Konten dari Pengguna

Setelah Jejak Soekarno, Kini Jejak Bung Hatta di Padang Terancam Hilang

Vicky Kurniawan
Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang & Kajian Sejarah Universitas Andalas
3 November 2025 13:27 WIB
·
waktu baca 12 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Setelah Jejak Soekarno, Kini Jejak Bung Hatta di Padang Terancam Hilang
Lapangan Imam Bonjol, Padang yang telah berusia 170 tahun terancam oleh wacana pembangunan Kodam XX/Imam Bonjol yang membawahi Sumatra Barat dan Jambi.
Vicky Kurniawan
Tulisan dari Vicky Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sudut pertigaan Plein van Rome (Sumber: KITLV-Leiden University No. 32207)
zoom-in-whitePerbesar
Di sudut pertigaan Plein van Rome (Sumber: KITLV-Leiden University No. 32207)
ADVERTISEMENT
Masih ingat dengan peristiwa yang menghebohkan pada Februari 2023 di Kota Padang? Kala mahasiswa dan masyarakat sipil melakukan demonstrasi terkait hancurnya Cagar Budaya Rumah Singgah Soekarno di Kota Padang. Wali Kota Padang saat itu yakni Hendri Septa dinilai gagal menjaga cagar budaya di wilayah yang ia pimpin. Ironisnya, sang istri—Genny Putrinda, anak politisi kawakan Leonardy Harmainy—saat itu tengah menjabat sebagai ketua komunitas Cagar Budaya, Sejarah dan Museum (CBSM) Kota Padang.
ADVERTISEMENT
Hancurnya cagar budaya tersebut disorot tajam oleh pers lokal maupun nasional. Hingga Universitas Jember yang berada di Jawa Timur menggelar konferensi pers yang dihadiri langsung oleh para rektor, sejarawan, akademisi, mahasiswa dan insan pers. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim meminta agar kasus tersebut diusut tuntas. Tak sampai disitu, anggota parlemen dari fraksi PDI-Perjuangan akan melaporkan peristiwa tersebut pada Megawati Soekarnoputri yang merupakan anak Soekarno bersama Fatmawati yang tak lain merupakan perempuan bersuku Minangkabau.
Tidak ada lagi suara-suara yang menggema di ruang publik terkait sejarah, cagar budaya dan hal senada lainnya. Bahkan cagar budaya tersebut yang dahulu digunakan Soekarno sebagai tempat awal konsolidasi politik saat kedatangan Jepang, kini telah beralih fungsi sebagai warung ramen, Jepang. Ironis!
Rumah Singgah Soekarno di Kota Padang (Sumber: Wikimedia Commons https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rumah_Singgah_Bung_Karno_(1960).jpg)
Kini, setelah 32 bulan pasca penghancuran cagar budaya tersebut, masyarakat Padang agaknya harap-harap cemas. Setelah satu jejak Bapak Proklamator—Soekarno—telah hilang di Kota Padang, nampaknya jejak sang Bapak Proklamator lainnya—Mohammad Hatta—juga terancam lenyap. Bagaimana tidak, seminggu sebelum perayaan 80 tahun kemerdekaan republik, Presiden Prabowo telah meresmikan enam Komando Daerah Militer (Kodam) baru, salah satunya Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol yang membawahi Sumatera Barat dan Jambi yang berpusat di Kota Padang.
ADVERTISEMENT
Apa pasal dan kenapa masyarakat Kota Padang agaknya harap-harap cemas? Tak lain karena munculnya wacana bahwa pembangunan Kodam Tuanku Imam Bonjol—yang untuk sementara waktu berkantor di gedung Korem 032/Wirabraja—akan direncanakan di RTH Imam Bonjol keseluruhan atau sedikit di sudut tanpa merusak lapangan.
Ihwal ini mulanya disampaikan secara tertulis oleh Khairul Jasmi—Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Padang yang juga diamanahi sebagai Ketua Ikatan Alumni (Iluni) Sejarah IKIP/UNP. "Saya dapat kabar, RTH Imam Bonjol keseluruhan, atau sedikit di sudut tanpa merusak lapangan, akan dibangun kantor Kodam Tuanku Imam Bonjol, atau kantor kecil saja. Yang manapun, jika ini benar, sepertinya pilihan itu salah. Mudah-mudahan saja tidak dibangun di sana", tulis Khairul Jasmi yang akrab disapa KJ itu di Harian Singgalang tertanggal 16 Oktober 2025.
ADVERTISEMENT
Syahdan, mengingat jejak Soekarno yang 32 bulan lalu hilang. Lantas, apakah jejak Hatta ikut menyusul "terlenyapkan" di Kota Padang? Untuk mewanti-wanti hal ini, agaknya kita perlu mengetahui bagaimana Hatta "menjejakan" jejaknya di lapangan ini.

