Dari Haus Menjadi Gaya Hidup: Mengapa Minuman Viral Selalu Diburu?

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Via Khurul Aenii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena ini didukung oleh perkembangan media sosial yang membuat tren menyebar dengan cepat. Ketika kreator konten atau teman mengunggah minuman tertentu, muncul rasa penasaran untuk ikut mencobanya. Minuman yang awalnya biasa saja bisa menjadi populer karena banyak dibicarakan. Akibatnya, keputusan membeli tidak selalu didasarkan pada rasa atau kebutuhan, tetapi juga pada pengalaman yang sedang tren.

Menurut saya, mengikuti tren minuman bukanlah sesuatu yang salah. Setiap orang memiliki alasan berbeda, mulai dari menyukai rasanya hingga menjadikan kafe sebagai tempat berkumpul. Masalah muncul ketika seseorang merasa harus membeli minuman tertentu agar tidak ketinggalan pergaulan. Pada kondisi tersebut, keinginan pribadi dapat tergeser oleh dorongan untuk mengikuti orang lain.
Kebiasaan ini juga perlu dilihat dari sisi pengeluaran. Survei Jakpat yang dilaporkan Databoks Katadata pada Januari 2025 menemukan bahwa 48% responden Gen Z mengeluarkan kurang dari Rp10.000 untuk membeli atau membuat segelas kopi. Meskipun jumlahnya relatif kecil untuk satu kali pembelian, pengeluaran berulang tetap perlu diperhatikan. Membeli minuman sesekali tentu berbeda dengan mengeluarkan uang terus-menerus hanya karena mengikuti tren.
Karena itu, konsumen perlu lebih bijak dalam menyikapi minuman viral. Kita bisa mempertimbangkan harga, kebutuhan, dan alasan sebelum membeli. Media sosial juga sebaiknya digunakan sebagai sumber informasi, bukan sebagai patokan untuk menentukan gaya hidup. Dengan begitu, kita tetap bisa menikmati tren tanpa harus memaksakan diri mengikuti semua hal yang populer.
Pada akhirnya, minuman viral bukan sekadar persoalan rasa, tetapi juga mencerminkan bagaimana media sosial dan lingkungan memengaruhi pilihan konsumen. Menikmati matcha atau kopi tidak berarti seseorang mencari gengsi. Namun, kita perlu menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti. Gaya hidup yang bijak bukan tentang seberapa sering kita membeli sesuatu yang viral, melainkan tentang kemampuan menentukan pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan diri
