Konten dari Pengguna

Memahami Tradisi Praonan dari Kacamata Teori Komodifikasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vicky Hidayatulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Dokumentasi Karang Taruna "Pantura Bangkit" Kelurahan Ngemplakrejo
zoom-in-whitePerbesar
Source: Dokumentasi Karang Taruna "Pantura Bangkit" Kelurahan Ngemplakrejo

Teori komodifikasi budaya menjelaskan proses perubahan unsur-unsur kebudayaan seperti tradisi, ritual, dan praktik sosial yang semula berfungsi sebagai ekspresi nilai sosial, religius, dan simbolik masyarakat, kemudian mengalami pergeseran fungsi menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Greenwood menegaskan bahwa ketika tradisi budaya masuk ke dalam logika pasar, khususnya melalui pariwisata dan kegiatan ekonomi kreatif, budaya tersebut cenderung dikemas ulang agar memiliki daya jual. Proses ini menyebabkan terjadinya perubahan makna dan orientasi budaya dari yang bersifat sosial-kolektif menuju orientasi ekonomi. Sejalan dengan pandangan tersebut, Cohen menyatakan bahwa komodifikasi budaya tidak selalu menghilangkan keaslian tradisi, tetapi mengubah cara tradisi tersebut diproduksi, ditampilkan, dan dimaknai sesuai dengan kebutuhan pasar dan konsumen.

Teori komodifikasi budaya secara lokal juga telah dikembangkan oleh peneliti Indonesia untuk menjelaskan bagaimana tradisi dan kearifan budaya diubah menjadi komoditas yang bernilai ekonomi dalam konteks pariwisata dan globalisasi. Irianto menjelaskan bahwa komodifikasi budaya merupakan fenomena yang semakin meluas di era ekonomi global, terutama ketika industri pariwisata berperan sebagai agen perubahan yang mentransformasikan seni tradisional dan praktik budaya menjadi produk komersial dan objek konsumsi wisata. Dalam konteks masyarakat lokal, komodifikasi budaya umumnya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, modernisasi, globalisasi, serta tuntutan adaptasi masyarakat terhadap perubahan sosial yang semakin kompleks. Dengan demikian, teori komodifikasi budaya memberikan kerangka analisis untuk memahami bagaimana dan mengapa suatu tradisi mengalami transformasi fungsi dalam masyarakat modern.

Latar budaya masyarakat Ngemplakrejo terbentuk melalui perpaduan antara nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga saat ini adalah Tradisi Praonan. Tradisi ini dilaksanakan pada momentum Lebaran Ketupat atau hari ketujuh setelah Idulfitri dengan kegiatan berkeliling laut menggunakan perahu secara bersama-sama. Bagi masyarakat Ngemplakrejo, Praonan bukan sekadar aktivitas rekreasi, melainkan menjadi simbol kebersamaan, silaturahmi, dan ungkapan rasa syukur atas keselamatan serta rezeki yang diperoleh dari laut. Dalam perkembangannya, Tradisi Praonan turut menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Pasuruan, khususnya di wilayah Ngemplakrejo.

Kebutuhan ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong proses komodifikasi Tradisi Praonan. Dalam momentum pelaksanaan Praonan, masyarakat memanfaatkan keramaian acara dengan membuka berbagai usaha, seperti penjualan makanan dan minuman, penyewaan perahu, jasa parkir kendaraan, hingga penjualan cendera mata. Selain itu, Tradisi Praonan juga membuka peluang berkembangnya sektor pariwisata budaya di wilayah pesisir Kota Pasuruan. Tradisi yang semula bersifat lokal kini mulai dikenal oleh masyarakat luar daerah melalui media sosial, pemberitaan, dan promosi pemerintah. Kondisi tersebut menjadikan Praonan sebagai daya tarik wisata tahunan yang mampu meningkatkan mobilitas pengunjung ke wilayah Ngemplakrejo.

Dalam perkembangan masyarakat modern, keberlangsungan suatu tradisi sangat dipengaruhi oleh dukungan pemerintah, komunitas budaya, sektor swasta, serta partisipasi masyarakat lokal. Dalam konteks Tradisi Praonan di Kelurahan Ngemplakrejo, Pemerintah Kota Pasuruan turut memfasilitasi pelaksanaan tradisi dengan memberikan dukungan keamanan, promosi acara melalui media sosial maupun website resmi hingga penyediaan sarana pendukung kegiatan. Selain pemerintah, komunitas budaya dan tokoh masyarakat juga memiliki peran penting dalam mempertahankan nilai-nilai Tradisi Praonan. Pihak swasta dan sponsor juga mulai mengambil bagian dalam pengembangan Tradisi Praonan. Dukungan sponsor dapat membantu memperbesar skala acara sehingga mampu menarik lebih banyak pengunjung dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. Di sisi lain, keterlibatan berbagai media massa dan media sosial turut memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan Tradisi Praonan.

Salah satu dampak positif yang paling nyata dari komodifikasi Tradisi Praonan adalah dampak ekonomi karena terjadi peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Penyewaan kapal, jasa parkir dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang memperoleh manfaat signifikan dari berkembangnya komodifikasi Tradisi Praonan. Komodifikasi Tradisi Praonan juga mendorong terjadinya perubahan dalam pola hubungan sosial masyarakat. Perubahan tersebut terjadi setelah Praonan yang pada awalnya hanya menjadi aktivitas budaya bagi kelompok masyarakat tertentu kemudian dikembangkan sebagai atraksi budaya dan wisata sehingga menciptakan ruang interaksi lebih luas yang melibatkan unsur masyarakat setempat serta berbagai pihak eskternal.

Komodifikasi Tradisi Praonan juga dapat memberikan dampak terhadap penguatan solidaritas sosial masyarakat. Dalam masyarakat yang masih mempertahankan tradisi lokal, perwujudan solidaritas sering kali melalui kegiatan gotong royong, musyawarah, dan kerja kolektif dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan adat maupun sosial. Salah satu dampak positif komodifikasi Tradisi Praonan lainnya adalah meningkatnya peluang pelestarian budaya melalui pengenalan yang lebih luas kepada masyarakat.

Di balik berbagai manfaat yang diperoleh seperti yang telah disebutkan pada sub-bab sebelumnya, komodifikasi Tradisi Praonan juga memiliki potensi dampak negatif yang perlu mendapat perhatian. Salah satu risiko yang paling sering dibahas dalam kajian komodifikasi budaya adalah berkurangnya nilai sakral dan pergeseran makna filosofis serta fungsi tradisi akibat kecenderungan pada orientasi ekonomi. Dampak negatif lain dari banyaknya pengunjung yang datang akibat dari komodifikasi Tradisi Praonan adalah banyaknya sampah yang berserakan setelah berlangsungnya pelaksanaan Tradisi Praonan. Selain itu, komodifikasi pada Tradisi Praonan juga dapat menggeser orientasi masyarakat dari pelestarian budaya menuju pencarian keuntungan ekonomi semata.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa munculnya aktivitas ekonomi didalam pelaksanaan Tradisi Praonan menandakan bahwa tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai saran pelestraian budaya, tetapi juga berfungsi sebagai penggerak perekonomian masyarakat lokal Ngemplakrejo. Namun, komodifikasi budaya juga menimbulkan tantangan tersendiri. Perubahan orientasi tradisi yang terlalu menonjolkan aspek ekonomi dikhawatirkan dapat mengurangi nilai sakral dan makna budaya yang terkandung di dalamnya.