Plein van Rome, Lapangan Imam Bonjol Masa Kolonial

Dua orang tengah berbincang-bincang di Plein van Rome (Sumber: KITLV-Leiden University No. 32225 https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/805439?solr_nav%5Bid%5D=6cf6e8325bfbd26873b5&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=0)
Plein van Rome atau Lapangan Roma atau Alun-Alun Roma, begitu lokasi itu diberi nama. Tidak diketahui pasti kenapa nama "Rome" disematkan di alun-alun kota tersebut. Juga tidak ada sumber sejarah yang eksplisit menyebutkan kenapa pemerintah kolonial memberi nama itu. Namun kita dapat melacak beberapa sumber lain untuk mencari tahu alasan dibalik penamaan Plein van Rome.
Merujuk pada perjalanan Justus van Maurik yang disadur Dirk Teeuwen. Maurik mengunjungi sociëteit De Eendracht — sebuah klub sosial kolonial tempat orang Eropa berkumpul.
ADVERTISEMENT
s' Avonds gaat de auteur met zijn gastheer naar sociëteit De Eendracht. De sociëteit is enige kilometers landinwaarts in Padang te vinden, gelegen aan de – hoe kan het anders – Sociëteitsweg. De Sociëteitsweg op zijn beurt grenst een plein af dat het gemeentebstuur niet zonder zelfoverschatting het Plein van Rome als officële benaming heeft gegeven.
In Indië is de “soos” voor de kolonialen het ontspanningsoord bij uitnemendheid. Helaas voor de meer fijngevoeligen is het instituut ook onvermijdelijk en onontkoombaar. Europeanen hebben daarginds een niet te stillen behoefte aan bals, muziek, toneel, verkleedpartijen en conference-achtige lezingen. Er wordt veel sterke drank genuttigd en mede daardoor worden er tevens veel schuine moppen getapt als er geen dames in de buurt zijn.
ADVERTISEMENT
Pada malam hari, sang penulis pergi bersama tuan rumahnya ke perkumpulan De Eendracht. Perkumpulan ini terletak beberapa kilometer ke arah pedalaman Padang, di sebuah jalan yang — bagaimana lagi bisa — bernama Sociëteitsweg (Jalan Perkumpulan). Jalan ini berbatasan dengan sebuah alun-alun yang oleh pemerintah kota, tidak tanpa sedikit melebih-lebihkan diri, diberi nama resmi Plein van Rome (Lapangan Roma).
Di Hindia Belanda, “soos” (sociëteit) merupakan tempat hiburan utama bagi kaum kolonial. Sayangnya bagi mereka yang lebih halus perasaannya, tempat itu juga menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Orang Eropa di sana memiliki kebutuhan besar akan pesta dansa, musik, pertunjukan, pesta kostum, dan ceramah bergaya konferensi. Banyak minuman keras yang dikonsumsi, dan jika tak ada wanita di sekitar, banyak pula lelucon cabul yang beredar.
ADVERTISEMENT
Teeuwen menambahkan, “Ik heb geen idee waarom men destijds deze naam heeft bedacht.” (Saya tidak tahu mengapa nama itu dulu dipilih). Kalimat tersebut menunjukkan nada sindiran halus dari Teeuwen terhadap kebiasaan kolonial Belanda memberi nama-nama Eropa mewah (Plein van Rome, Waterlooplein, Noordwijk, Paris van Java, Paris van Sumatra, dsb) untuk tempat-tempat di Nusantara — seolah-olah hendak “memindahkan” Eropa ke tanah jajahan.
Sociëteit De Eendracht di Padang, tidak jauh dari Plein van Rome (Sumber: Leiden University No. 400036 https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/898249?solr_nav%5Bid%5D=dcbcb1bf0add4a4d3ec3&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=0)
Syahdan, penamaan ruang publik dengan istilah-istilah Eropa, seperti Plein van Rome di Padang, Waterlooplein di Batavia, atau julukan populer Paris van Java bagi Bandung dan Paris van Sumatra bagi Medan—meski kadang juga disematkan pada Bukittinggi—memperlihatkan pola simbolik yang sama dalam imajinasi kolonial Belanda. Melalui praktik toponimi ini, pemerintah kolonial tidak hanya menandai ruang kekuasaan secara administratif, tetapi juga secara budaya — seolah-olah ingin “memindahkan” Eropa ke tanah jajahan.
ADVERTISEMENT
Nama-nama di atas berfungsi sebagai penegasan identitas kolonial: Waterlooplein merayakan kemenangan Eropa atas Napoleon, Plein van Rome meminjam kemegahan peradaban klasik, sedangkan Paris van Java dan Paris van Sumatra mencitrakan kota-kota Hindia sebagai versi tropis dari pusat modernitas Barat. Dengan demikian, penamaan tersebut menjadi bagian dari proyek simbolik kolonialisme: membingkai ruang tropis sebagai cermin Eropa, sambil meneguhkan hierarki budaya antara penjajah dan yang dijajah.

