Ketika Lidah Terlalu Ramai dan Kata-Kata Tak Lagi Cukup

Spesialis Ekraf & Event Strategist dengan rekam jejak dalam aktivasi ruang publik & pemberdayaan komunitas.Ahli dalam merancang program Ekraf yang berkelanjutan, sinergi lintas sektor, Aktivasi Ruang Publik & pengembangan Ekosistem Kreatif yg Inklusi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Vici Dwi Indarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda merasa seperti seorang pejalan di lorong gelap yang panjang? Anda berusaha menyalakan lampu satu per satu, berharap cahaya itu cukup untuk membuat orang lain mengerti apa yang ada di kepala Anda.
Kita sering kali terjebak dalam situasi itu. Kita memilih kata yang paling sopan, mencari kiasan yang paling aman, dan mengatur jeda yang paling tepat. Kita memasukkan segala kelelahan ke dalam kalimat, dengan satu keyakinan naif: bahwa makna bisa dipaksa hadir jika narasinya disusun rapi dan dijelaskan panjang lebar.
Namun, di ujung segala jerih payah itu, sering kali kita membentur tembok. Lidah kita menjadi terlalu ramai, sementara hati lawan bicara justru tak sempat mendengar.
Di titik inilah sebuah kesadaran seharusnya muncul. Bahwa pemahaman bukanlah sekadar perkara bunyi dan huruf. Sering kali, saat kita merasa sedang “mengenalkan” kebenaran, sesungguhnya kita hanya sedang ingin diakui. Kita ingin dibilang paling benar, paling paham, dan paling layak didengar. Ego kitalah yang berbicara, bukan ketulusan.
Hingga akhirnya, kita menyadari bahwa perubahan sejati sering kali datang dengan cara yang sunyi.
Lihatlah bagaimana Allah bekerja. Dia mengenalkan diri-Nya tanpa pidato berapi-api, tanpa tanda tangan, tanpa pembuktian yang dibuat-buat. Sebagaimana embun mengenalkan pagi tanpa pengumuman, atau sebagaimana wangi tanah mengenalkan hujan tanpa argumen. Tiba-tiba saja, yang tadinya tertutup menjadi terbuka. Yang tadinya jauh, mendadak terasa dekat. Yang tadinya keras menolak, menjadi lembut seolah ada tangan halus yang menggeser kunci dari dalam.
Ada “bahasa” yang tidak tertulis di atas kertas: bahasa takdir, bahasa kasih sayang, dan bahasa hidayah. Ia tidak gaduh, tetapi menggetarkan. Ia tidak mengajak berdebat, tetapi menenangkan. Ia tidak memaksa, tetapi membuat seseorang “pulang” pada kebenaran dengan langkahnya sendiri.
Maka, bagi siapa pun kita—entah penulis, pendakwah, orang tua, atau pemimpin—tugas kita bukanlah menaklukkan hati manusia. Tugas kita hanyalah menjaga niat tetap bening saat berikhtiar.
Kata-kata tetap penting, tetapi ia hanyalah pintu. Sedangkan yang membuat pintu itu benar-benar terbuka adalah Dia, Sang Pemilik Rumah.
Biarlah kita menulis seperlunya dan menjelaskan secukupnya. Selebihnya, serahkan kepada Allah. Jika Dia berkehendak, satu isyarat diam pun bisa lebih fasih daripada seribu bait puisi.
Sebab pada akhirnya, yang memperkenalkan kebenaran bukanlah aku atau kamu. Kita hanya mengetuk. Allah yang membukakan.
