Kenapa Orang Rela Bayar Ratusan Juta Demi Kartu TCG Pokemon?

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang program studi Ilmu Komunikasi S1
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Victo Ramadhana Pogiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang membuat seseorang rela mengeluarkan ratusan juta rupiah hanya untuk mendapatkan selembar kartu?
Pertanyaan tersebut kembali mencuat setelah kartu Pokémon milik YouTuber dan pegulat WWE Logan Paul terjual dengan harga fantastis pada 16 Februari 2026. Kartu Pikachu Illustrator dengan grade PSA 10 tersebut terjual melalui Goldin Auctions dengan harga US$16.492.000 atau sekitar Rp280 miliar lebih, menjadikannya kartu perdagangan termahal yang pernah terjual melalui lelang. Guinness World Records mengonfirmasi rekor tersebut.
Bagi sebagian orang, angka tersebut terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin selembar karton bergambar Pikachu memiliki harga yang mampu membeli rumah mewah, mobil sport, bahkan sebuah perusahaan kecil?
Namun, bagi kolektor Pokémon, kartu tersebut bukan sekadar selembar karton.
Di situlah menariknya fenomena Pokémon Trading Card Game atau TCG. Nilai sebuah kartu tidak hanya ditentukan oleh bahan pembuatnya, tetapi oleh sejarah, kelangkaan, kondisi, popularitas karakter, serta seberapa besar keinginan orang lain untuk memilikinya.
Ketika Kartu Pokémon Berubah Menjadi Barang Bernilai Tinggi
Penjualan kartu Logan Paul menjadi salah satu contoh paling ekstrem mengenai bagaimana sebuah benda koleksi dapat memperoleh nilai yang sangat tinggi.
Pikachu Illustrator bukan kartu yang bisa ditemukan dengan mudah melalui booster pack biasa. Kartu tersebut diberikan sebagai hadiah dalam kontes ilustrasi yang diselenggarakan di Jepang pada akhir 1990-an. Hanya sekitar 40 kartu yang diyakini pernah didistribusikan, sementara kartu milik Logan Paul dipercaya sebagai satu-satunya yang mendapatkan grade PSA 10.
Artinya, harga US$16,492 juta tersebut tidak muncul hanya karena gambar Pikachu.
Harga tersebut merupakan hasil pertemuan antara kelangkaan dan permintaan.
Semakin sedikit jumlah barang yang tersedia, sementara semakin banyak orang yang menginginkannya, semakin besar pula potensi harga yang terbentuk. Dalam kasus Pikachu Illustrator PSA 10 milik Logan Paul, situasinya bahkan lebih ekstrem karena kombinasi antara kelangkaan kartu, kondisi sempurna, sejarah kartu, popularitas Pokémon, dan status pemilik sebelumnya.
Logan Paul sendiri membeli kartu tersebut pada 2021 dengan harga US$5,275 juta. Lima tahun kemudian, kartu yang sama terjual hampir tiga kali lipat dari harga pembelian sebelumnya.
Angka inilah yang kemudian membuat banyak orang mulai melihat kartu Pokémon bukan hanya sebagai barang koleksi, tetapi sebagai sesuatu yang mungkin menghasilkan keuntungan.
Ketika Pokémon Mulai Dibicarakan sebagai “Investasi”
Di Indonesia, pembahasan mengenai kartu Pokémon sempat ramai di berbagai platform digital sepanjang 2026. Sejumlah kreator seperti Calon Sarjana, Room49, Duzzle, dan Theresa Learns turut membahas fenomena mahalnya kartu Pokémon dan bagaimana benda koleksi tersebut dapat memiliki nilai yang sangat tinggi.
Perbincangan tersebut kemudian bertemu dengan momentum yang lebih besar: perayaan 30 tahun Pokémon.
Pokémon sendiri pertama kali hadir di Jepang pada 1996 dan selama tiga dekade berkembang menjadi salah satu franchise hiburan terbesar di dunia. Popularitas tersebut membuat hubungan emosional antara penggemar dan karakter Pokémon tidak berhenti pada permainan atau serial animasi, tetapi juga merembet ke barang koleksi, termasuk kartu TCG.
Di sinilah muncul fenomena yang menarik.
Seseorang yang sebelumnya tidak pernah mengoleksi kartu Pokémon bisa tiba-tiba tertarik setelah melihat sebuah kartu terjual ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah. Mereka kemudian mulai mencari harga kartu, melihat video pembukaan booster pack, mengikuti komunitas kolektor, hingga mempertimbangkan membeli kartu dengan harapan nilainya akan meningkat.
Fenomena seperti ini dekat dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO.
Ketika seseorang melihat orang lain mendapatkan keuntungan dari suatu aset, muncul kekhawatiran bahwa dirinya akan tertinggal apabila tidak ikut masuk ke pasar tersebut.
Masalahnya, harga kartu tidak selalu bergerak naik.
Kenapa Booster Pack Bisa Membentuk Ekonomi Sendiri?
Salah satu hal menarik dari TCG adalah cara kartu tersebut didistribusikan.
Konsep permainan kartu koleksi modern berkembang pesat sejak kemunculan Magic: The Gathering pada 1993 yang dirancang oleh Richard Garfield. Pemain memperoleh kartu melalui booster pack yang berisi kombinasi kartu secara acak.
Sistem tersebut menciptakan dua hal sekaligus: kelangkaan dan ketidakpastian.