Hatta dan Sepakbola

Hatta di tahun 1928 (Sumber: Wikimedia Commons https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pamontjak,_Hatta_en_andere_personen.jpg)
Hatta lebih dikenal sebagai Wakil Presiden yang menggilai buku, ia bahkan rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku-buku itulah ia sejatinya bebas. Begitulah kalimat yang melekat pada pribadi yang lahir pada 12 Agustus 1902 di Fort de Kock — Bukittinggi hari ini.
Namun, selain "gila" akan buku ia juga menggilai dunia olahraga khususnya sepakbola. "Aku rela dihukum nenek, asalkan dapat bermain sepakbola", kira-kira begitulah saya memparafrase kalimat Solichin Salam dalam Bung Hatta: Profil Seorang Demokrat.
ADVERTISEMENT
Bagaimana tidak, akibat kegemarannya menendang "si kulit bundar", ia pernah terlambat pulang ke rumah dan alhasil ia dihukum sang nenek berdiri di bawah pohon jambu dan tidak boleh keluar dari garis lingkaran di sekitar pohon itu. Karena merupakan anak laki-laki semata-wayang di keluarga, agaknya sang nenek cukup "protektif" menjaga Hatta muda.
Hatta akhirnya dapat dengan leluasa bermain bola ketika ia melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Padang — sekarang SMPN 1 Padang. Kekhawatiran sang nenek dijelaskan dalam otobiografi Hatta, Untuk Negeriku, di mana Hatta menjelaskan bahwa sang nenek takut ia cedera namun saat berada di Padang ia merasa bebas karena hampir setiap hari pukul lima sore, ia sudah berada di Plein van Rome dan bermain sepakbola. Kegiatan hanya ada dua: berlatih atau bertanding.
ADVERTISEMENT
Sejatinya, tidak banyak pemain yang mampu bermain sepakbola di berbagai posisi, namun tidak dengan Hatta. Hatta merupakan seorang "Versatile" — dalam sepak bola merujuk pada pemain yang mampu bermain di banyak posisi di lapangan dengan sama baiknya. Di Plein van Rome — saksi bisu "kegemilangan" Hatta, ia sering berpindah posisi. Di Swallow Club, misalnya, ia merupakan seorang bek tengah namun di Young Fellows Club ia adalah gelandang tengah dan bek tengah yang diandalkan.
Ketika ia bergabung dengan Jong Sumatra Bond (JSB), ia justru didapuk sebagai penyerang tengah. Selama masa studinya di Padang, ia dipercaya menempati tiga posisi inti dalam formasi sepakbola — hanya di posisi penjaga gawang yang agaknya tidak ia lakoni.
ADVERTISEMENT
Atas "karirnya" yang gemilang itu, ia mendapat julukan Onpas Serbaar yang berarti seseorang yang sukar untuk dilewati. Di sini bakat "ekonomi" Hatta mulai tampak. Selain dipercaya sebagai bek tengah untuk menghalau lawan dan menjaga garis pertahanan, ia juga dipercaya menjadi manager keuangan (bendahara tim) untuk menjaga "finansial tim."
“Bola harus dibeli dan uang pembeliannya harus dikumpulkan berangsur-angsur dengan jalan membayar kontribusi tiap-tiap bulan,” ujar pemain bertahan cum-manager keuangan itu.
