PKH dan Pertarungan Melawan Kemiskinan Imajinatif: Masalah yang Tak Terlihat

Dosen dan Peneliti di Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung serta mahasiswa doktoral Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia, dengan fokus pada pembangunan sosial, dan kebijakan sosial.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Versanudin Hekmatyar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama lebih dari satu dekade, Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi tulang punggung perlindungan sosial di Indonesia. Di banyak desa dan sudut-sudut kota, bantuan ini menjadi ruang bernapas bagi jutaan keluarga. Stunting turun, posyandu kembali ramai, anak lebih disiplin bersekolah, dan akses kesehatan meningkat. Data BPS mencatat angka kemiskinan pada Maret 2025 berada di posisi 8,47 persen, terendah sejak Indonesia mencatat statistik kemiskinan.
Namun di tengah deretan capaian itu, sebuah pertanyaan terus muncul dari lapangan dan pembahasan akademik:
Mengapa begitu banyak keluarga yang sudah bertahun-tahun menerima PKH tetap tidak mampu graduasi?
Mengapa mereka tetap berada dalam situasi yang sama, meski bantuan telah “menolong hari ini”?
Pertanyaan ini membawa kita pada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar transfer tunai, yaitu persoalan aspirasi, kemampuan untuk membayangkan masa depan, membuat rencana, dan mengambil langkah kecil menuju perubahan.
Kemiskinan yang Tidak Terlihat: Ketika Orang Kehilangan Daya untuk Bermimpi
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan tidak terbatas pada kekurangan pendapatan, tetapi lebih jauh dari itu, juga keterbatasan imajinasi tentang masa depan. Lybbert & Wydick (2018) menyebutnya sebagai aspirations gap, jurang yang muncul ketika seseorang tidak lagi melihat kemungkinan hidup yang lebih baik. Jurang ini memperkuat poverty trap dan membuat mobilitas sosial hampir mustahil.
Konsep ini terasa dekat dengan kehidupan banyak penerima PKH. Anak-anak mereka memang bersekolah. Tetapi para orang tua, yang mengalami jeratan kemiskinan selama waktu yang sangat panjang, sering kali tidak percaya bahwa kondisi keluarga mereka dapat berubah dengan anak mereka pergi bersekolah. Mereka patuh terhadap aturan PKH, hadir di posyandu, memeriksakan kehamilan, memastikan anak sekolah, namun tetap merasa masa depan mereka sudah “tertutup”.
Penelitian Posel & Rogan (2019) menunjukkan bahwa aspirasi dibentuk oleh lingkungan sosial. Bila tetangga, keluarga, dan komunitas berada dalam kondisi miskin yang sama, standar aspirasi pun cenderung rendah. Marzi (2018) menemukan bahwa remaja di lingkungan miskin sering “tidak bisa menyebutkan mimpi mereka” karena mereka tidak pernah melihat contoh lain di sekitar mereka.
Ketika seseorang tidak pernah menyaksikan alternatif kehidupan, ia tidak punya alasan untuk percaya bahwa masa depan bisa berbeda. Dan tanpa kepercayaan itu, pilihan-pilihan hidup pun menjadi pendek, terbatas pada bertahan, bukan berkembang.
PKH Berhasil pada Akses, Tapi Belum pada Mobilitas
Tidak ada yang meragukan capaian PKH. Studi Cahyadi et al. (2020) menunjukkan bahwa setelah enam tahun program berjalan, persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat drastis, angka anak tidak bersekolah turun 50 persen, dan stunting berkurang hingga 23 persen. Ini adalah pencapaian yang luar biasa untuk program bantuan sosial bersyarat.
Namun studi yang sama memberikan catatan penting: PKH memperbaiki kondisi saat ini, tetapi belum mengubah lintasan ekonomi jangka panjang keluarga.
Artinya, PKH efektif dalam memperluas akses (pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar) tetapi belum secara signifikan mampu mengubah kemampuan keluarga untuk melompat keluar dari kemiskinan.
Lim & Lee (2022) mencatat bahwa PKH memang meningkatkan aspirasi pendidikan orang tua sekitar satu tahun tambahan. Namun peningkatan itu sangat rapuh. Sedikit guncangan, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan biaya mendadak, dapat meruntuhkan aspirasi tersebut seketika.
Genicot & Ray (2017) menambahkan bahwa aspirasi tidak selalu linier. Aspirasi yang terlalu rendah tidak memotivasi, tetapi aspirasi yang terlalu tinggi justru dapat membuat orang menyerah dan frustasi karena merasa tidak mungkin mencapainya. Pada banyak keluarga PKH, aspirasi itu bahkan belum sempat muncul. Mereka hidup dalam ruang imajinasi yang terbatas, bahkan tertutup.
Aspirasi yang Layu Sebelum Tumbuh
Di lapangan, pendamping PKH sering menemukan fenomena yang sama, dimana penerima manfaat disiplin dengan kewajiban program, tetapi bingung ketika ditanya tentang rencana lima tahun ke depan. Anak ingin sekolah tinggi, tetapi tidak tahu untuk apa. Orang tua ingin kondisi lebih baik, tetapi tidak tahu jalannya.
