Konten dari Pengguna

Saat Lampu Sorot Padam: Nestapa di Balik Panggung yang Sepi

Vici Dwi Indarta

Vici Dwi Indarta

Spesialis Ekraf & Event Strategist dengan rekam jejak dalam aktivasi ruang publik & pemberdayaan komunitas.Ahli dalam merancang program Ekraf yang berkelanjutan, sinergi lintas sektor, Aktivasi Ruang Publik & pengembangan Ekosistem Kreatif yg Inklusi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vici Dwi Indarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

​Kediri - Lampu panggung itu masih tergantung rapi. Backdrop acara masih terlipat dalam plastik. Di sudut gudang; rangka tenda, kabel, dan kursi lipat tertata seperti menunggu perintah. Biasanya, semua itu bergerak cepat—diangkut, dipasang, disusun, lalu dalam hitungan jam berubah menjadi sebuah peristiwa. Namun, ketika negara sedang tidak baik-baik saja, yang pertama terasa adalah sunyi. Dan sunyi itu paling cepat datang ke dunia event organizer (EO).

Cahaya panggung menyatukan kita, merayakan akar budaya yang takkan pernah lekang oleh waktu.Foto Dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Cahaya panggung menyatukan kita, merayakan akar budaya yang takkan pernah lekang oleh waktu.Foto Dok. pribadi

​Satu acara yang dibatalkan mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang; hanya sebuah kegiatan yang ditunda. Namun bagi pekerja EO, satu acara berarti hidup bagi puluhan, bahkan ratusan orang. Dalam satu acara skala kecil saja, setidaknya ada 20 sampai 30 pekerja yang terlibat. Mulai dari koordinator lapangan, kru registrasi, operator suara, teknisi pencahayaan, dekorasi, dokumentasi, hingga tenaga bongkar muat.

​Jika acara berskala menengah, jumlah itu bisa mencapai 50 sampai 80 orang. Ada manajer panggung, runner, liaison officer, tim konsumsi, pembawa acara (MC), pengisi acara, keamanan, hingga tim kebersihan. Mereka bekerja tidak hanya saat acara berlangsung, tetapi juga sebelum dan sesudahnya. Ada yang menata kursi sejak subuh, ada yang menggulung kabel saat tengah malam, dan ada yang baru pulang ketika semua orang sudah tidur.

​Sementara untuk acara besar seperti konser, pameran, atau festival daerah, jumlah pekerjanya bisa menembus 100 hingga 200 orang, bahkan lebih. Mulai dari vendor sistem suara, pencahayaan, videotron, dekorasi, tenda, logistik, dokumentasi, multimedia, hingga UMKM yang berjualan di area acara. Satu panggung yang berdiri sesungguhnya menghidupi banyak keluarga.

Fokus tajam sang perekam, abadikan momen di balik lensa. Foto : Dok. pribadi

​Itulah sebabnya, ketika kondisi ekonomi melambat atau anggaran ditahan, industri EO menjadi yang pertama terdampak. Perusahaan menunda peluncuran produk. Pemerintah mengurangi kegiatan seremonial. Komunitas menahan festival. Bahkan, acara pernikahan pun disederhanakan. Kalimat yang sering terdengar hanyalah, “Kita tunda dulu, ya,” atau “Anggaran belum bisa turun.”

​Kalimat pendek itu berdampak panjang. Telepon yang biasanya ramai menjadi sepi. Grup koordinasi yang biasanya penuh jadwal, mendadak kosong. Para tenaga lepas yang biasanya berpindah dari satu acara ke acara lain, kini hanya saling bertanya, “Ada kerjaan minggu ini?”

​Sebagian dari mereka akhirnya beralih sementara. Operator pencahayaan menjadi tukang servis listrik. Kru panggung membantu usaha keluarga. Fotografer acara mencoba membuka jasa foto produk. Ada yang bertahan, ada yang menunggu, ada yang terpaksa mencari jalan lain. Namun, semuanya memiliki harapan yang sama—agar panggung kembali ada.

​Karena bagi pekerja EO, acara bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah sumber nafkah yang bergerak dari satu momen ke momen lain. Mereka tidak memiliki gaji tetap; mereka hidup dari jadwal. Jika jadwal kosong, penghasilan pun ikut kosong.

​Namun di balik itu, ada ketangguhan yang jarang terlihat. Mereka tetap merawat peralatan, membersihkan gudang, menjaga jaringan, dan menyusun proposal baru, seolah siap kapan saja jika panggilan itu datang lagi. Mereka tahu dunia acara selalu hidup dalam siklus: ada masa ramai, ada masa sunyi. Dan saat sunyi datang, mereka belajar bertahan.

​Ketika negara tak baik-baik saja, panggung memang redup lebih dulu. Namun di balik layar, masih ada banyak orang yang menjaga harapan tetap menyala. Mereka mungkin tak terlihat saat lampu sorot padam, tetapi mereka tetap ada—menunggu hari ketika musik kembali terdengar, kursi kembali terisi, dan ratusan pekerja kembali bergerak dalam satu irama.

​Karena bagi mereka, satu acara bukan hanya peristiwa. Satu acara adalah kehidupan bagi puluhan, bahkan ratusan orang. Dan ketika panggung kembali berdiri, itu bukan hanya tentang hiburan—itu tentang roda ekonomi kecil yang kembali berputar.