Di JSB, saat didapuk menjadi penyerang tengah, ia berhasil mempersembahkan gelar juara hattrick di Piala Sumatera Selatan. Tidak ada catatan resmi mengenai berapa banyak gol atau assist yang ia berikan namun prestasi tersebut menunjukan betapa "gemilangnya karir sang pemain sebagai seorang pemain versatile yang telah "meniti karir mengolah si kulit bundar di Plein van Rome."
Sekolah di Boven Digul tahun 1929 (Sumber: Wikimedia Commons https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/729771?solr_nav%5Bid%5D=fbbe0b3e8a7d0f0c1ee7&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=8)
Tidak ada catatan lagi mengenai "sepak terjang" Hatta dalam memainkan si kulit bundar selepas menyelesaikan studi di MULO. Ia melanjutkan sekolah di Prins Hendrik School (PHS) — sekarang SMAN 1 Jakarta. "Karirnya" di sepakbola terdengar lagi saat ia diasingkan ke Boven Digul pada 1935. Bung Hatta saat itu didapuk menjadi bek tengah selama masa pengasingan di Boven Digul.
ADVERTISEMENT
Sebagai pendatang baru Digulis, ia menyempatkan diri menghadapi Digulis lama. Friendly Match antara New Digulis vs Old Digulis diadakan di Boven Digul, Papua. Hatta sebagai New Digulis menerapkan formasi 2-3-5. Sebuah formasi yang di awal abad-20 merupakan formasi populer dan lazim. Formasi ini juga disebut sebagai formasi 'piramida'.
Komposisi pemain: Marwoto (GK), Hatta (CB), Burhanuddin (CB), Datuk Singo (LH), Maskun (CH), Rasad (RH), Suka (LW), Bondan (IF), Sjahrir (CF), Lubis (IF), Muhidin (RW).
Formasi 2-3-5 yang lebih dikenal dengan formasi piramida. (Sumber: Wikimedia Commons https://commons.wikimedia.org/wiki/File:2-3-5_(pyramid).svg)
New Digulis-nya Hatta berhasil mengalahkan lawan dengan skor 3-1. Pada 1 Februari 1936 saat Hatta dan Sjahrir hendak dipindahkan ke Banda Neira, mereka kembali mengadakan friendly match sebagai laga perpisahan namun tidak ada catatan mengenai hasil akhir pertandingan.
ADVERTISEMENT
Saat menjadi Wakil Presiden, ia pernah kesal saat tim India, Aryan Gymkhana berhasil mengalahkan tim dari PSSI 0-1 di Lapangan Ikada (Monas). Hatta bersama Soekarno duduk di tribun kehormatan menyaksikan kekalahan tersebut. Hatta yang sejak remaja gemar akan sepakbola membahas tiap detail pertandingan pada Soekarno seolah-olah tengah membahas situasi politik yang genting.
Soekarno dan Hatta tengah berbincang (Sumber: Wikimedia Commons https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Soekarno_and_Hatta_in_official_duty.jpg)
Ikatan batinnya dengan lapangan masa kecilnya tak pernah pudar. Buktinya, pada awal 1970-an, tatkala Marthias Doesky Pandoe— seorang jurnalis kawakan Sumatra Barat—bertamu di rumahnya, Bung Hatta sekonyong-konyong bertanya, “Di mana letak Plein van Rome sekarang?” Pandoe menjawab, lapangan bolanya masih ada, tapi sudah beralih fungsi menjadi alun-alun kota Padang. Namanya sudah menjadi Lapangan Imam Bonjol, tepat di depan kantor Balai Kota Padang. Kenangan sebagai Onpas Serbaar-cum manager keuangan ternyata tetap hidup di benaknya, puluhan tahun setelah ia meninggalkan Padang.
ADVERTISEMENT

