Konten dari Pengguna

Dari Haus Menjadi Gaya Hidup: Mengapa Minuman Viral Selalu Diburu?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Via Khurul Aenii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita membeli minuman karena penasaran setelah melihatnya berkali-kali di media sosial? Matcha, kopi susu, dan berbagai minuman kekinian kini bukan hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena tampilannya yang menarik. Foto minuman yang memenuhi beranda membuat banyak orang tertarik untuk mencoba. Tanpa disadari, kebiasaan membeli minuman mulai menjadi bagian dari gaya hidup. Dok. AI
zoom-in-whitePerbesar
Pernahkah kita membeli minuman karena penasaran setelah melihatnya berkali-kali di media sosial? Matcha, kopi susu, dan berbagai minuman kekinian kini bukan hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena tampilannya yang menarik. Foto minuman yang memenuhi beranda membuat banyak orang tertarik untuk mencoba. Tanpa disadari, kebiasaan membeli minuman mulai menjadi bagian dari gaya hidup. Dok. AI

Fenomena ini didukung oleh perkembangan media sosial yang membuat tren menyebar dengan cepat. Ketika kreator konten atau teman mengunggah minuman tertentu, muncul rasa penasaran untuk ikut mencobanya. Minuman yang awalnya biasa saja bisa menjadi populer karena banyak dibicarakan. Akibatnya, keputusan membeli tidak selalu didasarkan pada rasa atau kebutuhan, tetapi juga pada pengalaman yang sedang tren.

Data Jakpat yang dipublikasikan pada 7 Juli 2026 menunjukkan bahwa kopi dan teh dikonsumsi oleh lebih dari 70% responden dalam survei terhadap 1.238 orang di Indonesia. Sementara itu, 34% responden Gen Z mengaku mengonsumsi matcha dalam enam bulan terakhir. Data tersebut memperlihatkan bahwa kopi dan teh tetap populer, sedangkan matcha juga memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen muda. Namun, angka ini tidak berarti semua orang mengonsumsinya karena pengaruh tren. Dok. AI
zoom-in-whitePerbesar
Data Jakpat yang dipublikasikan pada 7 Juli 2026 menunjukkan bahwa kopi dan teh dikonsumsi oleh lebih dari 70% responden dalam survei terhadap 1.238 orang di Indonesia. Sementara itu, 34% responden Gen Z mengaku mengonsumsi matcha dalam enam bulan terakhir. Data tersebut memperlihatkan bahwa kopi dan teh tetap populer, sedangkan matcha juga memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen muda. Namun, angka ini tidak berarti semua orang mengonsumsinya karena pengaruh tren. Dok. AI

Menurut saya, mengikuti tren minuman bukanlah sesuatu yang salah. Setiap orang memiliki alasan berbeda, mulai dari menyukai rasanya hingga menjadikan kafe sebagai tempat berkumpul. Masalah muncul ketika seseorang merasa harus membeli minuman tertentu agar tidak ketinggalan pergaulan. Pada kondisi tersebut, keinginan pribadi dapat tergeser oleh dorongan untuk mengikuti orang lain.

Kebiasaan ini juga perlu dilihat dari sisi pengeluaran. Survei Jakpat yang dilaporkan Databoks Katadata pada Januari 2025 menemukan bahwa 48% responden Gen Z mengeluarkan kurang dari Rp10.000 untuk membeli atau membuat segelas kopi. Meskipun jumlahnya relatif kecil untuk satu kali pembelian, pengeluaran berulang tetap perlu diperhatikan. Membeli minuman sesekali tentu berbeda dengan mengeluarkan uang terus-menerus hanya karena mengikuti tren.

Karena itu, konsumen perlu lebih bijak dalam menyikapi minuman viral. Kita bisa mempertimbangkan harga, kebutuhan, dan alasan sebelum membeli. Media sosial juga sebaiknya digunakan sebagai sumber informasi, bukan sebagai patokan untuk menentukan gaya hidup. Dengan begitu, kita tetap bisa menikmati tren tanpa harus memaksakan diri mengikuti semua hal yang populer.

Pada akhirnya, minuman viral bukan sekadar persoalan rasa, tetapi juga mencerminkan bagaimana media sosial dan lingkungan memengaruhi pilihan konsumen. Menikmati matcha atau kopi tidak berarti seseorang mencari gengsi. Namun, kita perlu menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti. Gaya hidup yang bijak bukan tentang seberapa sering kita membeli sesuatu yang viral, melainkan tentang kemampuan menentukan pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan diri