Seseorang bisa membeli satu booster pack dan mendapatkan kartu biasa. Namun, orang lain bisa membuka booster yang sama dan mendapatkan kartu yang jauh lebih langka.
Dari sini muncul aktivitas pertukaran.
Kartu yang tidak dibutuhkan dapat ditukar dengan pemain lain. Seiring berkembangnya komunitas, kartu yang awalnya hanya dipertukarkan mulai memiliki harga. Pemain yang menginginkan kartu tertentu bisa memilih membeli langsung daripada terus membuka booster pack dengan kemungkinan mendapatkan kartu tersebut yang tidak pasti.
Ekosistem ini kemudian berkembang menjadi pasar tersendiri.
Fenomena tersebut semakin terlihat dalam budaya live opening atau siaran langsung pembukaan booster pack. Penonton tidak hanya membeli kartu, tetapi juga membeli pengalaman dan kemungkinan mendapatkan sesuatu yang langka.
Mereka sebenarnya tidak hanya membeli kartunya.
Mereka membeli kesempatan.
Kenapa Grade Bisa Membuat Harganya Berbeda Jauh?
Kelangkaan kartu juga tidak berhenti pada jumlah kartu yang dicetak.
Kondisi fisik kartu memiliki peranan besar.
Lembaga seperti PSA, Beckett Grading Services atau BGS, dan Certified Guaranty Company atau CGC melakukan penilaian terhadap kondisi kartu. Semakin tinggi grade yang diperoleh, semakin sedikit pula jumlah kartu yang berada pada kondisi tersebut.
Kartu yang sama bisa memiliki harga berbeda hanya karena kondisi fisiknya.
Sebuah kartu dengan grade rendah mungkin masih dapat ditemukan dengan harga relatif terjangkau. Namun, kartu yang sama dengan grade tertinggi dapat memiliki harga berkali-kali lipat.
Pikachu Illustrator milik Logan Paul merupakan contoh ekstrem dari fenomena tersebut. Kelangkaan kartu ditambah kondisi PSA 10 membuatnya berada pada kategori yang sangat berbeda dibandingkan kartu Pokémon biasa. Guinness bahkan mencatat kartu tersebut sebagai satu-satunya Pikachu Illustrator yang diketahui memiliki grade 10.
Dengan kata lain, yang dijual bukan hanya kartunya.
Yang dijual adalah kelangkaannya.
Jadi, Apakah Kartu Pokémon Benar-Benar Investasi?
Di sinilah kita perlu berhati-hati menggunakan kata “investasi”.
Kartu Pokémon memang dapat memberikan keuntungan. Logan Paul sendiri menjadi contoh bahwa sebuah kartu dapat dibeli dengan harga jutaan dolar dan kemudian dijual dengan nilai yang jauh lebih tinggi. Tetapi satu contoh keberhasilan tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh kartu Pokémon merupakan instrumen investasi yang menguntungkan.
Berbeda dengan saham yang merepresentasikan kepemilikan terhadap suatu perusahaan, kartu Pokémon tidak menghasilkan pendapatan secara berkala.
Kartu tersebut tidak membayar dividen.
Tidak menghasilkan bunga.
Tidak menghasilkan laba.
Nilainya muncul ketika ada orang lain yang bersedia membayar lebih tinggi untuk memilikinya.
Karena itu, kartu Pokémon lebih tepat dipahami sebagai aset koleksi dan aset spekulatif daripada instrumen investasi konvensional.
Nilainya dibangun oleh kombinasi antara kelangkaan, popularitas, sejarah, kondisi, nostalgia, dan yang paling penting: selera pasar.
Yang Mahal Bukan Kartunya, tetapi Cerita di Baliknya
Pada akhirnya, pertanyaan “kenapa orang rela membayar ratusan juta demi kartu Pokémon?” sebenarnya memiliki jawaban yang cukup sederhana.
Karena manusia tidak selalu membeli benda berdasarkan fungsi materialnya.
Kita membeli lukisan karena nilai seninya. Membeli barang antik karena sejarahnya. Membeli jersey karena keterikatan dengan pemain atau klub. Dan dalam kasus Pokémon, seseorang dapat membeli kartu karena karakter, kenangan masa kecil, kelangkaan, atau status yang melekat pada kartu tersebut.
Kartu Pikachu Illustrator Logan Paul adalah contoh paling ekstrem.
Secara material, benda tersebut tetap berupa kartu.
Namun, secara sosial dan budaya, kartu itu membawa sejarah hampir tiga dekade Pokémon, kelangkaan yang luar biasa, kondisi PSA 10, serta status sebagai salah satu kartu Pokémon paling terkenal di dunia.
Itulah yang membuat nilainya bisa mencapai ratusan miliar rupiah.
Tetapi ada satu hal yang perlu diingat.
Harga sebuah koleksi hanya bertahan selama masih ada orang yang menganggapnya berharga.
Ketika minat masyarakat berubah, tren bergeser, atau komunitas kehilangan ketertarikan, harga aset koleksi juga dapat ikut berubah.
Jadi, apakah kartu Pokémon bisa menghasilkan uang?
Bisa.
Apakah semua kartu Pokémon akan naik harga?
Belum tentu.
Dan apakah seseorang harus membeli kartu Pokémon hanya karena melihat orang lain mendapatkan keuntungan?
Mungkin justru pertanyaan terakhir itulah yang paling penting.
Sebab dalam dunia koleksi, batas antara hobi, investasi, dan spekulasi bisa menjadi sangat tipis.
