Konten dari Pengguna

Pendekatan Sama Orang Gitu-Gitu Aja? Coba Teknik Kupas Bawang

Victo Ramadhana Pogiya

Victo Ramadhana Pogiya

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang program studi Ilmu Komunikasi S1

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Victo Ramadhana Pogiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu bingung harus ngobrol apa saat ketemu orang baru? Mau basa-basi takut dianggap kepo, tapi kalau diam saja suasananya jadi kikuk. Nah, supaya obrolan tidak terasa kaku atau garing, kamu bisa coba teknik “kupas bawang”.

Tenang, ini bukan soal dapur. Teknik kupas bawang adalah cara sederhana untuk membangun percakapan dari topik ringan ke obrolan yang lebih dalam dan bermakna. Seperti mengupas bawang—kita mulai dari lapisan terluarnya dulu, baru perlahan masuk ke dalam inti.

Apa Itu Teknik Kupas Bawang?

Teknik ini berasal dari Teori Penetrasi Sosial yang dikembangkan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor. Teori ini menggambarkan komunikasi antar manusia layaknya mengupas sebuah bawang. Lapisan demi lapisan dibuka secara perlahan seiring meningkatnya rasa nyaman dan kepercayaan antar pembicara.

Jadi, bukan langsung tanya hal pribadi, tapi bertahap dari pertanyaan ringan sampai ke obrolan bermakna.

Langkah-langkah Teknik Kupas Bawang

1. Lapisan Luar – Obrolan Ringan

Mulailah dari hal-hal umum yang aman dan tidak terlalu pribadi. Tujuannya adalah mencairkan suasana.

Contoh pertanyaan:

“Asalnya dari mana, Mas/Mbak?”

“Sudah lama kerja di sini?”

“Tinggal di daerah mana?”

Ini adalah pintu masuk untuk membuat lawan bicara merasa nyaman tanpa merasa diinterogasi.

2. Lapisan Tengah – Topik Minat dan Pengalaman

Kalau lawan bicara sudah mulai terbuka, lanjutkan dengan pertanyaan yang sedikit lebih dalam, misalnya soal pengalaman atau pandangan pribadi.

Contoh pertanyaan:

“Kenapa tertarik kerja di bidang ini?”

“Apa hal paling menyenangkan dari pekerjaanmu?”

“Pernah ngalamin pengalaman seru di tempat kerja?”

Tahap ini bisa mempererat interaksi dan membuat obrolan terasa lebih akrab.

3. Lapisan Dalam – Hal yang Bermakna

Kalau suasana sudah benar-benar nyaman, barulah masuk ke obrolan yang lebih dalam dan emosional.

Contoh pertanyaan:

“Apa pelajaran hidup terbesar yang pernah kamu alami?”

“Keputusan paling sulit yang pernah kamu ambil apa?”

“Kalau sedang down, apa yang biasanya kamu lakukan untuk bangkit?”

Di tahap ini, percakapan sudah mulai menyentuh nilai-nilai pribadi, dan hubungan bisa terasa lebih bermakna.

Contoh Percakapan Kupas Bawang

Lia: “Asalnya dari mana, Mas?”

Victo: “Saya dari Solo, Mbak. Sudah tiga tahun tinggal di Jakarta.”

Lia: “Wah, jauh juga ya. Gimana rasanya tinggal di Jakarta?”

Victo: “Awalnya kaget, tapi lama-lama terbiasa. Apalagi kerjaannya cukup menantang.”

Lia: “Tantangannya seperti apa tuh, kalau boleh tahu?”

Victo: “Dulu saya pemalu banget, nggak berani ngomong di depan umum. Tapi karena tuntutan kerja, saya mulai belajar sedikit demi sedikit...”

Lihat bagaimana obrolan itu mengalir? Mulai dari pertanyaan ringan, hingga akhirnya menyentuh cerita pribadi. Semua berawal dari rasa nyaman.

PDKT dengan teknik kupas bawang

Kenapa Harus Coba Teknik Ini?

Karena nggak semua orang nyaman langsung diajak ngobrol soal hal pribadi. Teknik kupas bawang membantu kita membangun kepercayaan, menciptakan komunikasi yang alami, dan mempererat hubungan sosial.

Teknik ini bisa dipakai dalam berbagai situasi ngobrol dengan teman baru, rekan kerja, bahkan saat PDKT!

Kesimpulan

Teknik kupas bawang bukan soal menggali informasi sebanyak-banyaknya, tapi soal membangun kedekatan secara bertahap dan penuh empati. Mulai dari obrolan ringan, dan jika lawan bicara merasa nyaman, percakapan bisa berkembang menjadi lebih dalam dan berarti.

Yuk, mulai jadi pendengar yang lebih baik dan pembicara yang lebih hangat. Siapa tahu, dari obrolan sederhana bisa lahir koneksi yang luar biasa.