Menghayati Banyu Urating Urip: GKJ Baturetno Gelar Ibadah Alam di Tepi Perairan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vicka Rumanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

WONOGIRI - Gereja Kristen Jawa (GKJ) Baturetno kembali mengadakan ibadah alam pada 12 Oktober 2025 setelah yang terakhir diadakan satu tahun lalu pada 6 Oktober 2024. Ibadah ini dilaksanakan di tepi Waduk Gajah Mungkur, tepatnya di Dusun Wotan, Boto, Baturetno dengan pelayan firman Pendeta Emeritus Darsono Eko Nugroho, Pendeta Dian Sunu Prakoso, dan Pendeta Filo Yustikarno Kristya Persada. Diikuti oleh 9 wilayah yang ada di GKJ Baturetno, yakni Watangrejo, Giribelah, Giriwoyo, Ture, Baturetno, Kudi, Tirtomoyo, Beji, dan Kedungrejo, ibadah ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan.

Ibadah alam sebelumnya telah dilaksanakan 7 kali sejak tahun 2018 dengan mengangkat tema unsur-unsur kehidupan, seperti tanah, air, angin, dan api. Kali ini GKJ Baturetno kembali mengusung tema air dengan judul utama “Banyu Urating Urip” atau “Air Nadi Kehidupan”. Alam dipilih untuk menjadi peran utama yang dapat menghantarkan para jemaat dalam merenungkan dan menghayati karya ciptaan Tuhan melalui unsur air yang esensial bagi kehidupan.
Tak hanya sebagai wujud peribadatan di tengah alam terbuka, ibadah ini juga dilangsungkan sebagai momentum memperingati Sakramen Perjamuan Kudus Sedunia. Melalui bacaan utama dari Keluaran 17:1-7, jemaat diajak untuk tidak takut karena Tuhan sendirilah yang akan merawat.
“Tema ini menunjukkan pemberontakan manusia karena kebutuhan akan hal mendasar. Maka dari itu, kita pakai tempat ini karena cari sensasi panas dan kering supaya seolah-olah ada di padang gurun,” jelas pendeta Sunu.
“Kita mencoba menghadirkan alam dalam ibadah, jadi suasananya harus real. Kalau hari ini kan temanya ada padang gurun dan air, jadi ya beneran panas. Alamnya bukan hanya menjadi peran tambahan, tapi jadi yang utama,” tambah pendeta Filo tentang suasana alam yang dikaitkan dengan bacaan firman.
Ibadah alam ini didukung dengan koreografi tarian payung oleh anak-anak sekolah minggu dan drama oleh para majelis tentang pemberontakan umat Israel karena kehausan. Jemaat GKJ Baturetno pun dapat menghayati ibadahnya, sehingga pesan Air Nadi Kehidupan dapat tersampaikan.
“Sumber air menjadi simbol utama yang mengingatkan jemaat akan Kristus, sang Air Kehidupan Sejati. Menurut saya ibadah alam ini menjadi pengingat bahwa kasih Tuhan mengalir tanpa batas dan menyegarkan setiap hati yang percaya,” ujar Catherine salah satu jemaat GKJ Baturetno wilayah Tirtomoyo.
Tak hanya itu, ibadah ini juga dirancang dengan visual yang indah. Payung dan kostum warna-warni menambah nuansa perayaan yang hidup, merefleksikan janji Kristus sebagai sumber air yang menyegarkan setiap jiwa yang berbeda-beda.
“Fungsi payungnya yaitu satu menahan panas, dua supaya visualnya juga jadi lebih asyik dari warna-warni dan bentuknya,” ungkap Pendeta Sunu.
Buka tutup payung juga dimasukkan dalam prosesi ibadah agar jemaat bisa merasakan bagaimana ketika panas terik dan ketika mendapat keteduhan serta perlindungan. Ibadah ini kemudian ditutup dengan makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur yang Tuhan berikan.