Appadurai (2004) mengatakan bahwa capacity to aspire tumbuh melalui dialog sosial, percakapan tentang masa depan, dan paparan pada pilihan hidup yang realistis. Namun dalam praktik PKH, pendamping sering tersandera rutinitas administratif, dengan meng-input kehadiran, mengawasi kepatuhan, mengumpulkan dokumen.
Yang kurang adalah ruang untuk membangun percakapan tentang mimpi. Akibatnya, banyak penerima manfaat berada dalam situasi di mana aspirasi layu, bahkan mati sebelum tumbuh, karena tidak pernah dipupuk.
Dan tanpa aspirasi, transformasi sosial hampir mustahil terjadi. Bantuan tunai hanya menjadi penguat hari ini, bukan pendorong masa depan.
PKH Perlu Bertransformasi: Dari Kepatuhan Menuju Aspirasi
Jika PKH ingin mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi, maka program ini perlu memperluas pendekatannya. Ada beberapa langkah sederhana tetapi berdampak:
1. Pendamping PKH sebagai fasilitator masa depan
Peran pendamping harus bergeser dari mengawasi kepatuhan menjadi memfasilitasi dialog. Misalnya, tambahan sesi refleksi 15–20 menit dalam P2K2 setiap bulan sudah cukup untuk memetakan aspirasi keluarga dan langkah kecil yang perlu diambil.
2. Membuka jalur mobilitas nyata
Aspirasi tidak tumbuh di ruang hampa. Integrasi PKH dengan KIP Kuliah, pelatihan kerja, UMKM, koperasi desa, hingga Balai Latihan Kerja (BLK) penting dilakukan agar keluarga memiliki opsi mobilitas yang konkret.
3. Membangun jejaring sosial yang memberi contoh
Keluarga yang pernah graduasi atau pelaku usaha kecil yang berhasil bisa menjadi inspirasi bagi keluarga lain. Lingkungan sosial baru dapat memperluas jendela aspirasi.
4. Mengurangi beban administratif pendamping
Pendamping akan lebih efektif bila dilepas dari beban pelaporan yang sangat besar, sehingga dapat fokus pada pendampingan manusiawi, bukan sekadar pendampingan administratif.
Harapan sebagai Infrastruktur Sosial
Pada akhirnya, perubahan terbesar bukan pada nominal bantuan, tetapi dari kemampuan keluarga untuk membayangkan masa depan dan percaya bahwa masa depan itu dapat dicapai. Banyak keluarga miskin tetap miskin bukan hanya karena pendapatannya rendah, tetapi karena keyakinannya bahwa hidup mereka tidak bisa berubah.
PKH telah berhasil membangun fondasi kesehatan dan pendidikan. Langkah selanjutnya adalah membangun infrastruktur harapan, ruang emosional, sosial, dan mental tempat aspirasi dapat tumbuh.
Karena pertarungan melawan kemiskinan tidak hanya terjadi di dompet, tetapi juga terjadi di dalam ruang imajinatif mereka yang mencoba bertahan hidup setiap hari.
Dan ketika negara hadir menyalakan kembali imajinasi itu, PKH akan benar-benar menjadi program yang mengangkat keluarga miskin dari kondisi hari ini menuju masa depan yang lebih layak.
Referensi
Appadurai, A. (2004). The capacity to aspire: culture and the terms of recognition. In V. Rao & M. Walton (Eds.), Culture and Public Action (pp. 59–84). World Bank Publications. http://ebookcentral.proquest.com/lib/washington/detail.action?docID=3050693.
Cahyadi, N., Hanna, R., Olken, B. A., Prima, R. A., Satriawan, E., & Syamsulhakim, E. (2020). Cumulative Impacts of Conditional Cash Transfer Programs: Experimental Evidence from Indonesia. American Economic Journal: Economic Policy, 12(4), 88–110. https://doi.org/10.1257/pol.20190245
Genicot, G., & Ray, D. (2017). Aspirations and Inequality. Econometrica, 85(2), 489–519. https://doi.org/10.3982/ecta13865
Lim, S. S., & Lee, J. (2022). Aspirations, Human Capital Investment, and the Intergenerational Transmission of Poverty in Indonesia. Social Indicators Research, 162(1), 377–412. https://doi.org/10.1007/s11205-021-02843-z
Lybbert, T. J., & Wydick, B. (2018). Poverty, Aspirations, and the Economics of Hope. Economic Development and Cultural Change, 66(4), 709–753. https://doi.org/10.2307/26545276
Marzi, S. (2018). ‘We are labeled as gang members, even though we are not’: belonging, aspirations and social mobility in Cartagena. Development Studies Research, 5(1), 15–25. https://doi.org/10.1080/21665095.2018.1466720
Posel, D., & Rogan, M. (2019). Inequality, Social Comparisons and Income Aspirations: Evidence from a Highly Unequal Country. Journal of Human Development and Capabilities, 20(1), 94–111. https://doi.org/10.1080/19452829.2018.1547272
