Konten dari Pengguna

Sekolah di Tengah Kabut Asap: Tantangan Menerapkan Pedagogi Hijau di Pekanbaru

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vicria Cecilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Belajar bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang menjaga lingkungan".source:ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
"Belajar bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang menjaga lingkungan".source:ChatGPT

Pekanbaru dan Riau bukanlah wilayah yang asing dengan persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bagi masyarakat, asap bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kesehatan, dan kegiatan belajar siswa. Bahkan pada Agustus 2026, BMKG Riau bersama Pemerintah Kota Pekanbaru membahas kesiapsiagaan menghadapi karhutla dan potensi kabut asap, termasuk perlindungan bagi anak-anak sekolah. Pada 24 Agustus 2026, Pemerintah Kota Pekanbaru mengalihkan sementara pembelajaran PAUD hingga SMP ke sistem daring setelah kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat berpengaruh langsung terhadap proses pendidikan.

Menurut saya, kondisi tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup hanya diberikan melalui teori di dalam kelas. Sekolah perlu mulai menerapkan pedagogi hijau, yaitu pendekatan pendidikan yang mendorong siswa memahami lingkungan sekaligus membangun kebiasaan untuk menjaganya.Pedagogi hijau dapat dipahami sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan persoalan lingkungan dan keberlanjutan ke dalam proses pendidikan, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan, nilai, dan kemampuan untuk mengambil tindakan.

Pedagogi Hijau Bukan Sekadar Menanam Pohon. Ketika mendengar istilah sekolah hijau, mungkin yang terbayang adalah sekolah yang memiliki banyak tanaman, taman yang rapi, dan lingkungan yang bersih. Namun, menurut saya, makna pedagogi hijau jauh lebih luas.

Pedagogi hijau harus membuat siswa memahami hubungan antara manusia dan lingkungan. Dalam konteks Pekanbaru, isu karhutla dan kabut asap dapat dijadikan contoh nyata dalam proses pembelajaran. Siswa dapat diajak memahami penyebab kebakaran hutan dan lahan, dampaknya terhadap kualitas udara, serta bagaimana masyarakat dapat ikut mencegah kerusakan lingkungan.

Dengan begitu, siswa tidak hanya mengetahui bahwa kabut asap itu berbahaya, tetapi juga memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Tantangan Menerapkan Pedagogi Hijau di Tengah Persoalan Asap. Menurut saya, tantangan terbesar adalah mengubah kepedulian menjadi kebiasaan. Siswa mungkin sudah mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan dan merusak lingkungan merupakan tindakan yang tidak baik. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu langsung menjadi perilaku sehari-hari.

Tantangan lainnya adalah bagaimana guru menghubungkan isu lingkungan dengan berbagai mata pelajaran. Pedagogi hijau seharusnya tidak hanya menjadi tugas guru IPA. Guru Bahasa Indonesia dapat mengajak siswa menulis opini mengenai kabut asap di Riau. Guru IPS dapat membahas hubungan aktivitas manusia dengan kerusakan lingkungan, sedangkan guru matematika dapat mengolah data mengenai kualitas udara atau jumlah titik panas.

Kondisi asap juga dapat memengaruhi kegiatan belajar secara langsung. Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan luar ruangan tentu perlu dipertimbangkan kembali. Pemerintah bahkan menempatkan perlindungan siswa sebagai salah satu perhatian dalam penanganan dampak asap karhutla.

Menurut saya, hal ini justru menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih fleksibel, termasuk memanfaatkan teknologi dan pembelajaran dari rumah ketika kondisi tidak memungkinkan untuk belajar secara normal.

Peluang: Asap Bisa Menjadi Pelajaran Nyata. Di balik masalah tersebut, saya melihat adanya peluang besar. Persoalan lingkungan yang terjadi di sekitar siswa dapat dijadikan sebagai laboratorium pembelajaran.

Siswa dapat melakukan proyek sederhana seperti membuat kampanye digital tentang pencegahan karhutla, membuat poster mengenai bahaya asap, melakukan pengelolaan sampah di sekolah, mengurangi penggunaan plastik, atau melakukan penghijauan di lingkungan sekolah.

Teknologi juga dapat menjadi media yang menarik. Siswa dapat menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah karhutla. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat memberikan dampak kepada masyarakat.

Hal ini sejalan dengan arah pendidikan berkelanjutan yang mendorong sekolah membangun kesadaran, karakter, dan kemampuan siswa untuk menghadapi persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

Dari Sekolah untuk Pekanbaru yang Lebih Peduli Lingkungan. Menurut saya, pedagogi hijau tidak harus dimulai dari program yang besar. Sekolah dapat memulainya dari kebiasaan sederhana: membuang dan memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, menghemat air dan listrik, merawat tanaman, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Yang lebih penting adalah konsistensi. Jangan sampai kepedulian terhadap lingkungan hanya muncul ketika kabut asap datang. Pendidikan lingkungan seharusnya dilakukan setiap hari agar siswa memahami bahwa menjaga lingkungan bukan kegiatan musiman.

Sekolah juga perlu memberikan contoh. Guru dan seluruh warga sekolah harus menunjukkan perilaku yang ingin ditanamkan kepada siswa. Sebab, sulit membangun generasi peduli lingkungan jika lingkungan sekolah sendiri belum mencerminkan nilai-nilai tersebut.

Bagi saya sebagai mahasiswa, persoalan kabut asap di Pekanbaru menunjukkan bahwa pendidikan dan lingkungan memiliki hubungan yang sangat dekat. Ketika lingkungan terganggu, proses pendidikan juga dapat ikut terdampak. Karena itu, pedagogi hijau bukan sekadar pilihan, tetapi dapat menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang lebih sadar terhadap lingkungan.

Pekanbaru tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar secara akademik, tetapi juga generasi yang memahami bagaimana menjaga tempat mereka hidup. Dari ruang kelas, kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai. Dari kebiasaan kecil siswa, perubahan untuk Pekanbaru dan Riau yang lebih hijau dapat dibangun.

Vicria Br. Tambunan, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau.