Konten dari Pengguna

Barista Jalanan yang Berjuang di Tengah Biaya Pendidikan yang Makin Melangit

Vici Dwi Indarta

Vici Dwi Indarta

Spesialis Ekraf & Event Strategist dengan rekam jejak dalam aktivasi ruang publik & pemberdayaan komunitas.Ahli dalam merancang program Ekraf yang berkelanjutan, sinergi lintas sektor, Aktivasi Ruang Publik & pengembangan Ekosistem Kreatif yg Inklusi

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vici Dwi Indarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi selalu datang lebih cepat bagi orang yang sebut saja bernama Surya. Bukan karena ia rajin—tapi karena hidup memang tidak memberi tombol “nanti dulu”. Jam lima lewat sedikit, ia sudah bangun, menyiapkan galon air, menghitung stok gula, dan memastikan termosnya rapat. Di kamar sempit yang dindingnya sudah hafal suara motor lewat, Surya menyusun hari seperti menyusun bubuk kopi: pelan, teliti, dan tidak boleh banyak yang tumpah.

Di atas bajaj nyentrik, tangan terampil meracik aroma. Barista jalanan ini tak sekadar menyeduh kopi, tapi menuang semangat. Tiap adukan adalah dedikasi, menghadirkan kenikmatan autentik nan hangat di tengah riuh kota yang tak pernah mati. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Di atas bajaj nyentrik, tangan terampil meracik aroma. Barista jalanan ini tak sekadar menyeduh kopi, tapi menuang semangat. Tiap adukan adalah dedikasi, menghadirkan kenikmatan autentik nan hangat di tengah riuh kota yang tak pernah mati. Foto: Dok. Pribadi

Ia barista jalanan. Bukan barista kafe dengan mesin espresso mengilap dan playlist jazz, tapi barista yang berdamai dengan debu, angin, dan trotoar yang kadang lebih ramai dari jadwal kuliah. Lapak yang terbuat dari bajaj yang ia modifikasi ala kadarnya agar terlihat skena. Menunya tidak banyak. Namun, tiap gelas yang ia racik punya satu rasa yang sama: niat.

​Surya sering bilang, “Kopi itu cuma pintu. Yang penting orangnya masuk.”

​Maksudnya: ia tidak menjual minuman, ia menjual momen singkat ketika orang berhenti sebentar dari hidupnya.

​Di bajaj modifikasinya, Surya melihat banyak hal: pekerja yang terburu-buru, anak sekolah yang menahan malu meminta harga “yang paling murah”, ibu-ibu yang menawar bukan karena pelit, melainkan karena anggaran belanja sudah dibagi sampai ke titik terakhir. Dari semua itu, Surya belajar satu hal: hidup itu tentang bertahan, tapi bertahan saja tidak cukup.

​Sebab, Surya punya mimpi yang lebih jauh dari sekadar “jualan laku”. Ia ingin kuliah.

​Dulu, waktu SMA, ia sempat yakin pendidikan adalah tangga. Naik pelan-pelan, tidak apa-apa. Yang penting naik. Namun setelah lulus, ia baru tahu: tangga itu ada, iya—tapi anak tangganya mahal.

​Biaya daftar, uang gedung, UKT, buku, tugas yang butuh mencetak (print), kuota internet, transpor, belum lagi “biaya tak terlihat”: waktu, tenaga, dan perasaan minder saat melihat teman-teman yang bisa fokus belajar tanpa harus memikirkan gas elpiji dan harga susu.

Di balik riuh jalanan, ada ketenangan saat ia membilas gelas. Bukan kafe mewah, hanya kursi lipat dan galon biru di samping bajaj kopi. Namun, dedikasinya menyajikan kopi terbaik tak kalah berkelas. Sebuah potret perjuangan yang tulus dan bersahaja. Foto: Dok. Pribadi

Surya pernah menempelkan selembar kertas di dinding kamarnya.

​Isinya sederhana: “KULIAH.”

​Di bawahnya, ia tulis angka target tabungan. Angka itu ia coret, ia perbarui, ia ulangi. Kadang naik. Kadang turun. Seringnya: stagnan.

​Ada hari-hari ketika Surya pulang dengan pundak pegal, kaki panas, dan uang yang tidak seberapa. Hari-hari ketika hujan turun tanpa kompromi, membuat lapaknya sepi, dan ia harus memilih: tetap bertahan di bawah payung kecil atau menutup lebih cepat supaya tidak rugi.

​Ada juga hari ketika ia mendengar kabar kampus menaikkan biaya ini-itu, dan rasanya seperti sedang menabung untuk pintu yang terus digeser lebih jauh.

​Yang paling menyakitkan bukan lelahnya. Tapi rasa seperti dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak bisa diajak negosiasi: inflasi mimpi.

​Namun, Surya tetap membuka lapak besoknya.

​Tetap merebus air.

​Tetap menakar bubuk.

​Tetap menyapa orang-orang: “Pagi, Mas. Seperti biasa?”

​Kadang ia bawa modul fotokopian di tas. Kalau sedang sepi, ia baca. Kalau sedang ramai, modul itu tetap ada—sebagai pengingat bahwa lapak ini bukan akhir, hanya jalan.

​Satu sore, seorang pelanggan rutin—pegawai kantor yang sering beli kopi susu tanpa gula—melihat Surya membaca. Ia bertanya, “Belajar apa, Mas?”

​Surya menjawab pelan, seperti takut mimpinya jatuh kalau diucapkan keras-keras:

​“Biar bisa kuliah. Saya ingin lanjut.”

​Orang itu mengangguk lama. Lalu besoknya datang lagi—bukan cuma beli kopi, tapi membawa buku bekas yang masih bagus. Tidak mewah, tidak heroik, tapi cukup untuk membuat Surya merasa: ia tidak sendirian.

​Begitulah hidup Surya: tidak banyak kejadian besar. Tidak ada musik dramatis. Tidak ada kamera menyorot dari atas. Yang ada hanya rutinitas yang dijalani dengan kepala tegak. Dan justru di situ letak keberaniannya.

​Karena Surya tahu, pendidikan makin mahal, tapi menyerah lebih mahal lagi.

Di sela menanti pembeli, ia rehat sejenak. Fokus pada layar, menunggu rezeki di pinggir jalan. Foto: Dok. Pribadi

Ia menulis buku harian (diary) di ponsel, setiap malam sebelum tidur. Kadang satu paragraf. Kadang cuma satu kalimat:

​“Hari ini jualan 23 gelas.”

​“Hujan, sepi.”

​“Ada yang bilang kopiku enak.”

​“Tabungan nambah sedikit.”

​“Aku harus bisa.”

​Di akhir catatan, Surya selalu menutup dengan kalimat yang sama—bukan karena ia tidak punya ide lain, tapi karena ia sedang melatih keyakinan:

​“Pelan-pelan asal sampai.”

​Dan besok, sebelum kota benar-benar bangun, Surya sudah lebih dulu berangkat—mendahului sinar surya yang beranjak naik—dengan membawa bajajnya, meja lipat, dan mimpi yang ia rawat dari pinggir jalan. Semoga Surya kelak akan menyinari dunia.