkan perasaan bersalah pada anak karena merasa perilakunya selalu tidak benar di mata orangtuanya.

Orangtua dianjurkan untuk mendorong anak belajar berbagai peran yang ada di sekitarnya dan mengeksplorasi hal-hal yang ingin ia ketahui lebih mendalam. Misalnya, membiarkan anak laki-laki bermain peran sebagai orang yang memasak di rumah saat sedang main rumah-rumahan dengan teman atau saudaranya. Toh, banyak koki di dunia ini yang berjenis kelamin laki-laki. Sepanjang masih dalam koridor gendernya, orangtua perlu memberi kesempatan seluas-luasnya pada anak. Banyak orangtua yang khawatir saat anak laki-lakinya main dengan boneka, padahal bisa diposisikan anak sebagai "ayah" dari boneka tersebut.

Jika anak terbiasa dibedakan dan dibatasi, maka ada sebagian dari kehidupan ini yang ia tidak kenal. Sayang sekali bukan? Padahal kondisi saat ini menuntut perempuan untuk sama kuatnya dengan laki-laki dan sebaliknya laki-laki sama sensitifnya dengan perempuan. Berikut ini beberapa tindakan diskriminatif yang sering terjadi. Mungkin satu di antaranya pernah Anda lakukan juga:

  • Cepat memberikan bantuan jika anak perempuan yang mengalami kesulitan daripada anak laki-laki. Misalnya, jika anak perempuan yang jatuh cepat dibantu berdiri tapi sebaliknya anak laki-laki diharapkan bangun sendiri.

  • Melarang aktivitas main tertentu. Misalnya, anak perempuan tidak boleh main berantem-beranteman atau anak laki-laki tidak boleh main masak-masakan.

  • Mengidentikkan warna dengan jenis kelamin. Misalnya warna biru hanya untuk laki-laki dan pink untuk perempuan.

  • Membatasi ekspresi emosi. Misalnya anak perempuan tidak boleh tertawa terbahak-bahak atau anak laki-laki tidak boleh menangis.

  • Melarang jenis mainan tertentu. Misal, mobil-mobilan/robot untuk anak laki-laki dan boneka untuk anak perempuan.