Stadion yang tak sudi ditaklukkan

Presentasi European Champion Clubs’ Cup pertama di Parc des Princes di Paris pada tanggal 13 Juni 1956. (Sumber: Wikimedia Commons https://commons.wikimedia.org/wiki/File:ParcdesPrincesCoupedesClubsChampions1956.png)
Hatta mungkin tak lagi muda, namun sepakbola tak mengenal usia. Baginya, sepakbola bukan sekadar permainan, melainkan disiplin hidup yang menuntut kerja sama, strategi, dan sportivitas—tiga hal yang kelak ia terapkan dalam politik.
Tahun 1956, ia menonton finalis European Champion Clubs’ Cup— kini dikenal sebagai UEFA Champions League—bersama sang istri. Ia menyaksikan tim PSSI dibantai 1-5 oleh Stade de Reims, klub asal Perancis.
Ada tujuh laga uji coba yang diselenggarakan:
ADVERTISEMENT
Lihatlah laga tur pramusim yang dilakukan oleh Stade de Reims yang di tahun yang sama berhasil masuk final UCL namun kalah oleh Real Madrid. Satu-satunya laga tur pramusim yang gagal mereka menangkan ialah kala bertandang ke Plein van Rome yang saat itu telah berganti nama menjadi Stadion Banteng—tempat di mana Hatta tumbuh menjadi anak muda pecinta bola. Plein van Rome ternyata cukup "angker" bagi finalis UCL itu.
Raymond Kopa saat mengenakan seragam tim nasional Prancis tahun 1960 (Sumber: Wikimedia Commons https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kopa,_Franse_vortballer.jpg)
Bagaimana tidak cukup "angker", Stade de Reims diperkuat Raymond Kopaszewski (Kopa) yang pada 1960 berhasil meraih gelar Ballon d'Or. Ia dan kesebelasannya berhasil meluluhlantakan tim-tim asal Indonesia di berbagai stadion namun tidak demikian halnya dengan Plein van Rome. Lapangan tersebut "tidak sudi" ditaklukan oleh Kopa-dkk, sehingga menjadi satu-satunya stadion yang tidak ternoda oleh legenda sepakbola yang membela timnas Perancis tersebut.
ADVERTISEMENT

Apa selanjutnya?

Lapangan Imam Bonjol (Sumber: Wikimedia Commons https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Lapangan_Imam_Bonjol.JPG)
Hatta yang dilahirkan pada 12 Agustus 1902 seolah-olah menyiratkan hubungannya dengan republik yang ia perjuangkan. Ia dilahirkan di bulan yang sama dengan proklamasi negara yang ia cintai. Hatta telah menorehkan banyak catatan yang patut diteladani. Ia bermain dan belajar di Padang. MULO dan Plein van Rome tidak akan pernah bisa dilepaskan dalam sejarah hidupnya.
Kini, Plein van Rome yang telah berganti nama dengan Lapangan Imam Bonjol. Di lapangan ini, anak-anak lima tahun hingga belasan tahun bermain sepakbola. Sekolah Sepak Bola (SSB) Imam Bonjol berdiri dan mengukir banyak prestasi baik di regional maupun nasional.
Pada 15 Agustus 2025, SSB Imam Bonjol Padang berhasil menjadi juara Piala Soeratin U13 Zona Sumbar setelah berhasil mengalahkan Josal FC Piaman dengan skor 5-4 lewat adu penalti di babak final. Prestasi ini menjadi modal kuat mereka untuk tampil di putaran nasional.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, mereka juga berhasil menjuarai Danone Cup tingkat Sumatera Barat pada tahun 2009 dan 2017 sehingga SSB Imam Bonjol menjadi perwakilan Sumatera Barat di tingkat Nasional.
SSB Imam Bonjol seolah-olah mewarisi "Jiwa Hatta" yang selalu tampil memikat dan mempertahankan marwah Lapangan Imam Bonjol — penerus Plein van Rome yang telah berusia 170 tahun itu.
Syahdan, jiwa itu tiada pernah padam. Jika di masa lalu Plein van Rome menjadi medan latih-tempur Hatta dan kawan-kawan, atau gelanggang uji nyali bagi finalis Eropa, kini semangat yang sama hidup dalam denyut nadi SSB Imam Bonjol.
Di hamparan rumput yang sama, anak-anak usia lima hingga belasan tahun mengukir prestasi demi prestasi mereka sendiri. SSB ini telah melahirkan banyak talenta muda. Mereka adalah bukti bahwa Lapangan Imam Bonjol bukan sekadar monumen mati, melainkan sebuah ekosistem hidup yang terus-menerus melahirkan "Hatta-Hatta" baru dalam dunia sepakbola. Ia bukan hanya masa lalu namun juga masa depan yang terus berkelindan.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, mengubah Lapangan Imam Bonjol bukan hanya soal tata kota, melainkan memutus sebuah mata rantai sejarah yang menghubungkan kita dengan kegemaran, semangat juang, dan kenangan manusiawi seorang Bapak Bangsa. Kehilangan Jejak Soekarno adalah sebuah luka; kehilangan Jejak Hatta akan menjadi amputasi bagi memori kolektif bangsa.
NB: Seluruh gambar dalam artikel ini berasal dari sumber domain publik dan/atau arsip berlisensi terbuka, termasuk Wikimedia Commons dan KITLV Leiden. Penggunaan dilakukan sesuai dengan ketentuan lisensi masing-masing sumber serta Pasal 43 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.